Menolong Korban Kecelakaan
Beberapa waktu beralu, Sementara si pemuda menunggu
diluar ruangan untuk memberikan kesempatan dokter memberikan pertolongan setelah anak muda itu
juga membantu dokter memasangkