Kamis, 31 Juli 2025

.........Menulis adalah cara hati berbicara ketika mulut tak sanggup lagi berucap"........ 
==========================================================================================
" Rahasia Penjual Gorengan Tepi Jalan"

Menolong Korban Kecelakaan 

Medio bulan mei nan gersang, panas,langit biru jernih tanpa lukisan awan secarikpun, udara Banda aceh nan panas benar benar semakin pengap, karena memang geografis kota Banda aceh dekat dengan lautan semakin memarongkan suasana panas saat itu. Suasana panas semakin menyengat ketika sebuah dentuman terjadi, seorang bapak yang menyebrang terburu buru nyaris terpental ditabrak mobil dengan kecepatan tinggi, tubuhnya terhempas ke bahu jalan, tas yang dibawa terlepas dari tangannya, sedangkan penabrak langsung tancap gas kabur dengan kecepatan penuh, orang orang terperangah, kaget ,terkejut dan terkesima hingga terdiam ditempat sementara pak tua sudah berlumuran darah. Seorang anak muda penjual gorengan berlari dari sebrang jalan dan langsung mendekati korban sambil berteriak meminta tolong, tolong bang, tolong bapak itu ,berhentikan mobil, bawa ke rumah sakit, teriaknya meminta bantuan, orang orang yang tadinya  terkesima langsung tersadar  dan berusaha membantu pemuda itu, dia memberikan pertolongan dengan menotok  beberapa titik untuk menghentikan pendarahan, dan  berusaha tetap membuat korban tetap sadar, sementara mobil datang dan dengan kepala dipangkuan pemuda itu,sang korban di bawa ke rumah sakit ZA menuju ruang UGD.

Beberapa waktu beralu, Sementara si pemuda menunggu diluar ruangan untuk memberikan kesempatan dokter  memberikan pertolongan setelah anak muda itu juga membantu dokter memasangkan selang oxygent dan bantuan lain yang dibutuhkan , .Ketika akhirnya dokter keluar dan berbincang bincang dengan pemuda trsebut, yang tampaknya sangat akrab dengan dokter jaga, .Ji, ini siapa? Keluaragmu?. Engga tau , bang, bapak itu tertabrak di depan kios saya, lalu kami bersama sama membawanya kesini, jadi ,ente ga kenal? ,ya enga bang, baru liat juga, orang kecelakaan langsung bawa kesini, dia ada ketiggalan HP atau bawa keterngan lain, ji yang bisa ditemukan, sebb ini harus cepat oprasi, waduh, ga tau ana, bang, tapi ini sempat ngmbil tasnya tadi, jawab pemuda itu.  oh, ya udah coba buka aja, ji, mungkin ada kontak keluarganya,perintah dokter, pemuda itu langsung membuka tasnya dan betapa terperangahnya dia karena di dalam tas tersebut bergepok gepok uang bertumpuk bercampur darah.lalu dia mencari cari di bagian lain dari  tas itu sambil bergumam, untung sempat bawa tas ini,kalau engga ga tau nasib ni duit, dan ketika akhirnya ditemukan sebuah hp yang sudah hancur layarnya akibat benturan.

Karena dokter mendesak untuk melakukan oprasi maka pemuda itu dengan tanpa ragu menanda tangani surat pernyataan dan bersedia menanggung pembayaran rumah sakit setelah itu dia berbalik pulang kembali kekedainya yang dia tinggal kosong tanpa ada yang menjaga karena terburu buru menyelamatkan korban tabrak lari dalam kecelakaan itu. Beberapa hari kemudian pemuda itu kembali ke rumah sakit dan bertemu korban yang sudah sadar dan masih tertidur akibat anestesi, mengembalikan tas yang berisikan uang sambil meminta maaf karena baru mengembalikan tas beserta isinya. Istri pak tua itu tertegun ,tak menayangka tas suaminya yang berisi uang beserta barang berharga lainnya dapat kembai lagi kepadanya bahkan dalam keadaan di lakban coklat, betapa gembiranya hati istri pak tua tersebut dia dan suaminya berniat memberikan uang terimaksih pada  sang pemuda,namun pemuda menolaknya,  merasa kurang nyaman karena sudah merepotkan orang lain, maka istri si bapak memberikan seutas kalung pada pemuda tersebut namun dia juga menolaknya istri  si bapak bercerita, setelah suaminya membawa kalung untuk diprbaiki di tokonyadan di cat emas kembali, kalung tersebut milik  putri satu satunya, juga merupakan anak semata wayang keluarga itu, sibapak berniat menyetorkan uang hasil dagangannya ke Banak Aceh di sebrang kios sang pemuda namun malang tak dapat ditolak dia terserempet mobil dalam kecelakaan itu.

Dua kali penolakan bahkan uang pembayaran rumah sakit yang ditalanginyapun hampir ditolaknya,sedangkan kalung emas berbandul mutiara  tidak ditolak nya karena desakan dan paksaan istri pak tua tersebut, padahal dalam tas tersebut ada uang cash yang sangat banyak yang jika bukan pemuda jujur tentu sudah dimilikinya. Sambil berdoa istri pak tua menyalami sang pemuda dalam hatinya berucap semoga putrinya mendapatkan pasangan yang se jujur pemuda itu.

Bulanpun  berganti dan tahun juga bertukar, tahun ini terasa lebih cepat masuk musim hujan, hujan mulai menyejukan banda Aceh,semakin hari semakin intens dan musim hujanpun mewarnai hari hari  warga Banda Aceh. Sore itu, hujan bulan  oktober baru saja reda, masih turun sedikit gerimis. Jalan kecil di perempatan kampung basah mengilap, memantulkan cahaya lampu jalan. Asap tipis mengepul dari gerobak gorengan sederhana di sudut. Di balik gerobak itu, Aji, pemuda berperawakan sederhana dan berwajah tenang, sedang membalik tempe mendoan di wajan berisi minyak panas. Tangannya cekatan, tapi matanya sesekali melamun, seperti ada sesuatu yang berat di pikirannya.Bagi warga sekitar, Aji hanyalah “Abang Gorengan” yang ramah. Tak ada yang tahu, di balik apron berminyak dan aroma pisang goreng itu, Aji sebenarnya adalah mahasiswa kedokteran yang baru saja menyelesaikan kuliah kliniknya. Dia sedang menunggu waktu wisuda, tapi juga mahasiswa perantau dari pulau sebrang yang haus akan pengalaman dan ilmu hingga terhenti langkahnya di Aceh untuk mengikuti kuliah.

Dagangan ini bukan sekadar usaha kecil, melainkan cara Aji menutup rasa galau dan mengalihkan pikirannya dari kenyataan pahit semasa SMA dimana putusnya jalinan cinta yang dibina dua tahun bersama Sam, gadis satu kelas yang sering menjadi pasanganya sebagai utusan sekolah di banyak lomba dan olimpiade antar sekolah dan daerah,Sam  akhirnya memilih menikah dengan kaka kelas mereka dan menjauhi aji menjelang akhir perpisahan sekolah.Selama enam tahun kuliah dia hanya fokus kuliah sambil menata hatinya yang masih terasa masih begitu luka walau enam tahun telah terlewati di Banda Aceh. Di Jakarta, semasa SMA setelah keluar dari pesantren, aji sebenarnya sudah memiliki usaha dengan beberapa toko, tetapi menjeang keberangkatanya ke aceh karena lulus  UMPTN tahun itu, toko tokonya di kosongkan dan dia menyewakanya pada pedagang lain serta berkeras untuk merantau jauh dengan alasan supaya mudah lulus karena di Jakarta begitu beratnya persaingan masuk fakultas kedokteran apalagi universitas negri. Dan alasanya semakin kuat karena namanya tertera sebagai calon mahasiswa yang lulus di fakultas tersebut,hingga terdamparlah aji di kota Banda Aceh ini.

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, datanglah Safa. Gadis berkulit putih bersih, jilbab warna pink nan lembut, dan senyum yang bisa membuat siapa saja melupakan penatnya hari. Dia memegang tas belanja kecil, dan berhenti di depan gerobak Aji."Bang, pisang gorengnya masih hangat, kan?" tanyanya, suaranya lembut tapi penuh semangat. Aji  menoleh. Sejenak dia terpaku—bukan karena wajah cantik itu, tapi karena ada sesuatu di mata Safa yang terasa… jujur.fikiranya melayang jauh ke masa tahun 1996 akhir masa  SMA dan gadis itu, mirip tetapi berbeda.... Dia buru-buru menjawab,

"Hangat sekali, Ka,. Baru diangkat." Safa tersenyum sambil meraih gorengan yang dibungkus kertas minyak. Saat itu, Aji merasa ada sedikit hangat lain yang merambat, bukan dari wajan, tapi dari detak jantungnya. Karena hujan mulai kembali deras , si gadis tak lama berbelanja, ubi goreng, risol,pisang goreng bahkan uli horeng khas beta wjuga dibelinya, dan dimasa depn makanan ini menjadi media pengikat mereka  berdua, dua budaya dan adat yang jauh bertemu di sepotong uli gorengn dan secangkir bandrek hangat di musim hujan bulan oktober.seperti juga sore itu, Hujan sore itu turun rintik-rintik, seperti jarum-jarum halus yang menusuk udara dingin. Di sebuah warung kecil di pinggir jalan, asap dari tungku kayu bakar mengepul, membawa aroma jahe, kayu manis, dan gula aren yang menguar memenuhi ruangan. Meja-meja kayu sederhana penuh goresan waktu, dan di sudutnya, ada kursi kosong yang selalu ia duduki setiap datang ke kios ini. Safa menyingkirkan tudung jas hujannya, menggantungnya di dekat pintu. Matanya langsung mencari ke arah dapur terbuka, dan di sanalah dia—Aji—si pemilik kedai, tersenyum hangat sambil mengaduk rebusan bandrek. Wajahnya memerah terkena uap panas, rambutnya sedikit berantakan, tapi entah kenapa, di mata safa itu justru sempurna. “Seperti biasa?” tanya Aji, suaranya lembut bercampur aroma manis dari panci. “Seperti biasa. Tapi… kali ini manisnya sedikit lebih banyak,” jawab  safa, separuh bercanda. Aji terkekeh, lalu menambahkan sedikit gula aren lebih dari takaran biasa. Sementara bandrek itu menggelembung,  safa duduk dan mengamati setiap gerakannya—cara tangannya memegang sendok kayu, caranya meniup uap panas, bahkan tatapannya yang fokus seolah bandrek itu adalah sesuatu yang harus disempurnakan, seperti hatinya yang mungkin diam-diam ia jaga untuk seseorang.

Sore-sore yang Berulang

Hari-hari berikutnya, Safa sering datang kekedai Aji. Kadang membeli bakwan, kadang tempe mendoan, kadang hanya duduk di bangku kecil di samping gerobak sambil menikmati bandrek hangat yang Aji sediakan.

"Bang Aji ini selalu kelihatan sibuk, ya," kata Safa suatu sore.

"Kalau nggak sibuk, nanti kepikiran hal-hal yang nggak perlu," jawab Aji sambil tersenyum tipis.Safa  menatapnya sebentar, seolah ingin bertanya lebih jauh, tapi urung. Ada sesuatu di balik senyum Aji yang ia rasa bukan sekadar lelah bekerja.Sejak sore itu, safa mulai sering membantu. Dia membungkus gorengan, menyeduh bandrek, dan kadang ikut tertawa kecil saat pembeli bercanda. Hubungan mereka tak lagi sekadar penjual dan pelanggan, tapi juga dua orang yang saling mengerti.

Suatu malam hujan deras, pembeli sepi. Safa datang membawa jas hujan, wajahnya basah oleh rintik air."Kenapa nekat ke sini?" tanya Aji sambil memberinya handuk kecil. "Aku cuma nggak mau kamu sendirian di tengah hujan," jawab safa, tersenyum. Detik itu, Aji merasakan ada yang berubah. Bukan hanya sekadar rasa nyaman—ini lebih dalam. Hari-hari berikutnya, percakapan mereka semakin hangat. Dari obrolan ringan soal cuaca, hobi, hingga saling bertukar cerita tentang mimpi masing-masing. safa bercerita ingin menjadi penulis dan tinggal di rumahdi desa yang teduh dan damai dengann kebun,ternak kecil dan dekat dengan musholat. aji hanya tersenyum, tak pernah mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Di tengah suara hujan dan aroma mendoan, Aji merasakan hatinya hangat. Lebih hangat dari bandrek yang ia seduh.Seiring dengan berlalunya hari,kedekatan mereka semakin intens, safa selalu datang ke kosan aji yang berada di pinggiran kota untuk membantunya berbelanja bahan dagangan bersama kepasar lambaro setiap pagi naik motor ASTUTI ( Astrea tujuh tiga/1973 ) merah miik aji yang biasa dibawanya jualan dan ke kampus sejak enam tahun lalu, motor tua ini walaupun sering mogok tetapi setia menjadi kendaraan oprasional aji sehari hari, dan aji PD saja ketika ke kampus membawa kendaraan kesayanganya ini, diletakan berbaris bersama mobil mobil mewah teman teman se fakultasnya, aji merasa begitu PD dan sama sekali tak minder,walau banyak teman temannya yang menyindir dan mentertawakanya diam diam J. Begitulah kedekatan dan keakraban mereka berdua,sederhana,ceria dan penuh semangat jiwa muda yang selalu membara.

Suatu malam  hujan nan deras,sambil tersenyum  aji menuis sebait perasaanya dalam ungkapan puisi:

Gadis Berhijab Merah Muda

Di bawah langit kelabu sore itu,

hujan gerimis menari lembut di udara.

Kau datang—entah dari mana,

membawa senyum yang hangatnya

melampaui secangkir bandek jahe di musim hujan.

Jilbab merah muda itu…

membingkai wajahmu bagai fajar yang malu-malu.

Matamu menyimpan rahasia,

sementara hatiku sibuk bertanya:

siapakah gerangan adinda

yang Tuhan titipkan di antara rinai ini,

menjadikan gerimis saksi pertemuan pertama kita?

Suatu sore yang dingin setelah hujan mengguyur banda aceh semalaman dan belum berhenti dengan rintiknya sampai sore hari, Aji dan safa sedang melayani pembeli, tiba tiba didepan kios Aji berhenti sebuah mobil sedan mewah,diiringi suara gaduh gadis gadis turun dari mobil itu sambil bercengkrama dan tertawa riang masuk ke kios gorengan aji dengan wajah wajah sumringah, wangi harum dari gadis gadis kampus yang merupakan teman teman kuliah aji,dan menyapa Aji, Ga sangka  key ,ji, udah mau ribed ribed jualan beginian segala,, ya iya lah, sahut teman wanita yang lain, si aji kalau ga julan mana bisa jajan, ha ha aha, semua tertawa,  mereka bercanda sesamanya, sambil duduk dan minum bandrek tanpa menghiraukan safa yang terbengong melihat mereka begitu akrab dan sesekali menyentuh aji dengan bebasnya, sementara aji terdiam dan merasa tak enak pada safa, sampai seorang cewek berkata, Ji, ini siapa? Cewe key yah?,sambil memandang ke arah safa yang terpana. Wah, ga nyangka  key, ji, diem diem, pantesan selama ini mengabaikan aku. Begitulah candaan dan tawa mereka, sementara aji diam sambil terus menggoreng.ketika akhirnya teman teman aji naik kembali ke mobil dan pulang, safa terlihat sangat sedih, wajahnya memerah dan dia terdiam, sementara aji masih terus menggoreng, ketika melihat ke arah safa, safa berlaping muka dan berjalan keluar kios aji dan menjauh dengan sepeda motornya, semenara aji memanggil,manggil, safa, safa, mau kemana, masih hujan, tetapi yang dipanggil terus berlalu dengan cepat dan menyebrang jalan.karena kedai aji sedang ramai pembeli, dia tak dapat meninggalkan kedainya untuk mengejar safa. Gadis itu berlalu ditelan hujan yang semakin deras.

Sejak hari itu, safa tak pernah lagi terlihat dikedai gorengan aji, tetapi aji masih berfikiran positif ,ah ,mungkin dia sibuk, sementara WA yang dia kirimkan sejak kemarin malam tak satupun dibaca aplagi di balas semuanya masih centang satu. Ajipun sibuk dengan aktifitasnya yang padat dengan berbelanja dan berjualan dikedainya sambil selalu melihat ujung jalan dimana safa biasanya muncul, semua WAnya tak ada satupun yang dibalas,sedangkan untuk datang ke rumah safa, aji merasa segan karena selain belum pernah berkunjung juga tak mengenal orang dari kampung sebelah tersebut.ditempat kostnya aji tinggal bersama beberapa temannya yang juga sesama pedagang gorengan, sebab itu ketika safa berkunjung ke rumahnya untuk pertama kali, di depan rumah panggung tua berdinding kayu itu ada beberapa gerobak gorengan yang merupakan milik aji dan teman temannya sesama pedagang yang satu profesi.

Sementara, sejak kejadian sore hujan itu, safa tiba di rumah dengan basah basahan karena hujan airmatanya deras mengalir bersamaan dengan air hujan yang membasahi pipi putihnya, matanya memerah,hatinya sakit dan terluka, dia merasa selama ini aji hanya memanggapnya sahabat dan gadis gadis kampus itu jauh lebih baik darn pantas buat aji daripada dirinya yang hanya tamatan SMA,hatinya sedik dan terluka, sejak sore itu dia mematikan Hpnya dan menukar nomernya, cintanya kandas bersamaan dengan air hujan yang jatuh kebumi.

Sejak saat itu hari hari safa menjadi kelabu dan dia tak berniat untuk datang lagi ke kedai gorengan aji ia tak mau menghubunginya,setiap hari mengurung diri dikamarnya selalu bersedih, hari harinya menjadi kelabu dan yang dia raskan tempat paling nyaman hanyalah tidur dan termenung dikamarnya sambil mengingat momen momen manis nan sedehana bersama aji yang saat ini mungkin sudah bersama satu diantara gadis gadis modis anak orang kaya tersebut. Ayah safa yang merasakan perbuahan anak gadisnya merasa kasihan dan menyangka safa sakit ,tetapi beberapa kali membawanya ke dokter tak ada satupun penyakit yang terdeteksi, sementara dari hari ke hari wajah cerianya semakin tirus dan bersamaan dengan harafannya yang semakin pupus,suatu sore setelah ashar,ayahnya membawa seorang ustadz yang diminta untuk meruqiyah safa, mungkin ada ghaib yang menggangunya hingga kesehatan pisik dan jiwanya terguncang,beberapa kali ustadz dan tengku didatangkan untuk merukiyahnya tetapi sama sekali tak ada perubahan, wajahnya semakin tirus dan tuguhnya semakin kurus karena tak selalu mau makan,ketika kunjungan ustadz yang kesekian kalinya beliau memahami bahwa inilah yang oleh orang di kamoungnya  disebut sakit angau dan tentu tak ada obatnya selain dipertemukan, ustadz menyarangakan untuk menanyakan perlahan lahan siapa orang yang diam diam sudah mengisi hatinya, jika dapat tentu akan diusahakan untuk dipertemukan, dan tugas menanyakan itu diserahkan padaaibunya safa.

Sementara itu sudah tiga bulan ini Aji juga uring uringan, jarang dagang dan selalu termenung sampai beberapa hari bahkan minggu tak terlihat di kostnya hingga teman temannya dimushola mendatangi kostnya sementara aji tak ada.

Walaupun aji sibuk di kampusnya dengan persiapan wisuda dan jualan secara bergatian dengan temannya, dia selalu ada dalam jamaah subuh dan beberapa kesempatan sholat maghrib dan isya,dia juga selalu ada dipengajian remaja di tempatnya kost serta dekat dengan ustadz yang mengajar ngaji  fiqh malam sabtu dan malam rabu dimushola kampung tempat dia tinggal, kadang jika ustad tak datang ajilah yang mengimami sholat hingga aji dekat dengan pemuka kampung baik Pa lorong maupun pa kecik dan beberapa tuhapeut. Kalau ada gotong royong ataupun kegiatan kampung aji selalu ada dan dia juga menjadi donatur dan penyumbang tetap semua acara termasuk zikir jumat pagi dan  wirid yasin malam jumat,juga pengajian pengajian mingguan remaja dan orang tua ,aji selalu tak melewatkan berderma, orang kampung taunya, anak rantau ini pemuda soleh yang dermawan,mungkin karena dia pedagang dan masih bujangan  jadi selalu megang uang.

Beberapa bulan telah berlalu sementara sama sekali aji tak mendapatkan kabar tentang safa, hingga disuat sore  hujan nan rintik dia menerima secarik surat yang dibawa seorang gadis kecil  sambil mengakatan ini dari Ka” Safa.  


Aji menerima Secarik kertas nan harum dilapisi amplop merah muda yang cantik,sambil tanagnya bergetar membuka sampulnya dan dengan cepat membacanya, ada harapan untuk kembali lagi bersama sama di hari hari nan ceria,inilah isi surat itu:

Kepada kamu, yang pernah kucintai dengan seluruh hatiku,

Maafkan aku jika surat ini menjadi cara terakhir kita berbicara. Aku menulisnya dengan tangan yang gemetar, karena setiap kata terasa seperti duri yang menusuk hatiku sendiri. Aku pernah berjanji untuk berjalan di sisimu, melewati hujan dan terik bersama-sama. Aku pernah membayangkan kita menua di beranda rumah sambil tertawa mengenang masa muda. Tapi hari ini, aku harus mengakui bahwa impian itu tak lagi bisa kugenggam.

Orang tuaku sudah memutuskan. Mereka memilihkan seseorang untuk menjadi pendamping hidupku, dan aku… aku tak punya kekuatan untuk menolak. Aku mencoba, sungguh mencoba, tapi air mata ibuku dan nada tegas ayahku membuatku terdiam. Mereka bilang ini demi masa depan, demi keluarga, demi nama baik. Dan aku—meski hatiku berontak—harus tunduk. Aku tahu ini akan melukai kita berdua. Aku tahu kau akan merasa dikhianati. Tapi percayalah, tak ada satu pun dari ini yang lahir dari keinginanku. Seandainya cinta saja cukup untuk melawan takdir, aku akan berlari kembali ke pelukanmu tanpa ragu.

Terima kasih karena pernah menjadi rumah bagi hatiku. Terima kasih untuk semua senyum dan doa yang tak pernah putus. Simpanlah kenangan kita di tempat yang aman, seperti aku akan menyimpannya di sudut hati yang tak akan pernah dijangkau oleh siapa pun. Jika suatu hari kita bertemu lagi, tolong tatap aku dengan senyum. Biar aku tahu, meski kita tak lagi bersama, kita pernah saling membahagiakan.

Selamat tinggal, kekasihku.

Cintaku akan selalu ada—hanya saja, kini tak bisa lagi aku wujudkan.

— Aku, yang tak pernah ingin pergi

Tangan aji gemetar dan suratpun terjatuh menyentuh adonan tepung, masuk kedalam adonan bakwan meresapkan rasa gurih adonan bakwan dan tahu goreng membuat sang risalah basah dan sedikit terkoyak, hatinya bergemuruh ,dua kali sudah cintanya kandas, belum kering luka lama, kini bagaikan sembilu yang mengiris luka menorehkan luka lain yang lebih sakit. Dia terdiam, matanya terpejam nafasnya tersengal, dan,.... gorenganpun hangus tanpa sadar,karena nyala kompor yang tak terkontrol.Air matanya meleleh dadanya sakit dan dia tersenyum getir, Tawaqaltu Ala Allah.....fawaidu amri ila Allah.....

Hari hari aji semakin sumpek, dagangan tak terurus,mirip dengan tahun 1995 akhir ketika harapanya juga kandas bersama gadis cantik, nan jauh di sebrang dibelantara jakarta.hari harinya diisi dengan banyak di mesjid, bersholawat dan berzikir, diapun banyak pergi ke kampus menghilangkan gundah hatinya, di taman depan pustaka kampusnya dia duduk sendirian merangkai kata, menulis doa dan melantunkan harapan bersamaan dengan sholawat nabi, memohon keteguhan hati dari betapa beratnya kisah hidup anak rantau yang terlunta lunta sendirian dibelantara cinta.....

Hujan semakin deras,Aji membuka tutup termos yang berisikan bandrek buatanya,dia teringat saat hujan begini kala dia bersama safa berjalan bersama di bawah payung hitam sambil menenteng setermos kecil bandrek, ingatan itu membawanya terbang jauh, sambil bergumam;” hujaaan, jikolah hujan ahti den ibo, mengenang maso,kisah nan lamo, kisah sepayung kito baduo, hujaaaan, manjadi saksi putusnyo cinto, suratan takdir Tuhan kuaso.....hujaaaan.......

Petang  ini, .bersamaan derai hjan yang membahasahi kampus, ....hatiku seperti laut yang kehilangan ombaknya. Sepi, datar, dan dingin. Kau pergi tanpa sempat kupegang lebih lama, meninggalkan jejak yang tak akan pernah pudar di langkah-langkah hidupku.Aku duduk sendiri di beranda, memandang langit yang kelabu. Di kepalaku, kenangan kita berputar seperti film lama—tawa kita saat hujan turun, genggaman tangan di sore yang hangat, tatapan matamu yang selalu membuat dunia terasa sederhana. Semua itu kini hanya jadi lukisan di dinding hatiku, yang tak lagi bisa kusentuh. Hidup tanpa cinta darimu terasa seperti taman tak berbunga—daunnya masih ada, tapi warnanya pudar. Hanya angin yang lewat, membawa debu, tanpa harum bunga yang pernah mengisi hari-hariku.Di sela sesak ini, bibirku bergetar mengucap,

“Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.”

Sholawat itu mengalir, mencoba meredakan luka yang menganga. Aku tahu, hanya dengan mengingat-Nya dan Rasul-Nya, hati yang retak bisa kembali utuh. Aku berdoa, semoga langkahmu di jalan yang baru selalu diberkahi. Semoga hatimu tenang di tempat yang kau pilih, meski bukan di sisiku. Dan semoga aku diberi kekuatan untuk menerima takdir ini dengan lapang. Jika rindu ini suatu hari menyesakkan lagi, biarlah aku mengobatinya dengan doa, mengirimkannya ke langit malam bersama sholawat, berharap Tuhan menyampaikan pada hatimu bahwa di sini… ada seseorang yang pernah mencintaimu dengan sepenuh jiwa, dan masih mendoakanmu meski kita tak lagi bersama.

Allahuma sholo ala haja nabiyil karim, sayidina muhamadin wa ala alihi wa sohbihi ajhmain.

Hujanpun turun sekamin deras, rintiknya membasahi taman depan pustaka, airnya menggenagi selokan kecil, mahasiswa dan mahasiswi berhamburan mencari tempat berteduh dan ajipun berlalu kedalam mushola menanti panggila ajhan maghrib di sore nan keabu...

Berberapa hari sebelum itu, kedua orangtua safa sudah bersetuju untuk menjodohkannya pada seorang pemuda kenalan ustad, juga murid beliau,yang ustad menilainya pantas untuk seorang gadis anak pemuka masyarakat dan keturunan bangsawan aceh, setelah duduk mufakat dan berunding,ustadz berjani akan mengabarkan kepada keluarga Tgk Haji Hasan Leumik yang merupakan saudagar emas dari jaman dulu dulu tentang perjodohan anak gadisnya itu.sekeluarga percaya dengan pemuda yang dijodohkan lewat ustadz karena ustadz mengenal baik pemuda tersebut walau bukan keturunan aceh tetapi Teungku haji hasan leumik begitu terperangah ketika melihat fhoto sang pemuda dan langsung menyetujui perjodohan itu, nafasnya tersedak, wajahnya memerah dan airmatanya mengair, Ya Allah, Engau rupanya mengabulkan munajat dan do’a do’a hambamu yang lemah ini,akhirnya beliau menganggap do’a do’anya selama ini terjawab sudah, untuk mencari menantu yang jujur karena ternyata dari obrolan ustad dan teungku beiau tau bahwa pemuda inilah yang dicari selama beberapa tahun ini, yang menghilang begitu saja setelah menyelamatnkanya dan megembalikan tas berisikan uang ratusan juta , karena  sangat besar kemungkinannya merupakan pemuda  yang meyelamatkannya beberapa waktu lalu ketika beliau mengalami kecelakaan di depan Bank Aceh saat ingin menyebrang jalan.hari itu dimana sang pemuda datang, teungku haji hasan leumik sempat menitipkan kalung berliontin mutiara dengan ukiran tanda keluarga besar mereka sebagai kenang kenangan pada pemuda tersebut karena sudah berjasa besar pada dirinya tetapi juga menolak pemberianya berupa uang tunai.Hnaya kalung tersebutlah yang sempat dititipkan untuknya kepada istrinya ketika pemuda itu datang sedangkan beliau masih tertidur lagi karena pengaruh anastesi pada oprasi kedua.



Sehabis sholat isya dan pengajian mingguan malam sabtu, ustadz teungku tarmizi mendekati aji dan mengajaknya keluar meunasah serta mengajak ngobrol panjang kali lebar kali tinggi, teungku bertanya tentang kuliah aji , tentang usahanya dan tentang masa depannya, , ya alhamdulilah teungku dua minggu lagi akan wisuda dan saya mungkin aakn PTT guna menyelesaikan tugas wajib seorang dokter di awal kariernya, sedangkan julan seama ini sudah macet tengku, klau saya pribadi, itu teman yang anjutkan, saya stop dulu, jawab aji.
Teungku melanjutkan: “ apa yang menyebabkan macet?,lalu aji menceritakan masaahnya pada teungku dengan rinci, sampai teungku tertawa,ya udah tak usah difikirkan,begini, ji, Ulon ada kenalan jamaah di kamoung lain, yang sedang mencari menantu, apakah kamu bersedia menikah dengan anak gadisnya? Jika  droen bersedia, ulon sungguh bergembira, karena selain anaknya juga baik agamanya, orangnya cantik, orang aceh memang rata rata cantik kan? Sambil menepuk bahu aji , tengku tersenyum, , Aji menjawab, teungku, selama ini , saya sudah dua kali gagal dalam hal ini, saya rasa, anak gadis ketiga pun jika dapat unjungnya nantiakan menmbah luka hati saya, sebaiknya tawaqal ala Allah, saya terima nasehat dan saran tengku untuk menikah dengan gadis itu, alhamdulilah hirobil alamin, tengku berucap dengan rasa syukur, apakah drone mau melihat fhotonya dulu, ji?tanya tengku,  Tidak usah tengku , saya percaya dengan tengku, tengku tersenyum dan menyalami aji,lalu berkata, maksud baik tak boleh ditunda tunda, ji,jika sudah mantap insya Alah malam ini drone istihoroh dan memohon pada Allah semakin dimantapkan hati, tiga hari lagi, insya Allah ulon dateng ke rumah drone, nnati kita persiapkan bawaan untik acara lamaran, oh,iya ,aji, bukan masud tengku menyepelekan drone, jika ada yang kurang tengku bersedia membantu finan sial untuk acara ini, aji menjawab dengan tersenyum:’ tak usah tengku, terimakasih ,saya ada tabungan dan bersedia, Cuma mau bertanya tengku, ini sebaiknya berapa maharnya?sebab tengku bilang ini anak keturunan bangsawan? Tengku berkata, jika ampu 10 mayam sudah cukup, ji, mereka tak mengharapkan banyak darimu, karena seain orang berada, Abunya juga sangat mengenal mu, dan beliau berharap drone lah yang menjadi menantunya, Aji terperangah mendengar ucapan teungku dan berkata: “mengenal saya,? Apakah beliau salah satu jamaah di mesjid atau mushola kita, teungku?  atau dosen saya atau kerabat mereka? Bukan, bukan ji, beliau mesti mengenalmu dan kamu juga mengenalnya, nanti lah, berdo’asaja, kalau maksud baik dan ada jodoh, insya Allah berkah selalu ada.Percakapan pun ditutup dengan janji untuk bertemu di rumah aji guna menyiapkan barang bawaan sekalian melangsungkan pernikahan dua minggu lagi.

Malam itu, aji masih mengingat safa dan berkata, safa,...... mungkin kita tak berjodoh, saat ini akan ada gadis lain yang akan bersemayam dalam hatiku, dan kamu juga dalam waktu dekat akan ada yang meminangmu, dengan kehendak yang maha kuasa, semoga dirimu tak mengingat lagi pertemua kita nan sebentar, bukannya perpisahan yang ku tangisi, tetapi mengapa ada pertemuan yang berujung sakit,....sampai disini kisah kita dan selanjutnya kita tak boleh saling mengingat kembali, karena menjaga perasaan pasangan kita masing masing dan anggap saja hanya mimpi disiang hari seakan tak pernah terjadi, mari kita isi hidup kita maisng masing dengan tujuan yang lebih luhur. Malampun larut dan aji tertidur dengan damai malam itu sementara tasbeh digital masih bertengger dijarinya mengiringi bacaan shoolawat yang ke 997 malam itu..

Jam berganti, siang dan malam bertukar mengikuti kehendak Ilahi, seiring dengan bergantinya waktu Hari yang ditentukanpun tiba.....pagi itu dirumah teungku tarmizi sudah banyak orang tua tua, Tuha peut dan para pemuda berkumpul untuk Intat linto, mengiringi calon pengantin pria menuju rumah calon pengantin wanita atau dara baro.tiga mobil bak pickup penuh dengan barang hantaran dan satu mobil Paero terbaru dihiasi bunga bunga didepanya siap mengantar linto baro menuju rumah dara baro untuk melakukan izab qobul dan sekaligus resepsi pernikahan sementara dua bus dan beberapa mobil lainnya mengiringi dibelakang, teman teman aji, dari tempatnya tinggal bersama dengan para pemuda dan kaum ibu serta gadis gadis juga ikut mengatra walaupun sebagian dari gadis gadis itu menyesalkan peristiwa ini karena berharap diri mereka masing masinglah yang akan duduk dipelaminan bersama aji.tetapi Tuhan dsudah mengatur jodoh kita masing masing dan hari patah hati sekampung pun berlalu sembari berlalunya mobil pengantin meninggalkan kampung aji menuju rumah dara baro.

Di hari yang sama, terlihat kesibukan di rumah teungku haji hasan leumik, kesibukan luarbiasa sejak tiga hari lalu, seluruh pemuda, perangkat desa hadir untuk ikut bantu bantu mensukseskan walilaatul urus pernikahan putri beliau satu satunya, Safana nurul qolbi, yang menjadi bunga desa di kampungnya, cantik jelita,puth kuning kulitnya, hidung mancung keturunan Eropa Arab, penuh sopan santun dan mahasiswi di UIN Banda Aceh .Walaupun masih semester enam tetapi kedua orangtuanya menjodohkan dan menikahkannya pada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya sama sekali, hanya percaya pada orangtuanya sebagai bakti yang tak bisa digantikan, anak gadis yang solehah dambaan dan harapan kedua orangtuanya.Dua ekor sapi sudah di potong dan dimasak dalam belanga besar,Seratusan ekor ayam, berbagai jenis lauk pauk bahkan kue kue khas aceh seperti serabi, kue lapis, ketan kuah dan juga banyak lagi termasuk minuman dan buah buahan  yang terhidang begitu banyak,pelaminan megah berdiri di bawah tenda ber AC,menandakan rasa syukur yang mendalam hari ini menikahkan anak gadis satu satunya pelanjut keturunan haji hasan leumik pemuka masyarakat dan pedagang emas di pasar Aceh. Sementara  majlis tempat diadakannya ijab qobulpernikahan ditematkan di tengah ruangan dalam rumah nan megah dihiasi dengan kaligrafi bernuansa pinto aceh nan megah.Puncak acara adalah hari ini dimana akan dilaksanakan ijab qobul pernikahan untuk mengikat dua remaja yang dijodohkan tanpa pernah saling mengenal sebelumnya.Sesaat setelah mobil penganten tiba, perwakila sohibul hajat yaitu sohibul baik menyambut rombongan dan kedua pak keucik dari dua desa saling bersalaman dan ramah tamah, sementara calon pengantin pria yang terlihat gaagh, tenang dan penuh pancaran ketaqwaaan  duduk didepan penghulu, rangkaian acarapun dimulai dari mulai membaca ayat ayat suci al quran sampai dengan sambutan  para teungku imam dari dua desa, dan acara  puncakpun dimulailah dengan ucapan istighfar dan penghulu melakukan izab qobul:” saudara Muhamad Aji bin haji suibah, saya nikahkan anda dengan Cut Safanah Nurul Qolbi binti haji Hasan Leumik dengan mas kawin sepuluh mayam emas dibayar tunai,.... sekali ucap sekali tarikan nafas tanpa jeda, pengantin pria menyambut ucapan penghulu dengan sangat yaqin, dan ketika penghulu bertanya, bagaimana saksi? Sah? Semua orang termasuk saksi mengatakan SAH. Alhamdulilah, hadirin berucap bersama dan acara ditutup dengan do'a yang dipimpin teungku imum kampung pengantin wanita. 

Ketika acara izab qobul selesai, seorang gadis dituntun keluar ruangan yang merupakan remaja wanita yang baru saja sah menjadi seorang istri dari pria di depannya,Dengan jalan perlahan dan wajah tertunduk malu malu, sang pengantin wanita di dudukan di samping suaminya, saat itu mata pengatin wanita  terbelalak nyaris kluar dari tempatnya karena saking terkejutnya dan wajahnya memerah tanpa sengaja dia berucap” bang Aji?pengantin priapun tersentak ketika namanya disebut oleh  suara yang tak asing lagi dialah saat ini istri yang baru dinikahinya, dia tersenyum lebar sambil berkata, Safa,... senyumnya makin melebar saat menyebut nama istrinya berkali kali, para hadirin tersenyum dan banyak yang bergurau, wah, udah saling kenal rupanya, sebab selama ini informasinya sang pengantin tidak pernah bertemu sebelumnya ternyata sudah saling mengenal, safa menjuurkan tanagnnya untuk mencium tangan aji, dengan enuh kasih sayang aji mengulurkan tanagnnya dan memakaikan cincin kepada istrinya.

Wajah keduanya tak pernah lepas dari senyum dan bergandengan tangan menuju pelaminan, setelah bersalaman dengan orangtuapengantin, sementara kedua orangtua aji tak satupun yang datang dari kota besar nun jauh disana, tetapi teman teman dan para sahabatnya termasuk tengku tarmizi sekeluarga hadir memberikan do’a restu untuk keduanya, banyak tamu pengantar pengatin pria dan acaramakan pun berlangsung dengan penuh rasa syukur sementara aji dan safa masih tak percaya denganpertemuan dan rencana yang allah swt takdirkan untuk mereka berdua, senyuman keduanya tak pernah lepas dari mereka. Safa tak melepaskan tangan aji sedtetikpun dan berbisik, nanti tolong kaish au kenapa bisa jadi begini, ajipun tersenyum dan berkata, sudah taqdir jodoh kita berdua......keduanya bersatu dalam ikatan cinta yang tak pernah mereka duga dan kebahagiaan luarbiasa bagi keduanya, 

Dikamar pengantin

Jam lima sore semua tamu undangan sudah pulang, hanya kerabat dekat dan para Tetangga yang masih berada di rumah sohibul hajat untuk membantu merapikan dan membereskan semua perlengkapan acara yang baru saja berlangsung, makanan makana di dapurpun masih sangat banyak, ibu keucik membagikan makanan makanan untuk para tetangga kerabat dan sanak family yang datang membantu, juga bahan bahan mentah masih banyak tersisa di dapur, para tetua berkumpul diruang depan sambil berbidara dan mengatur naak muda untuk membereskan tenda korsi dan pemalinan, sementara itu di kamar pengantin, yang masih beraroma melati, Safanah duduk di ranjang berhias. Aji, suaminya yang kini resmi menjadi linto baro, duduk di tepinya.

Wajah keduanya selalu tersenyum sumringah dan ketika pintu kamar ditutup,aji mencium kening safa sambil mengucapkan beberapa do’a, aji berucapk, ade, tidak sangka akan jadi begini, tetapi sebelum semuanya , abang mau mbemberikan ini, atas saran dari orang yang memberikannya pada abang, aji mengfeluarkan kalung berliontin mutiara dan menyerahkanya pada safa, safa melihat dengan penuh kekajuban sambil berkata, dari mana abang mendapatkan kalung ini? Aji menjawab ini diberikan seseorang yang pernah ku tolong ketika kecelakaan lalulintas beberapa tahun lalu, Malam itu, dengan suara lirih, ia mulai bercerita.:Beberapa tahun lalu, saat abu kecelakaan, ada uang ratusan juta terjatuh di jalan. Aku yang menemukannya… aku kembalikan semuanya. Abu bilang, itu bukan hanya menyelamatkan hartanya, tapi juga martabatnya.dan karena saat itu abu tertidur, atas perintah abu, umi menyerahkan kalung ini,Abu bilang… sejak hari itu, dia sudah menganggapku seperti anak sendiri. Mahar sepuluh mayam itu bukan karena aku tak mampu, tapi karena abu ingin semua sederhana, tanpa beban… supaya kita memulai rumah tangga ini dengan ringan. Beliaulah abu kamu, safa terpana mendengar cerita itu, airmatanya berurai karena dia sudah mendengar langsung bahwa kalungnya yang satu lagi ( karena ada sepasang )sudah abunya berikan kepada seorang pemuda yang pernah menolongnya dan menembalikan ratusan juta uangnya bahkan tak mau menerima kembali uangnya yang telah dia bayaran untuk jaminan oprasi abunya waktu kecelakaan dulu.Safa menangis sesegukan dan memeluk suaminya eratterisak. sore itu, ia mengerti bahwa cinta abunya pada menantu ini lebih dalam daripada yang bisa dilihat oleh mata orang kampung, dia tak dapat berucap apapun selain rasa syukur yang mendalam dipetemukan dan Dapat bersuamikan seorang yang sangat jujur, keduanya menangis haru dan sambil saling memeluk menguatkan, kedua pengatin baru itu begitu bersyukur karena disatukan diatas pondasi kejujuran, lalu keduanya saling berpegang tangan dan ajipun memceritakan kisanya hingga dia dapat menikah dengan safa dan menjadi suaminya saat ini..

Desas desus tetangga

Begitulah manusia,karena kedengkian, maka kenikmatan yang orang lain peroleh merupakan bencana buat yang berhati dengki, diantara saudara sepupu sanak dan family dari pihak safanah ,Angin sore di gampong Leumik membawa aroma kuah beulangong yang masih tersisa dari pesta semalam. Rumah besar milik Teungku Hasan masih ramai, bukan lagi oleh tawa para tamu, tapi oleh suara-suara yang bernada tinggi. Di bawah pohon mangga tua di halaman depan, beberapa saudara Teungku Hasan duduk melingkar. Wajah-wajah mereka tidak lagi ceria seperti kemarin, ketika pesta pernikahan Safanah—anak bungsu Teungku Hasan—diselenggarakan dengan meriah.

Hari ini, yang terdengar bukan ucapan selamat, melainkan desas-desus bercampur amarah.

"Sepuluh mayam? Untuk anak gadis bangsawan Aceh? Malu kita."

"Itu pun dari anak rantau Jawa, tak jelas asal-usulnya."

 "Bandingkan dengan menantu saya, ASN golongan dua saja bisa kasih mahar jauh lebih besar."

Suara itu makin nyaring, tidak lagi hanya bisikan. Seorang sepupu laki-laki, suara beratnya menusuk ruang tamu.

"Bang Hasan, terus terang kami kecewa. Tak pantas anak keluarga kita menerima mahar sekecil itu."

Seorang bibi ikut menimpali,

"Kalau di daerah dia mungkin wajar murah. Tapi di sini? Anak kita ini keturunan darah biru, Bang. Tidak boleh diremehkan."

Teungku Hasan tetap duduk tenang, menatap gelas kopi di tangannya. Ia tidak membalas, hanya tersenyum tipis. Istrinya yang duduk di sebelahnya memegang tangan suaminya, memberi isyarat untuk tetap diam.

Seorang keponakan yang bekerja di kantor pemerintah, suaranya terdengar getir,

"Kalau saya, tak akan setuju. Malu keluarga. Orang lihat mahar kecil, dikira kita sudah tak berharga lagi."

Safa yang mendengar dari dapur hanya menghela napas. Ia tahu, omongan itu bukan hanya untuk Aji, tapi juga sindiran untuknya.Malam itu, gosip semakin ramai. Beberapa kerabat bahkan menulis status di WhatsApp: "Begitu murah mahar di tahun ini. Nasib jadi istri orang rantau, segitu saja kemampuannya."

Namun di ruang tengah, Teungku Hasan hanya berkata pada istrinya dengan suara rendah,"Drone mandum, sampai mati pun, tak akan dapat menantu seperti menantu kita."

Tapi bisik-bisik mulai berembus di warung kopi, di kebun, di ladang, di sawah  dan halaman rumah. Beberapa hari setelah keluarga Teungku hasan leumik menerima rombongan linto baro,  menikahkan anak gadisnya, Safanah. Seorang dara ayu yang terkenal bukan hanya karena paras cantiknya, tapi juga karena darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya—keturunan uleebalang masa silam. Yang menjadi bahan perbincangan bukanlah siapa yang melamar, melainkan jumlah mahar yang diserahkan: hanya sepuluh mayaml Para sepupu dan keponakan menggoreng masalah ini dengan matang.mereka membuat sindiran di status WhatsApp..Kata-kata itu menyebar cepat, dari satu ponsel ke ponsel lainnya, dari mulut ke telinga, hingga menjadi cerita yang dibumbui macam-macam.

 “Murah sekali mahar tahun ini… nasib istri orang rantau, hanya segitu kemampuannya.”

Mereka tertawa sambil menyeruput kopi. Di sudut warung, kabar ini menyebar cepat.

Di warung kopi, suara lelaki paruh baya terdengar lebih keras dari bisik angin laut.

"Sepuluh mayam? Astaghfirullah… untuk anak bangsawan? Tak pantas! Kalau bukan dua puluh mayam, jangan bicara," ujarnya sambil menyeruput kopi hitam. Di halaman rumah-rumah tetangga, kaum ibu sibuk menyapu sambil saling mencondongkan badan, suaranya menurun tapi penuh rasa ingin tahu.

"Katanya anak gadis bangsawan, tapi maharnya cuma segitu. Apa tidak malu sama orang kampung?"

Desas-desus itu berjalan cepat, seperti asap yang mencari celah keluar. Ada yang membandingkan dengan lamaran anak Pak Geuchik tahun lalu, yang menerima mahar dua kali lipat. Ada pula yang menduga-duga bahwa keluarga Teungku Hasan leumik sedang kesulitan, atau mungkin… sudah lupa pada adat yang selama ini dijunjung tinggi.

Namun, di balik tembok rumah panggung yang megah, Teungku Hasan duduk tenang. Di sampingnya, safanah memandangi cangkir teh yang sudah dingin. Ia tahu, di luar sana, orang-orang sedang membicarakannya. Tapi ia juga tahu alasan abunya menerima sepuluh mayam itu:  suaminya, seorang pemuda alim yang sederhana, telah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih mahal dari emas—kejujuran dan kebaikan hati.

"Safanah," kata abunya lembut, "mahar itu bukan untuk memamerkan kemewahan. Mahar itu saksi, bukan perlombaan. Emas bisa berkurang nilainya, tapi iman, kejujuran  dan akhlak tidak akan pudar." Orang yang kita cintai bukan dinilai dari berapa banyak emas yang dia bawa… tapi dari berapa banyak kejujuran yang dia pegang

Safanah tersenyum tipis. Di luar, suara bisik-bisik masih ada, bahkan mungkin akan semakin ramai ketika malam tiba. Tapi ia memilih percaya pada kata abu nya. Lagipula, lidah orang kampung memang sulit dihentikan, tapi kebahagiaan rumah tangga tidak pernah ditentukan oleh jumlah mayam yang diterima.

Dan ketika malam menjelang, lampu-lampu rumah mulai redup, desas-desus itu tetap berputar. Tapi di hati safanah, yang ada hanyalah doa agar pernikahan ini menjadi berkah—meski hanya bermahar sepuluh mayam.

 "Sepuluh Mayam, Harga Sebuah Nama"

Hujan baru saja reda, tapi hawa panas terasa di udara—bukan karena matahari, melainkan karena desas-desus yang berputar cepat.

Kabar itu meledak sejak subuh: anak gadis Teungku  Hasan leumik, Safanah, dinikahkan dengan mahar hanya sepuluh mayam.

Bukan anak gadis biasa.

Bukan pula keluarga biasa.

Safanah adalah darah bangsawan—keturunan uleebalang yang selama ini disegani.

 

Di warung kopi, suara suara semakin nyaring, "Sepuluh mayam? Untuk anak bangsawan? Ini penghinaan terhadap darah biru!"

Seorang pemuda brandal yang mengidamkan safanah tetapi tak direstui tengku hasan menimpali dengan nada mencibir.

 "Katanya keluarga terpandang… apa sudah lupa adat? Orang kampung biasa saja bisa sampai dua puluh mayam."Asap kopi hitam membubung. Para lelaki duduk mengelilingi meja, suara mereka penuh nada menggoda dan meremehkan.

LELAKI 1

Katanya anak darah biru… mahar cuma sepuluh mayam.

LELAKI 2(tertawa)

Itu mah setara lamaran anak nelayan kemarin!

Suara tawa bergema. Kamera menyorot jendela warung

Di sudut lain, rumah Mak Cik Syamsiah yang jadi pusat kumpul ibu-ibu sore itu dipenuhi bisik-bisik.

"Ini pasti karena laki-laki itu orang biasa. Mana pantas setara dengan darah bangsawan."

"Atau jangan-jangan… keluarganya sudah susah?"

Desas-desus menjadi tajam, menusuk telinga keluarga Teungku hasan leumik

Ketika Aji tak lagi bersama mereka, Saudara-saudaranya sendiri mulai menegur. Abang tertuanya, Teungku Harun, datang sore itu dengan wajah merah. TEUNGKU HARUN(abang sulung, nada tinggi)

 Hasan!.... Kau mau menodai nama keluarga? Anak gadis bangsawan dijual murah dengan sepuluh mayam? Malu kita nanti di hadapan ureng gampong."Sepuluh mayam,hasan? Untuk anak bangsawan? Kau mau kita jadi bahan tertawaan gampong?Apalagi linto baro itu anak rantau dari Jawa. Bukan darah kita, bukan keluarga kita. Di daerahnya, mungkin gadis dikasih mahar murah, tapi di sini… lain, Hasan!

Teungku hasan  menarik napas panjang.TEUNGKU IBRAHIM(datar, tapi mantap)

 "Harun, .....mahar itu bukan soal harga diri keluarga. Itu soal kesanggupan  suami dan restu dari Allah. Aku tak ingin membebani dia hanya karena gengsi kita."Harun, ...mahar itu bukan untuk pamer. Aku terima sesuai kemampuan Aji, Dia anak baik, berilmu, dan sanggup membimbing safanah. Itu yang penting

.TEUNGKU HARUN ( menepuk meja)

 "Kau pikir orang kampung akan peduli alasanmu? Mereka akan bicara,hasan! Dan sekali nama kita jatuh, tidak akan terangkat lagi!"Orang kampung tidak peduli alasannya! Mereka lihat angka! Kau ingat, ini bukan cuma soal anakmu, ini soal nama keluarga!

SAUDARA PEREMPUAN(menyindir)

Bang Hasan, orang kampung sudah bercakap. Malu kita, bang. Ini anak keponakan kita, bukan orang sembarangan.

Beberapa sepupu dan keponakan yang baru pulang kerja—sebagian ASN, sebagian honorer—ikut duduk. Ada yang tertawa kecil, ada yang menatap sinis.

SAUDARA 1

Hasan, kita minta tambahan mahar. Ini harga diri keluarga bangsawan!

TEUNGKU HASAN(tersenyum tipis)

Harga diri bukan di emas. Harga diri ada di hati yang tahu menjaga.

Saudara-saudaranya saling pandang, merasa tak puas. Mereka menggerutu.

Suasana memanas. Beberapa saudara perempuan berbisik-bisik sambil saling melirik.

Sementara itu di dalam kamarnya, di balik pintu safanah duduk di tepi ranjang, tangannya meremas kain jarit. Matanya berkaca-kaca, tapi wajahnya tegar. Dia mendengar suara abu nya,abuah dan pak cik pak ciknya berdebat di luar., Safanah  mendengarkan dengan dada berdebar. Ia tahu,  suaminya—Aji —adalah pemuda alim yang sederhana. Sepuluh mayam itu sudah lebih dari setengah tabungan hidupnya.

safanah membuka pintu, melangkah ke ruang tamu.

SAFANAH(tegas, menatap semua)

 Kalau adat hanya untuk gengsi, apa gunanya? Aku mau menikah dengan orang yang menjaga hatiku, bukan menuruti selera tetangga.

Semua terdiam. Harun memandangnya dengan tajam.

TEUNGKU HARUN

Kau akan menyesal, safa. Orang kampung tak akan lupa.

SAFANAH(mantap)

Biar saja. Yang penting aku tak lupa siapa yang membuatku bahagia.

Aji Kembali Ke Rumah
Sore setelah magrib, rumah Teungku Hasan masih ramai. Lampu-lampu gantung di ruang tamu memantulkan cahaya hangat ke permadani Persia yang terbentang di bawah kaki para tamu. Wangi kopi hitam dan kue timphan masih bercampur di udara.Aji duduk bersila di samping mertuanya. Setelah berbasa-basi sejenak, ia menunduk sopan.
Abu… lon ka minta izin. Lon pulang dulu. Di rumah masih banyak nyang harus lon kerjakan. Insya Allah sabtu pagi-pagi lon datang jemput Safa, Teungku Hasan tersenyum, matanya teduh. "Hah? Hana nginap di sini, Ji?" godanya sambil tertawa kecil.Aji ikut tersenyum, menjawab dengan sopan."Nanti saja, Abu. Rumoh masih berantakan. Banyak nyang harus lon bereskan.". Ia meraih tangan mertuanya, menyalami dengan hormat,Satu per satu, Aji menyalami paman-paman dan bibi-bibi Safa yang duduk berkelompok di ruang tamu. Sebagian membalas dengan senyum, sebagian lain hanya sekilas mengangguk—pandangan mereka seperti menyimpan penilaian yang tak diucapkan,Safa ikut mengantar Aji hingga ke gerbang depan. Cahaya lampu teras memantulkan senyum lembutnya.

"Bang, besok beneran pagi yah?" katanya, menatap suaminya penuh harap.

"Iya, insya Allah… pagi abis subuh," jawab Aji, disambut tawa kecil keduanya.

Dengan motor Astutinya, ( astrea tahun 1973 )Aji melaju pelan meninggalkan rumah Teungku Hasan.Dari balik jendela ruang tamu, tatapan para sepupu dan kerabat Safa mengikuti punggung Aji yang semakin jauh. Mereka kembali melanjutkan obrolan—setengah berbisik, setengah sindiran."Beda that menantu nyoe… coba lihat menantu lon, ASN walau golongan dua, tapi mantong bisa bawa mahar leubih banyak."

"Betul. Cuma sepuluh mayam dari anak Jawa… hana jelas asal-usulnya."

Sepupu-sepupu Safa kembali berbisik. Tapi kali ini, Safa tak peduli. Angin pagi menyentuh wajahnya, dan ia tahu—ia sedang melangkah menuju hidup yang ia pilih, bersama lelaki yang memegang janjinya."Menantu orang rantau, anak Jawa, tak jelas asal-usul. Mahar cuma sepuluh mayam. Jauh dari pantas untuk anak gadis keturunan bangsawan Aceh."Namun, Teungku Hasan dan istrinya hanya diam. Mereka tidak tergoda untuk membela atau menjelaskan. Hanya mereka berdua yang tahu rahasia besar itu: bertahun-tahun lalu, saat kecelakaan menimpa Teungku Hasan, ratusan juta rupiah miliknya tercecer. Tak ada yang tahu kecuali Allah, dirinya, dan Aji—yang kala itu hanyalah pemuda perantau biasa. Tanpa berpikir dua kali, Aji mengembalikannya utuh, tanpa meminta imbalan. Kejujuran itu membekas di hati Teungku Hasan, lebih berharga dari sekadar tumpukan emas atau jumlah mahar yang gemerlap.

Begitulah kesimpulan mereka. Sebuah penghakiman cepat, tanpa mau tahu cerita yang sebenarnya.Di halaman luar, Safa masih berdiri memandangi motor suaminya yang menghilang di tikungan, sambil tersenyum kecil. Bagi orang lain, sepuluh mayam itu mungkin hina.Tapi bagi Safa, itu adalah awal dari sebuah kehidupan yang ia pilih—bersama laki-laki yang ia tahu hatinya bersih. 




Inilah Aji yang sebenarnya

Fajar belum sepenuhnya merekah. Udara Aceh masih basah oleh embun. Jalanan kampung sepi, hanya sesekali terdengar kokok ayam bersahut-sahutan. Dari kejauhan, suara motor Astuti memecah sunyi. Lampu depannya menyorot kabut tipis yang masih menggantung di jalan. Aji menepati janjinya—pagi sekali, seperti yang ia ucapkan semalam. Di rumah Teungku Hasan, Safa sudah siap menunggu di teras. Rambutnya tertutup rapi oleh jilbab lembut warna pastel, matanya berbinar walau semalam ia tertidur larut. Ketika suara motor itu semakin dekat, senyumnya mengembang.

Aji mematikan mesin tepat di halaman.

"Assalamualaikum," suaranya lembut tapi jelas.Teungku Hasan yang baru selesai salat subuh keluar dari ruang tamu."Waalaikumussalam, Ji. Pagi nian datang. Bagus that," ucapnya sambil menepuk bahu menantunya. Namun di ruang tamu, beberapa sepupu dan kerabat Safa yang menginap sejak pesta pernikahan, hanya melirik sekilas. Tatapan mereka seperti berkata, "Walau rajin, tetap saja menantu yang murah maharnya."

Aji membuka helmnya, senyumnya mengembang.

"Saf… pagi ini abang mau ajak kamu jalan-jalan ke rumah. Kita naik ini aja nggak papa kan?

Safa terkekeh sambil menatap motor itu.

"Ada apa dengan Honda ini? Kan kita biasa menaikinya.

Ia menarik tangan Aji pelan.

"Mari makan dulu, bang. Baru kita jalan."

Tapi Aji menggeleng sambil tertawa kecil.

"Nggak usah, Saf. Kita langsung pamit. Ada hal yang harus kita kerjakan berdua untuk hari Selasa nanti. Waktunya sudah makin dekat."

Safa melihat wajah suaminya. Ada keseriusan di sana, tapi juga kehangatan. Ia mengangguk, lalu bersama-sama mereka menghampiri ruang tengah untuk pamit.

Abu dan Umi Safa sudah duduk di kursi panjang.

"Pulanglah hati-hati. Jangan buru-buru di jalan,"pesan Umi.

Teungku Hasan hanya tersenyum, tatapannya penuh doa saat melepas pasangan muda itu.

Safa berpamitan pada ibunya, lalu mencium tangan ayahnya. Abu dan Umi Safa hanya tersenyum, menyembunyikan kebanggaan yang tak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Mereka tahu, laki-laki ini pernah mengembalikan ratusan juta rupiah milik Teungku Hasan yang tercecer saat kecelakaan dulu—tanpa mengharap imbalan.Di luar, Aji sudah menyiapkan jok belakang untuk istrinya. Safa naik dengan hati ringan. Sebelum berangkat, Aji sempat berkata pelan kepada Abu:"Doakan kami, Abu."Teungku Hasan mengangguk.

"Doa abu selalu ada. Hana semua orang paham kenapa Abu memilihmu. Tapi itu bukan masalah."

Pagi itu udara Banda Aceh terasa sejuk. Jalanan masih belum terlalu ramai, embun belum sepenuhnya menguap dari dedaunan. Safa duduk di jok belakang motor Astuti merah tiga warna milik Aji, memeluk pinggang suaminya sambil menikmati aroma pagi. Ia mengira perjalanan mereka seperti biasa—menuju rumah Aji di Darussalam.Namun kali ini, setelah melewati simpang Lamnyong, Aji justru memutar setir ke arah Setui. Safa sempat mengernyitkan dahi, tapi diam. Mungkin Aji ingin mampir sebentar ke suatu tempat. Tapi setelah melewati jalan-jalan kecil yang asing baginya, rasa penasarannya semakin memuncak. 

“Bang… ini kita kemana?” tanya Safa sambil mencondongkan tubuh, berusaha menatap wajah Aji.“Ya, ke rumah. Memang mau kemana lagi?” jawab Aji santai, matanya fokus ke jalan.“Ko jalannya beda?” sahut Safa, kini mulai benar-benar penasaran.Aji hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Motor melaju dengan kecepatan sedang, masuk ke Jalan Hasan Saleh, lalu membelok lagi ke lorong belakang Polres. Jalan itu berujung pada sebuah gerbang besar bertuliskan Komplek Perumahan dengan deretan rumah-rumah modern di dalamnya. Safa semakin heran.Mereka terus melaju hingga sampai di ujung komplek, di mana berdiri sebuah rumah berarsitektur modern-minimalis yang tampak berbeda dari sekitarnya. Pagar besi hitam besar, halaman yang luas penuh tanaman hias, dan suara gemericik air dari kolam kecil di sudut taman membuat suasananya terasa damai.Aji berhenti di depan gerbang, lalu mengeluarkan remote kecil dari saku jaketnya. Dengan sekali klik, pintu gerbang terbuka perlahan. Motor masuk ke halaman, melewati taman yang dirawat rapi. Beberapa tukang kebun tengah menyiram tanaman, menunduk memberi salam. “Bang Aji, baru pulang? Itu istrinya, ya?” sapa salah satu tukang kebun.

“Iya, Bang. Ini istri saya,” jawab Aji ramah.

Safa masih berdiri terpaku, matanya menyapu pemandangan halaman luas yang dipenuhi berbagai jenis bunga, pohon buah, dan tanaman hias. Setelah memarkir motor di garasi yang sudah berisi dua mobil, Aji turun dan mengajak Safa ikut.“Mar, masuk,” katanya singkat.Safa melangkah perlahan, matanya terus mengamati desain rumah yang begitu estetik—paduan dinding batu alam, kaca besar, dan ukiran kayu Aceh yang memberi sentuhan hangat. Semua terasa seperti rumah yang selama ini hanya ia lihat di majalah arsitektur.“Bang… ini rumah siapa?” tanya Safa setengah berbisik, seperti takut suaranya akan membangunkan mimpi indah ini. Aji tersenyum, menatapnya sebentar. “Ya, rumah kita. Kita berdua.”

Safa berhenti melangkah. “Rumah kita? Jangan bercanda, Bang. Rumah di Darussalam itu kan rumah abang Aji?” “Oh, itu?” Aji terkekeh pelan. “Itu rumah teman-teman pedagang gorengan. Abang numpang aja. Yang ini… rumah kita. Mari masuk, hujan mulai turun itu.”

Rintik hujan mulai membasahi halaman, dan Safa masih belum sepenuhnya percaya. Tapi langkah kakinya mengikuti Aji masuk ke dalam rumah, dengan hati yang tiba-tiba terasa penuh—penuh rasa kagum, bahagia, dan sedikit tak percaya bahwa semua ini nyata. 

Safa melangkah masuk melalui garasi, matanya langsung membelalak. Di hadapannya, berderet empat mobil terparkir rapi. Satu di antaranya langsung ia kenali—mobil yang membawa Aji saat datang melamarnya dulu. Tiga mobil lainnya tak kalah mencuri perhatian, termasuk dua sedan mewah yang mengkilap seakan baru keluar dari showroom. Di pojok kanan paling depan, ada dua mobil pick-up, tiga motor, dan lima sepeda. Salah satunya membuat Safa tertegun lama—sebuah sepeda kumbang klasik dengan dua pasang pedal kayuh dan dua sadel. “Sepeda ini… seperti yang pernah kuceritakan dulu,” batinnya, tersenyum samar.Perasaannya makin tak menentu. Semua ini terasa seperti dunia lain—jauh dari gambaran hidup yang ia bayangkan bersama Aji selama ini. Begitu pintu utama dibuka, aroma lembut kayu jati bercampur wangi bunga melati dari vas besar di sudut ruangan menyambut mereka. Ruang tamu luas itu dipenuhi cahaya alami dari dinding kaca yang menghadap taman belakang. Ada sofa abu-abu lembut, karpet Persia yang tebal, dan rak buku tinggi berisi ratusan buku—beberapa Safa kenal, sebagian besar belum pernah ia lihat. Safa berjalan perlahan, jemarinya menyentuh permukaan meja kayu berukir. “Bang… ini beneran rumah kita?” tanyanya sekali lagi, suaranya hampir bergetar. Aji hanya mengangguk, lalu menarik tangannya, membawanya menuju dapur yang tertata rapi. Di atas meja makan, sudah ada teh hangat dan roti yang sepertinya baru dibeli pagi ini. Mereka duduk. Safa menatap Aji lekat-lekat, ingin sekali mengurai misteri yang selama ini membungkus sosok suaminya.“Bang, kenapa abang nggak pernah cerita soal rumah ini? Dari awal kita nikah, abang cuma bawa aku ke rumah Darussalam yang… yah, sederhana banget. Padahal…” Safa mengedarkan pandangannya lagi, “…ini seperti dunia lain.” Aji menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Saf… abang mau tanya. Kalau waktu itu abang datang melamar dengan mahar besar, bawa mobil, bawa cerita soal rumah seperti ini… kira-kira, abang diterima karena abang, atau karena semua ini?” Safa terdiam. Aji melanjutkan, “Abang nggak mau orang, apalagi keluargamu, menilai abang dari harta. Abang mau mereka lihat abang sebagai Aji—orang yang biasa saja.---  Sambil berjalan ke dalam,aji menggandeng tangan safa Mereka melangkah masuk ke dalam rumah melalui dapur. Pandangan Safa langsung tertarik pada penataan yang begitu rapi dan estetik. Dua lemari es dua pintu berdiri gagah di sisi ruangan, sementara meja makan besar dari kayu solid menempati bagian lain dari dapur luas itu. Semua peralatan tertata dengan presisi, seakan tiap benda punya tempatnya sendiri.Dua orang asisten rumah tangga yang sedang merapikan piring menoleh, lalu tersenyum ramah. “Selamat datang, Bu,” sapa salah satunya. Mereka sudah tahu, inilah istri majikan yang baru dinikahi, meski tak hadir dalam perhelatan di rumah mertuanya. Aji memang sengaja menunda acara di rumah ini untuk mengadakannya sendiri suatu hari nanti. Memasuki ruang tengah, Safa disambut pemandangan kursi-kursi elegan dan dekorasi yang ditata dengan cita rasa tinggi. Namun kejutan sesungguhnya menantinya di lantai dua. Di sana, terbentang kamar-kamar luas dengan interior mewah. Salah satunya langsung mencuri perhatiannya—tempat tidur besar dari kayu mahal, dilapisi spring bed yang Safa tahu harganya tak murah. “Ini sama persis seperti yang ada di kamar Abu dan Umi…” pikirnya.Dari balkon lantai dua, Safa memandang keluar. Di bawah, taman hijau terhampar, dan di bagian belakang rumah, kolam renang lebar berkilau terkena cahaya pagi. Aji menggandeng tangannya, membawanya masuk ke kamar yang akan menjadi kamar mereka berdua. Kamar itu terbagi menjadi tiga bagian: ruang tidur, kamar mandi mewah, dan ruang penyimpanan baju yang dilengkapi meja rias dengan kaca besar. Aji menatapnya lembut. “Sayang… semoga kamu betah di rumah kita ini. Dan mau menerima semua ini apa adanya. Hanya inilah kemampuan abang.Safa masih terisak dalam pelukan suaminya. Ia mencoba menenangkan napasnya, tapi rasa heran terus menggelayuti pikirannya.“Bang… kenapa semua ini tidak pernah abang ceritakan? Bahkan sedikit pun…” suaranya bergetar.Aji melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Safa dengan tatapan yang teduh.

“Ada hal yang abang pelajari dari hidup, Saf… bahwa cinta yang tulus bukan karena harta, tapi karena hati. Abang ingin tahu… apakah kamu menerima abang karena abang, atau karena semua ini.”Safa terdiam. Kata-kata itu menembus hatinya seperti anak panah. Aji melanjutkan, suaranya lembut namun tegas,

“Waktu kita bertemu, abang hanya ingin kamu mengenal abang sebagai Aji… anak rantau yang jual gorengan di tepi jalan. Abang sengaja tak bawa kamu ke sini, tak tunjukkan apa pun, karena abang tak mau ada rasa sungkan, gengsi, atau harapan yang salah. Kalau nanti kita menikah, abang ingin kamu tahu… bahwa yang kamu pilih adalah orangnya, bukan rumahnya, bukan mobilnya.”

Air mata Safa semakin deras. “Bang… aku… aku tak pernah peduli soal itu. Aku hanya ingin hidup bersama abang.”Aji tersenyum kecil, mengusap pipinya. “Dan itulah jawaban yang abang harap sejak awal. Sekarang, semua ini bukan milikku sendiri… tapi milik kita berdua. Rumah ini, usaha ini, bahkan mimpi-mimpi yang akan kita bangun… semuanya milik kita.”Safa memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi taman dan kolam renang. Tapi di dalam hati mereka, justru terasa hangat. Di sudut kamar, sebuah jam tua berdetak pelan, seakan menjadi saksi dari awal babak baru kehidupan mereka—bukan lagi sebagai dua orang yang terikat janji, tetapi sebagai sepasang jiwa yang kini berbagi segalanya, tanpa rahasia.  

Hari semakin merangkak siang. Cahaya matahari menembus kaca besar di ruang makan, memantulkan kilau hangat di meja panjang yang tertata rapi. Aji menggandeng tangan Safa menuju meja itu. Di atasnya tersaji berbagai jenis makanan—nasi hangat, lauk pauk lengkap, roti, kue-kue tradisional, hingga potongan buah segar yang disusun indah di piring kaca. Aroma teh susu yang kental bercampur dengan wangi bandrek menguar, memenuhi ruangan dengan kehangatan. Safa duduk, matanya berbinar melihat sajian yang begitu berlimpah hanya untuk sarapan. Ia tersenyum kecil, hatinya campur aduk antara kagum dan terharu. Sambil menyendok makanan, Aji sesekali mengambilkan lauk untuk Safa. Dengan malu-malu, Safa pun membalas, meletakkan sepotong ikan ke piring suaminya. Tawa kecil dan senyum hangat mewarnai makan pagi itu—sebuah momen yang sederhana, namun penuh rasa syukur. Air mata Safa menitik. Ia tak sanggup berkata-kata, hanya menunduk lalu memeluk Aji erat. Semua prasangka, rasa penasaran, dan keheranan bercampur menjadi rasa syukur yang tak terucapkan.

Selesai makan, mereka berdua membersihkan tangan dan mulut, lalu Aji mengajak Safa kembali ke kamar mereka di lantai dua. Ruangannya begitu luas, nyaman, dan terasa damai. Di sudut, sinar matahari jatuh tepat di atas tempat tidur besar dengan seprai putih bersih. Aji membantu Safa melepas jilbabnya, gerakannya pelan, seolah ingin mengabadikan setiap detik. Sesaat, Aji terdiam memandangi wajah istrinya. Cantik, lembut, dan memancarkan ketenangan—perpaduan darah Arab dan Eropa yang begitu memikat. Ia tersenyum, lalu memeluk Safa erat. Sebuah kecupan lembut di kening, dibalas oleh Safa dengan tatapan penuh cinta. Siang itu, mereka beristirahat bersama di kamar pengantin yang kini menjadi ruang milik mereka berdua—tempat yang akan menyimpan banyak cerita, doa, dan impian di hari-hari mendatang.

Matahari mulai condong ke barat. Setelah tidur siang yang singkat, Safa terbangun oleh aroma harum masakan yang samar-samar masuk dari dapur. Aji masih terlelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya damai. Safa tersenyum, lalu bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Ia berjalan keluar kamar, menuruni tangga kayu yang berkilau bersih. Di ruang tamu, sinar sore menerobos lewat jendela lebar, menciptakan bayangan indah di lantai marmer. Safa berjalan menuju dapur. Dua asisten rumah tangga menyambutnya dengan ramah, menawarkan segelas jus jeruk segar. “Silakan, Bu Safa. Santai saja,” ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum.

Safa tersenyum kembali, namun matanya justru tertarik pada sebuah pintu kayu di ujung lorong dekat dapur. Pintu itu tampak berbeda—lebih tua, dengan ukiran sederhana. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat. Ketika ia membukanya, sebuah ruangan luas tersaji di depannya. Dindingnya dipenuhi rak buku, lemari kaca berisi piala, sertifikat, dan foto-foto lama. Ada foto Aji di ataskapal laut, foto Aji berdiri di depan gerobak gorengan, bahkan foto-foto Aji di luar negeri bersama orang-orang yang Safa tidak kenal. Di pojok ruangan, Safa melihat sebuah meja kerja besar. Di atasnya, terdapat map tebal bertuliskan “Proyek Klinik dan Usaha Keluarga.” Saat ia membuka sedikit, terlihat berbagai dokumen bisnis: rencana pembangunan, daftar cabang toko, laporan keuangan—semuanya atas nama Aji. Safa terdiam. Ia baru benar-benar sadar bahwa suaminya bukan sekadar pedagang gorengan seperti yang ia lihat dulu. Di balik sikap sederhana itu, Aji ternyata menyimpan dunia yang jauh lebih besar—dunia yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Aji berdiri di pintu, menatap Safa dengan senyum kecil.

“Kamu sudah menemukan ruang rahasia abang,” ujarnya santai.

Safa tersipu. “Kenapa nggak pernah cerita?”

Aji mendekat, menatapnya lembut. “Karena abang nggak mau kamu mencintai abang karena semua ini. Abang mau kamu mencintai abang… karena abang adalah abang.”Safa menunduk, matanya berkaca-kaca. Di sore itu, ia merasa menemukan suaminya untuk kedua kalinya—bukan lewat mahar, bukan lewat rumah megah, tapi lewat kejujuran dan hati yang tulus.

Malam itu, setelah sholat isya, angin bertiup lembut dari arah taman belakang. Lampu-lampu taman yang tertata rapi memancarkan cahaya kekuningan, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di tengah taman, terdapat meja bundar kecil dengan dua kursi kayu. Di atasnya, dua cangkir teh hangat mengepulkan uap, aromanya bercampur dengan wangi bunga melati yang mekar di sudut taman. Aji duduk berhadapan dengan Safa, sementara di belakang mereka, kolam renang memantulkan bayangan bulan yang nyaris penuh. Safa mengenakan gaun rumah sederhana berwarna lembut, wajahnya masih segar meski seharian penuh kejutan.

“Ada yang mau abang bicarakan,” ujar Aji pelan sambil menatap mata Safa.Safa mengangguk, menunggu.“Selama ini abang menyembunyikan banyak hal… bukan karena nggak percaya sama kamu, tapi abang ingin kita membangun semuanya dengan hati, bukan dengan apa yang abang punya. Sekarang, kita sudah resmi jadi suami istri, abang mau kamu ikut memegang kendali semua ini.” Aji mendorong sebuah map ke arah Safa—map yang ia lihat siang tadi di ruang rahasia. Safa membukanya, matanya membesar. Di dalamnya ada dokumen kepemilikan usaha, rekening, bahkan sertifikat rumah ini.

“Aku… nggak tahu harus bilang apa, Bang,” ucapnya terharu.

Aji tersenyum. “Bilang iya. Iya untuk jadi partner abang dalam segala hal—usaha, rumah tangga, dan hidup.” Safa tertawa kecil sambil menghapus air mata. “Iya. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa itu?” tanya Aji penasaran.

“Kita tetap makan gorengan bareng di pinggir jalan, sesekali. Supaya kita nggak lupa dari mana kita mulai.”Aji tertawa, lalu mengulurkan tangannya. Safa menggenggamnya erat. Malam itu, di bawah cahaya bulan dan gemericik air kolam, mereka berdua membuat janji: untuk selalu berjalan berdampingan, bukan di depan atau di belakang, tapi bersama-sama, oo iya. Hampir lupa, inikan hari minggu, besok senin dan hari selasa, hari selasa, saf, safa menatap suaminya dengan heran dan bertanya, “ ada apa dengan ahri selasa ,bang?."Bang… hari Selasa itu, sebenarnya ada apa sih? Kok abang sampai buru-buru banget ngajak aku ke sini?" tanyanya penasaran.

Aji tersenyum tipis.

"Rahasia dulu, Saf. Tapi yang jelas, ini buat kita berdua. Sesuatu yang mau abang persiapkan biar kita nggak cuma jalan di tempat." Safa terdiam, hatinya berdebar. Ia tahu suaminya bukan tipe orang yang banyak janji tanpa bukti. Kalau Aji bilang ini penting, berarti benar-benar penting.

mari kita tidur, hari sudah larut malam, aji tak melanjutkan ucapanya dan menarik tangan safa, mereka masuk rumah dan beristirahat.

 

Wisuda sarjana dan pelantikan dokter

Hari selasa Pagi, udara Banda Aceh terasa hangat. Safa tengah mempersiapkan sarapan ketika Aji, suaminya, mendekat sambil membawa setelan jas hitam rapi di dalam kantong pakaian.sore. "Siap, Saf?"

"Siap… tapi abang belum cerita ini mau kemana."

"Sabar, nanti juga tahu. Pokoknya hari ini, kita bawa pulang sesuatu yang akan mengubah banyak hal."

“Sayang… ikut abang, ya. Kita ke kampus,” ucapnya tenang.

Safa menoleh heran. “Ke kampus? Memangnya ada acara apa, Bang?”

Aji tersenyum tipis. “Abang mau wisuda. Sekalian pelantikan dan sumpah janji profesi dokter.”

Kata-kata itu seakan menggema di telinga Safa. Wisuda? Sumpah dokter? Bukankah selama ini Aji hanyalah pedagang gorengan di tepi jalan, yang ia kenal sebagai sosok sederhana? Tak pernah sekali pun ia bercerita soal kuliah, apalagi di fakultas kedokteran. Ingatan Safa melayang pada masa awal perkenalan mereka. Sesekali, memang ada gadis-gadis kampus turun dari mobil mewah, membeli gorengan Aji sambil bercanda akrab. Kala itu, Safa hanya menganggap Aji sekadar kenal banyak orang. Ia tak pernah menduga bahwa lelaki itu ternyata salah satu mahasiswa di kampus ternama. Untunglah Safa sudah rapi sejak pagi, mengenakan gamis biru muda dan jilbab putih. Ia masih belum tahu pasti apa yang akan terjadi hari ini, hanya Aji yang terlihat sibuk sejak kemararin.

Abu dan Umi Safa pun tiba tak lama kemudian. Abu menepuk bahu Aji dengan senyum bangga, sementara Umi memeluk Safa erat.Menjelang siang, mereka berempat—Aji, Safa, dan kedua mertua—tiba di gedung ACC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala. Bangunan megah itu dipenuhi mahasiswa berjas toga, keluarga, dan fotografer yang lalu-lalang. Safa duduk di kursi tamu, masih mencoba mencerna kenyataan ini. Dari kejauhan, ia melihat Aji berdiri gagah di antara barisan wisudawan Fakultas Kedokteran. Wajahnya tenang, penuh percaya diri. Saat namanya dipanggil, Aji melangkah mantap naik ke podium, menerima ijazah, lalu menunduk hormat. Acara berlanjut dengan pengucapan sumpah dan janji profesi dokter. Safa menyaksikan bibir Aji mengucapkan setiap kata dengan lantang dan penuh khidmat. Ada rasa haru yang menyesak di dada. Lelaki yang selama beberapa hari menjadi suaminya ini setia menemaninya, yang pernah menjual gorengan di terik matahari, kini resmi menjadi seorang dokter. Usai prosesi, Aji menghampiri mereka. Safa berdiri, menatap suaminya yang kini semakin memancarkan wibawa.

“Selamat, Bang…” ucapnya pelan, suaranya bergetar.

Aji menggenggam tangannya erat. “Terima kasih, Sayang. Semua ini… untuk kita.”

Kedua mertuanya memeluk Aji dengan bangga. Namun di tengah kebahagiaan itu, Safa menyadari sesuatu—tak ada satu pun keluarga Aji yang hadir. Tak ada orang tua, saudara, atau kerabat dari kampung. Entah karena jarak, atau karena alasan yang hanya Aji simpan sendiri.Hari itu, Safa bukan hanya terkejut mengetahui rahasia besar suaminya. Ia juga memahami, bahwa di balik kesederhanaan Aji, tersimpan tekad, kerja keras, dan pengorbanan yang luar biasa.Dan saat mereka berjalan keluar dari gedung, Safa memandang Aji dengan rasa cinta yang semakin dalam—bukan hanya karena ia kini seorang dokter, tapi karena ia telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari hati yang tulus dan kerja keras tanpa henti.

 Malam setelah wisuda, rumah terasa sunyi. Safa duduk di ruang tengah, masih memandangi toga hitam Aji yang tergantung rapi di kursi. “Bang…” Safa memecah keheningan. “Kenapa abang nggak pernah cerita kalau abang mahasiswa kedokteran?”Aji yang tengah menata berkas-berkasnya hanya tersenyum tipis. Ia lalu duduk di samping Safa, menatap istrinya penuh sayang. “Bukan abang nggak mau cerita, Sayang. Abang cuma nggak mau kamu atau keluargamu menilai abang dari status itu. Abang mau kamu kenal abang sebagai manusia biasa… yang mungkin terlihat sederhana, tapi punya mimpi besar.”

Safa terdiam. Aji mulai bercerita.

Bertahun-tahun lalu, Aji datang ke Banda Aceh sebagai anak rantau dengan tas ransel lusuh dan uang pas-pasan. Ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, sebuah pencapaian yang ia perjuangkan dengan belajar siang malam di kampung. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Orang tuanya di Jakarta menghentikan kiriman biaya karena pengaruh saudara saudaranya dan kiriman biaya hidup pun terhenti.

“Waktu itu, pilihan abang cuma dua,” Aji melanjutkan, “Berhenti kuliah atau cari cara untuk tetap bertahan.” Ia memilih bertahan. Mulai dari jadi buruh bongkar muat, ojek, hingga akhirnya berjualan gorengan di dekat kampus. Hanya satu yang tak pernah dia lupakan, yaitu sealalu membaca surah al waqiah dalam jumlah banyak setiap hari secara istiqomah, Pagi hari ia kuliah, sore hingga malam ia berjualan. Ia tak malu berpanas-panas di bawah terik, meski sering diejek teman-teman sekelasnya yang berasal dari keluarga berada.

Safa mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.

“Terus… gimana bisa abang sampai selesai kuliah?”

Aji tersenyum. “Rezeki itu selalu datang kalau kita mau berusaha.berdo’a dan memohon pada Yang maha Kuasa Beberapa dosen yang tahu keadaan abang, diam-diam membantu. Teman-teman seangkatan juga sering belanja gorengan abang bukan karena lapar, tapi karena ingin membantu tanpa membuat abang merasa dikasihani. Sampai akhirnya… hari ini datang juga.”Safa tak mampu menahan air matanya. Ia memeluk suaminya erat. Dalam pelukan itu, ia menyadari satu hal—lelaki di hadapannya bukan hanya dokter baru, tapi pejuang sejati yang mengajarkan arti kesabaran, keteguhan, dan harga diri. Malam itu, mereka duduk di teras rumah, memandangi langit Banda Aceh yang cerah. Aji menatap ke depan, seakan berbicara pada dirinya sendiri,

“Perjalanan kita masih panjang, Sayang. Tapi abang janji, kita nggak akan pernah mundur.”

Safa hanya mengangguk, sambil menggenggam tangan Aji lebih erat dari sebelumnya. Karena ia tahu, mimpi mereka kini berjalan beriringan.

Beberapa minggu setelah wisuda dan sumpah profesi, kehidupan di rumah mereka mulai terasa berbeda. Aji kini mengenakan jas putih setiap pagi, bukan lagi celemek penjual gorengan. Namun, ada satu hal yang tetap sama: senyum tenangnya saat berpamitan pada Safa sebelum berangkat.

“Assalamualaikum, Sayang… abang berangkat dulu,” ucap Aji sambil mengecup kening istrinya.

“Waalaikumsalam… hati-hati di jalan, Bang,” jawab Safa sambil membenarkan kerah jas putih itu.

Pagi itu, Aji mulai menjalani masa penempatan di sebuah puskesmas di dalam kota banda aceh,..Safa sempat merasa canggung—istri seorang dokter sekaligus pengusaha—namun Aji tak pernah berubah. Ia masih pria sederhana yang selalu menyempatkan diri membantu di dapur, bercanda dengan Safa, dan menyapa para pekerja dengan ramah. Namun, menjadi dokter membawa tantangan baru. Pasien datang dengan berbagai keluhan, dari yang ringan hingga yang membuat Aji harus lembur sampai larut malam. Safa mendukung sepenuhnya, meski kadang ia harus makan malam sendirian.

Suatu malam, Aji pulang hampir tengah malam. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap hangat saat melihat Safa yang menunggunya di meja makan.

“Sayang, maaf… abang pulang telat. Ada pasien darurat,” katanya sambil duduk.

Safa hanya tersenyum dan menyendokkan sup hangat ke mangkoknya. “Abang nggak perlu minta maaf. Abang menolong orang, itu lebih penting.”

 Di sela kesibukan, Aji dan Safa tetap meluangkan waktu untuk berdua. Kadang mereka berjalan sore di taman belakang rumah, kadang hanya duduk di teras sambil minum teh.

Aji sering bercerita tentang pasien-pasiennya, sementara Safa bercerita tentang ide-ide untuk memperluas usaha kuliner mereka.

Sampai suatu sore, Aji memegang tangan Safa dengan tatapan serius.

“Sayang… abang ada niat,,kita  membuat syukuran kita undang banyak orang dan kita berdoa serta makan bersama,  berbagi pada yang kurang beruntung,  ....Syukurannya apa aja, Bang?” tanya Safa sambil duduk.

Aji tersenyum lebar, “Syukuran pernikahan kita, syukuran wisuda abang, dan… syukuran karena abang sudah resmi dokter.” dan  syukuran usaha usaha yang telah abang buat, londry, cuci helem, doorsmeer, kedai ayam goreng, termasuk kedai minuman dan yang lainnya, semuanyalah kita syukuri.Syukur kita bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga kita wujudkan dengan berbagi,mengundang anak yatim dan pengajian serta samadiah mendoakan arwah orang tua tua kita yang telah tiada.,

======

Pagi itu, langit Banda Aceh cerah. Angin laut membawa aroma asin yang khas.Aji berdiri di depan garasi, memegang kunci sedan mewahnya, sambil tersenyum melihat Safa yang baru saja keluar dengan gamis biru pastel dan jilbab putih

“Sayang, hari ini kita belanja ke Suzuya Mall. Persiapan syukuran di rumah nanti,” kata Aji sambil membukakan pintu mobil untuk Safa.

Perjalanan ke Suzuya Mall terasa begitu menyenangkan. Jalanan Banda Aceh yang bersih dan rindang membuat hati Safa hangat. Sesampainya di mall yang terletak di pinggiran barat kota, Safa tak menyangka bahwa Aji benar-benar serius dengan persiapan ini.

Begitu masuk supermarket besar di dalam mall, Aji langsung mengambil troli besar.

Pertama, mereka menuju bagian buah. Safa terpana melihat Aji memilih buah-buahan segar dalam jumlah banyak—apel merah, anggur hijau, jeruk manis, pir, hingga kurma premium.

“Bang… ini banyak sekali,” ujar Safa sambil tersenyum malu.

Aji hanya menjawab, “Tamu kita harus merasakan yang terbaik. Rezeki itu harus dibagi, sayang.”

Lalu mereka beralih ke bagian roti dan kue. Aroma harum roti baru matang memenuhi udara. Aji membeli berbagai jenis roti manis, croissant, dan kue lapis legit. Safa hanya bisa menggeleng, takjub melihat troli yang hampir penuh. Setelah itu, mereka menuju rak minuman. Air mineral botol, jus buah segar, hingga minuman herbal tradisional masuk ke troli tanpa banyak pikir.

Safa terkekeh, “Bang, ini troli kita sudah seperti belanja untuk acara besar di hotel.”

Aji tertawa, “Ya memang besar, kan? Rumah kita nanti kayak hotel sehari.” 

Sementara untuk makanan utama, Aji sudah memesan secara terpisah. Satu  ekor sapi dari pengusaha akikah terkenal di Banda Aceh akan dimasak menjadi kuah belangong, masakan khas Aceh yang kaya rempah, dimasak perlahan dalam belanga tanah liat. “Ini masakan khas yang harus ada. Tamu dari luar Aceh pun akan suka,” kata Aji penuh semangat. Setelah hampir empat jam berbelanja, mereka keluar dari mall dengan beberapa troli penuh belanjaan yang dibawa oleh petugas. Sedan mewah Aji pun nyaris penuh di bagasi dan kursi belakang, bahkan sisanya diantar oleh Mall ke alamat rumahnya sebab begitu banyak yang dibeli.

Di perjalanan pulang, Safa bersandar di bahu Aji.

“Bang, aku masih nggak nyangka semua ini. Dulu abang cuma aku kenal sebagai penjual gorengan… sekarang abang bawa aku belanja untuk pesta besar kita.”

Aji menoleh sebentar, menatap mata istrinya, lalu tersenyum hangat.

“Semua ini bukan untuk pamer, sayang… tapi untuk berbagi kebahagiaan. Kita sudah diberi begitu banyak karunia, masa kita nggak mau berbagi?”

Safa hanya mengangguk, menahan haru. Mobil mereka melaju menuju rumah, sementara di dalam hati Safa, rasa syukur semakin memenuhi ruang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Beberapa hari kemudian, Hari syukuran pun tiba. suasana di komplek perumahan mewah itu berbeda dari biasanya. Jalanan di depan rumah Aji ramai dengan mobil-mobil yang terparkir rapi. Pintu gerbang besar terbuka lebar, menampakkan halaman luas yang sudah dipenuhi dekorasi bunga segar, kursi tamu berderet, dan panggung musik akustik di sudut taman. halaman rumah Aji yang luas berubah menjadi lautan tenda putih berornamen emas. Puluhan meja bundar tertata rapi, setiap meja dihiasi vas bunga segar dan piring-piring penuh makanan lezat—mulai dari masakan Aceh, hidangan Timur Tengah, hingga kue-kue modern. Aroma kuah beulangong dari empat ekor kambing memenuhi udara, bercampur wangi sate, roti bakar, dan kopi Gayo yang baru diseduh. Hari itu, Aji dan Safa mengadakan perhelatan mewah dan  elegan—resepsi yang memang sengaja ia tunda agar bisa dilakukan di rumahnya sendiri. Bedanya, kali ini semua tamu dari pihak keluarga Safa hadir, termasuk para tetangga yang dulu sempat berbisik-bisik soal mahar sepuluh mayam. Sejak pagi, rumah Aji sudah sibuk., sementara dua asisten rumah tangga memandu petugas katering menata hidangan. Aroma kuah belangong menyeruak dari belakang rumah. Satu ekor sapi dan Empat ekor kambing yang dimasak dengan rempah khas Aceh membuat siapa pun yang lewat langsung menoleh. Safa berdiri di dekat pintu, mengenakan kebaya hijau zamrud dengan jilbab satin yang menambah anggun penampilannya. Banyak tamu wanita yang datang langsung memuji,

“Subhanallah, cantik kali pengantin barunya Aji.”

Safa hanya tersenyum, masih agak malu menjadi pusat perhatian.

Aji, dengan setelan jas hitam dan dasi perak, menyambut para tamu pria. Wajahnya terlihat bangga namun tetap sederhana. Tak ada kesan sombong, meski hari itu ia adalah tuan rumah di acara yang sangat meriah Di meja hidangan, selain kuah belangong, terhidang berbagai menu lain: ayam tangkap, sate matang, gulai ikan, aneka sambal, buah segar, roti, kue, dan minuman yang mereka beli di Suzuya Mall. Tamu mulai berdatangan—tetangga, teman kuliah Aji dari Fakultas Kedokteran, para dosen, bahkan beberapa pedagang gorengan yang dulu pernah bersama Aji berjualan.

Salah satu temannya berseloroh,“Bang Aji, dulu kita jualan gorengan di pinggir jalan, sekarang abang sudah dokter, rumah pun istana. Mantap kali!” Aji hanya tertawa sambil menepuk bahu temannya, “Rezeki sudah diatur Allah, yang penting kita tetap ingat asal.” Mertuanya, abu dan umi Safa, terlihat haru. Mereka tak menyangka menantu yang mereka kira hanya pedagang sederhana ternyata menyimpan perjalanan panjang penuh kerja keras yang kini membuahkan hasil luar biasa. Ketika acara doa bersama dimulai, suasana hening. Ustaz yang memimpin berdoa panjang—mendoakan keberkahan rumah tangga Aji dan Safa, keberhasilan karier Aji sebagai dokter, dan kesehatan keluarga mereka. Safa menunduk, menahan air mata, sementara tangan Aji menggenggamnya erat di bawah meja. Usai doa, musik Aceh yang lembut mengalun. Para tamu makan dengan riang, anak-anak berlarian di taman, dan suara tawa bercampur aroma rempah memenuhi udara. Safa menyambut para tamu dengan kebaya putih yang anggun, sementara Aji memakai jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Senyum mereka tak pernah lepas sejak pagi. Ketika tamu memasuki rumah, banyak yang saling pandang tak percaya. Mereka melihat dapur estetik, ruang tamu yang tertata rapi, taman belakang dengan kolam renang, dan meja buffet penuh makanan premium. Beberapa ibu-ibu yang dulu paling nyinyir langsung terdiam, hanya bisa tersenyum kaku sambil memuji.

Di tengah acara, seorang tamu dari pihak keluarga Safa—pamannya—mendekat ke Aji sambil menepuk bahunya.

“Bang Aji… ini rumah abang?” tanyanya setengah berbisik, seolah masih tak percaya.

Aji tersenyum tenang. “Iya, Paman. Rumah kecil-kecilan saja. Semoga nyaman.”

Tamu yang datang bukan hanya tetangga dan sahabat, tapi juga keluarga besar Safa: saudara, sepupu, paman, bibi, pakcik, makcik—semuanya hadir. Sebagian dari mereka dulu pernah berbisik-bisik meremehkan Aji saat melamar Safa dengan “hanya” sepuluh mayam emas. Awalnya mereka duduk dengan wajah biasa saja, mengira acara ini hanyalah syukuran pernikahan dan wisuda. Namun suasana berubah ketika pembawa acara memperkenalkan Aji di depan panggung:

"Hadirin yang kami hormati, mari kita sambut, Dokter Aji, putra terbaik daerah ini, yang baru saja menyelesaikan pendidikan profesi kedokterannya di Fakultas Kedokteran Unsyiah."

Tepuk tangan bergemuruh. Safa duduk di kursinya, tersenyum bangga melihat suaminya berdiri gagah di panggung dengan jas dokter putih. Beberapa sepupu saling berpandangan, terdiam. Namun kejutan belum berhenti. Setelah sesi sambutan, panitia menayangkan video singkat di layar besar. Terlihat deretan sepuluh ruko megah di pinggiran barat Banda Aceh, salah satu kawasan yang kini berkembang pesat pasca-tsunami. Kamera menyorot satu per satu: restoran, kafe, laundry, tempat cuci helm dan sepatu, dorsmeer mobil dan motor, hingga klinik modern yang berada di ujung deretan ruko tersebut.

Narator video menjelaskan, "Kesemua usaha ini dimiliki dan dikelola oleh Dokter Aji."

Mulut beberapa tamu terbuka lebar, sebagian lagi menelan ludah. Pakcik yang dulu paling nyaring mencemooh Aji, kini hanya menunduk sambil memainkan cincin di jarinya. Makcik yang pernah berkata Safa “terlalu cantik untuk pedagang gorengan” kini sibuk mengaduk minumannya tanpa menatap siapa pun. Sepupu-sepupu yang dulu ikut-ikutan mengejek, kini duduk kaku di kursinya.Safa memperhatikan semua itu dengan hati yang campur aduk. Bukan untuk membalas dendam, tapi ia merasa Tuhan sedang menunjukkan kuasa-Nya—bahwa kejujuran dan kerja keras lebih berharga dari penampilan luar.

Aji turun dari panggung dan menghampiri Safa. Ia hanya berbisik, “Hari ini bukan untuk membuat mereka malu, Sayang. Tapi untuk menunjukkan bahwa kita harus menghargai orang, apa pun keadaannya.”

Safa mengangguk. Matanya berkilat, bukan karena amarah, tapi karena rasa bangga dan syukur yang tak terhingga. Hari itu, di bawah tenda mewah, keluarga besar yang dulu meremehkan Aji harus menerima kenyataan: menantu yang dulu mereka pandang sebelah mata, kini adalah seorang dokter sukses, pengusaha, sekaligus pemilik klinik.Dan Safa? Ia adalah perempuan yang beruntung, bukan karena harta itu, tapi karena mendapatkan cinta yang tulus dari lelaki yang membuktikan segalanya dengan kerja nyata. lalu tepuk tangan meriah terdengar. Safa yang berdiri di sampingnya menatap suaminya dengan mata berbinar. Sore itu, tak ada lagi bisik-bisik merendahkan. Justru, nama Aji mulai dihormati, bukan karena kekayaannya, tapi karena kerendahan hati dan caranya melindungi harga diri istrinya. Di ujung acara, saat para tamu mulai pamit, Abu dan Umi Safa menghampiri menantu mereka itu.

“Anak kami beruntung mendapat suami seperti kamu,” kata Umi sambil menepuk tangan Safa.

Aji tersenyum. “Saya yang lebih beruntung, Umi. Karena saya dapat istri yang selalu mengingatkan saya agar tetap sederhana.”

Di sudut halaman, Safa berbisik pada suaminya,

“Bang, ini hari paling bahagia dalam hidupku.”

Aji tersenyum, memandang langit sore yang mulai berwarna jingga,

“Sayang, ini baru awal. Kita masih punya banyak hari bahagia ke depan, insya Allah.”

Dan sore itu, di rumah megah yang kini menjadi saksi, tiga kebahagiaan dirayakan sekaligus—cinta yang halal, keberhasilan pendidikan, dan rezeki yang dibagikan tanpa ragu.

 =====

"Hadiah Tak Terduga"

Pagi itu, udara Banda Aceh terasa sejuk. Aji mengajak Safa keluar rumah dengan sedan mewah mereka. Safa yang duduk di kursi penumpang hanya bertanya santai, “Kita mau kemana, Bang?” Aji tersenyum samar. “Ada urusan sedikit. Sekalian jalan-jalan.” Mereka berhenti di sebuah gedung Bank Aceh Syariah yang megah di pusat kota. Aji menggandeng tangan Safa masuk, lalu langsung menuju meja layanan prioritas. Petugas bank berdiri menyambut, “Selamat pagi, Dokter Aji. Silakan duduk.”

Safa melirik heran. “Bang, ngapain ke bank?”

Aji menjawab singkat, “Buka rekening.”

Tak butuh waktu lama, semua dokumen selesai, dan petugas menyerahkan buku tabungan serta kartu ATM dengan nama Safanah  binti Tengku Haji Hasan Leumik tercetak di atasnya. Safa masih belum mengerti, sampai Aji tersenyum dan berkata,

“Lihat saldonya, Sayang.”

Safa membuka buku tabungan itu, dan matanya langsung membesar. Di situ tertulis angka Rp5.000.000.000,-.

“Bang… ini… lima miliar?!” suaranya bergetar.

Aji mengangguk tenang. “Iya. Ini untuk kamu. Tabungan kita bersama, tapi atas nama kamu. Aku mau kamu merasa aman, apapun yang terjadi nanti.” Air mata Safa langsung menitik, namun Aji belum selesai memberi kejutan. Mereka kembali ke mobil, lalu meluncur ke sebuah toko emas terkenal di Banda Aceh. Pemilik toko langsung menyambut akrab, “Wah, Dokter Aji, mau belanja apa hari ini?”

Aji menjawab santai, “Seratus mayam emas untuk istri saya.”, Bang, tolong uruskan...

Safa sampai terdiam. Ia bahkan sempat menahan tangan Aji. “Bang, untuk apa sebanyak itu?”

Aji menatapnya penuh arti. “Untuk masa depanmu. Untuk keamanan, untuk kenangan. Aku mau kamu tahu, kamu berharga, dan aku serius menjagamu.” Tidak lama kemudian, sebuah kotak besar berisi perhiasan emas murni—kalung, gelang, cincin, anting—terbungkus rapi. Safa memegangnya dengan tangan bergetar, hatinya campur aduk antara syukur, haru, dan cinta yang begitu dalam pada suaminya. Di perjalanan pulang, ia hanya bisa memeluk lengan Aji erat-erat. “Bang… aku nggak minta semua ini. Yang aku mau cuma kita selalu bersama.” Aji tersenyum, menatap jalan di depannya. “Itu juga yang aku mau, Sayang. Semuanya untuk kita berdua.”

Memulai perjuangan  bersama tercinta

Hari-hari pertama toko Saf & Ji dibuka, suasananya sudah jauh dari sepi.Orang-orang mulai berdatangan, penasaran dengan ruko baru itu. Bahkan beberapa tetangga yang dulu mencibir, kini terdiam melihat keberanian mereka memulai sesuatu yang besar. Aroma kopi Aceh gayo yang diseduh langsung memenuhi udara, menarik pejalan kaki untuk mampir. Rak oleh-oleh dipenuhi kue boh rom-rom, dodol khas, dan kain songket Aceh yang rapi tersusun. Aji dan Safa bergantian melayani pembeli. Kadang Aji yang di meja kasir, Safa yang membuat minuman. Kadang terbalik. Keduanya terlihat kompak, bekerja seperti sudah puluhan tahun bersama, meski baru beberapa hari resmi jadi suami-istri. Kabar tentang toko itu cepat menyebar. Tak lama, muncullah beberapa sepupu Safa yang dulu paling vokal mengomentari "murahnya" mahar sepuluh mayam. Mereka datang berkelompok, awalnya hanya untuk "melihat-lihat".

Safa yang sedang menata rak menyambut mereka dengan senyum tulus.

"Eh, masuklah… mau kopi? Gratis untuk keluarga."

Salah satu sepupu yang biasanya nyinyir, hanya mengangguk singkat. Pandangannya menyapu ruko yang kini penuh pelanggan, beberapa bahkan turis asing. Mereka duduk di sudut, memesan kopi, tapi diam. Tak ada lagi sindiran di bibir, hanya sesekali saling pandang. Dalam hati, mereka tahu — anak rantau Jawa yang mereka sebut tak jelas asal-usulnya ini, ternyata lebih pandai memanfaatkan rezeki daripada banyak orang di keluarga besar mereka yang bergaji ASN tapi masih mengeluh soal hutang. Sore harinya, Abu dan Umi Safa datang ke toko. Melihat para sepupu itu duduk diam, Abu hanya tersenyum tipis dan berkata:

"Drone mandum… sampai matipun hana buet seumantap loen jih."

(Semua orang… sampai mati pun tak akan mendapat menantu seperti menantu saya.)

Safa menunduk, menahan senyum. Aji yang sedang di kasir berpura-pura sibuk menghitung uang kembalian. Mereka berdua tahu, balas dendam terbaik bukan dengan kata-kata — tapi dengan membiarkan hasil kerja keras berbicara sendiri. Dan hari itu, suara mesin penggiling kopi dan tawa pelanggan jauh lebih nyaring daripada bisik-bisik yang dulu pernah menyakitkan. Hari itu semua autlet dan toko toko saf & ji dibuka scara bersamaan dari ujung ke ujung secara serempak, kecuali apotik yang belum dibuka karena menanti apoteker yang merupakan sahabat aji belum tiba di hari itu, sementara dorsmeer dan laundr sudah dibuka beberapa hari lebih awal. Beberapa bulan setelah toko Saf & Ji berjalan, hasilnya sudah jauh melampaui dugaan. Foto-foto kopi gayo seduh manual mereka ramai diunggah oleh turis di Instagram. Bahkan, sebuah akun kuliner nasional menulis review:

“Rasa kopi yang jujur, kue yang penuh cerita, dan senyum yang bikin rindu Banda Aceh.”

Tak lama, sebuah undangan resmi datang dari Dinas Pariwisata Aceh:

Toko Saf & Ji diminta ikut pameran kuliner dan UMKM di Jakarta. Semua biaya ditanggung pemerintah daerah.Malam itu di ruang tamu, Aji menunjukkan surat undangan itu kepada Abu dan Umi Safa. Abu menatapnya lama, lalu tersenyum bangga.

"Itulah… kalau rezeki memang tak bisa dihalangi orang. Allah buktikan sendiri."

Kabar keberangkatan mereka cepat menyebar di keluarga besar. Sepupu-sepupu yang dulu lantang menyepelekan kini berlomba memberi “saran”, bahkan menawarkan diri untuk ikut “membantu”. Safa hanya tersenyum sopan, menjawab seperlunya.

Di Jakarta, stand mereka jadi salah satu yang paling ramai. Kopi gayo seduh manual disajikan langsung oleh Aji, sementara Safa menjelaskan tentang kue tradisional Aceh dengan fasih. Banyak pembeli memuji keramahan mereka. Wartawan lokal mewawancarai, dan fotonya masuk di dua media nasional.

Setibanya di Banda Aceh, poster besar acara itu terpampang di banyak tempat, termasuk foto Aji & Safa. Beberapa kerabat yang dulu mengejek kini tak lagi berani bicara lantang. Bahkan ada yang menulis status WhatsApp memuji keberanian anak muda merantau.

Suatu sore, Abu duduk di teras sambil menyeruput kopi buatan Aji. Ia berkata pelan:

"Lihat, Ji… kalau waktu itu Abu minta tambah mahar, mungkin kamu tak jadi menikah dengan Safa. Dan semua ini tak akan ada. Kadang, yang terlihat kecil di mata manusia, justru besar di mata Allah."Aji terdiam. Safa yang duduk di sampingnya menggenggam tangan suaminya erat. Mereka tahu, perjalanan ini baru awal. Tapi satu hal sudah pasti — cerita sepuluh mayam itu kini jadi legenda, bukan bahan ejekan.

Beberapa minggu setelah pameran di Jakarta, Aji dan Safa mendapat undangan istimewa. Bukan dari pemerintah, bukan pula dari media, tapi dari istana gubernur Aceh.

Acara itu bertajuk "Malam Apresiasi UMKM Unggulan Aceh" dan mereka diminta hadir sebagai salah satu penerima penghargaan langsung dari Gubernur. Undangan itu tercetak rapi, dengan lambang provinsi berwarna emas di bagian atasnya. Ketika kabar ini sampai ke telinga keluarga besar, suasana mendadak berubah. Sepupu-sepupu yang dulu paling nyinyir kini sibuk bertanya:

“Baju apa yang kalian pakai nanti?”

 “Butuh diantar ke acara?”

 “Kalau mau, aku bisa bantu fotoin…”

Safa hanya tersenyum sopan, mengucapkan terima kasih tanpa janji. Dalam hatinya, ia tahu siapa yang benar-benar ada di pihak mereka sejak awal.

Malam itu, di gedung megah dengan lampu kristal yang berkilau, Aji dan Safa duduk di barisan depan. Safa mengenakan kebaya Aceh modern berwarna marun, sementara Aji tampil gagah dengan jas hitam dan peci. Saat nama mereka dipanggil, tepuk tangan bergemuruh. Sang Gubernur memuji usaha mereka yang memadukan cita rasa lokal dengan semangat inovasi anak muda. Media memotret, kamera televisi menyorot. Foto-foto itu keesokan harinya beredar di mana-mana — media online, koran cetak, bahkan baliho di beberapa titik kota. Safa tak pernah mengunggah satu pun, tapi ia tahu semua kerabat sudah melihatnya.

Puncak penyesalan para sepupu datang saat lebaran Idul Fitri. Saat berkunjung ke rumah Abu, beberapa di antara mereka berusaha mencairkan suasana:

 “Eh Ji, kemarin aku lihat fotomu sama gubernur… Hebat kali kau sekarang.”

“Saf, kamu cocok betul jadi nyonya pengusaha.”

Aji hanya tersenyum dan menjawab pendek,

"Alhamdulillah, semua karena doa orang tua."

 Abu yang duduk di kursi rotan sambil mengaduk kopi berkata pelan namun tajam:

"Makanya… jangan cepat menilai orang dari mahar atau asal usul. Dunia ini berputar. Kadang yang kita remehkan, malah jadi kebanggaan kita semua."

Hening menyelimuti ruang tamu. Tak ada lagi yang berani membalas.

Dan untuk pertama kalinya, cerita sepuluh mayam itu diceritakan dengan nada hormat — bukan cemoohan.

 Rahasia yang Tersimpan Bertahun-tahun

Hari kedua lebaran, suasana rumah Abu masih ramai. Kerabat jauh dan dekat datang silih berganti. Di tengah hiruk-pikuk itu, salah satu paman yang terkenal suka berkomentar pedas kembali menyinggung soal mahar.

 “Kalau kemarin Aji bisa bawa dua puluh atau tiga puluh mayam, tentu akan lebih membanggakan. Apalagi Safa kan anak bangsawan…”

Kalimat itu terdengar di ruang tamu. Beberapa sepupu tersenyum sinis. Safa yang duduk di samping Aji menggenggam tangan suaminya, tapi kali ini ia melihat Abu perlahan meletakkan cangkir kopinya. Abu menatap semua yang hadir. Nadanya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berat.

"Kalian ingin tahu kenapa saya tidak menuntut mahar lebih dari sepuluh mayam?

Ruangan hening. Semua pandangan tertuju padanya.

Abu mulai bercerita.

Beberapa tahun lalu, ketika ia dalam perjalanan pulang dari Pidie, mobil yang ia kendarai mengalami kecelakaan parah. Barang bawaan yang ia bawa — tas berisi uang ratusan juta untuk pembelian tanah — terlempar ke semak-semak.

Banyak orang menolong, tapi tak seorang pun yang tahu keberadaan tas itu. Abu sudah pasrah, menganggap uang itu hilang.

Dua hari kemudian, seorang pemuda datang ke rumahsakit. Bajunya lusuh, wajahnya sederhana. Ia menyerahkan tas itu utuh, tanpa mengambil sepeser pun. Pemuda itu adalah… Aji.

 “Abu, Umi, saya menemukan ini di pinggir jalan waktu lewat. Saya kira penting. Saya cuma ingin mengembalikannya,” kata Aji waktu itu.

Sejak hari itu, Abu menaruh hormat yang luar biasa pada kejujuran Aji. Ia berkata kepada Umi,

"Anak ini benar benar luarbiasa, Abu berdo’a semoga anak kita berjodoh dengannya, Kalau suatu hari anak ini melamar putri kita, berapa pun maharnya, akan saya terima. Karena harga dirinya lebih mahal dari emas yang bisa kita hitung." Cerita itu membuat ruangan terdiam. Beberapa bibi menunduk, para sepupu saling pandang. Rasa malu menyusup ke wajah mereka.

Aji hanya tersenyum kecil, Safa menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Abu menutup dengan kalimat tegas,

"Jadi jangan pernah bandingkan dia dengan menantu lain. Kalau kalian tahu nilainya, sepuluh mayam itu tak ada artinya dibanding kejujuran."

Sejak hari itu, tak ada lagi yang berani membicarakan mahar itu dengan nada merendahkan. Cerita ini justru menjadi kebanggaan baru keluarga besar.

Siapa sangka, menantu sederhana yang selama ini terlihat hanya menjual gorengan di kedai tepi jalan, ternyata adalah seorang dokter lulusan dengan pujian. Lebih dari itu, ia seorang pengusaha yang memiliki banyak toko, mengelola lini usaha mulai dari kuliner, jasa, klinik kesehatan, hingga mini market modern.

Dialah anak rantau yang dulu sering dihina karena hanya membawa mahar sedikit ketika melamar gadis bangsawan Aceh. Namun, di atas semua prestasi dan keberhasilannya, kisah kejujuran yang pernah dirasakan langsung oleh seorang tua—yang kini menjadi mertuanya—adalah catatan paling membanggakan dalam hidupnya.

Gadis cantik berkulit putih kuning, berhidung mancung, dengan garis keturunan Eropa-Arab, kini menjadi pendamping setia dalam mengayuh biduk rumah tangga yang mereka bangun di atas pondasi yang paling kokoh—kejujuran. Sebuah pondasi yang membuat setiap badai terasa lebih ringan, dan setiap langkah terasa lebih pasti.

Sejak itu, kisah tentang mahar sepuluh mayam bukan lagi bahan olok-olok. Ia berubah menjadi legenda kecil di keluarga itu—sebuah cerita yang akan diceritakan ulang pada setiap pertemuan keluarga, bukan sebagai aib, tapi sebagai pelajaran.

Karena orang akhirnya mengerti, bahwa harta bisa habis, jabatan bisa hilang, dan kemewahan bisa pudar. Tapi kejujuran? Ia akan bertahan seumur hidup, dan nilainya melampaui emas yang ditimbang atau mayam yang dihitung.

Di teras rumah Teungku Hasan, suatu sore, beliau tersenyum melihat menantunya pulang bersama putrinya. Di mata sang mertua, ia bukan lagi “anak rantau dari Jawa yang hanya bawa sepuluh mayam.” Ia adalah lelaki yang mengembalikan ratusan juta tanpa diminta, lelaki yang memegang janji seteguh genggaman tangan di hari ijab kabul, lelaki yang membawa putrinya bukan hanya ke rumah baru, tapi ke hidup yang aman dan terhormat. Dan di balik segala cemooh yang dulu pernah menimpa, kini tersisa satu kalimat yang selalu diulang Teungku Hasan pada setiap yang berani membanding-bandingkan:

“Sepuluh mayam itu tak seberapa. Kejujuran itu tak ternilai.”

Banda Aceh  10 September 2025

Saleh sibujangjauh

==================================================

CINTAKU TERBANG DI LANGIT BIRU




mnmjkkkjjjj


jkkjj

====================================================================






=========



==================




============







=========



vvv





========



====


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.........Menulis adalah cara hati berbicara ketika mulut tak sanggup lagi berucap"........  ===========================================...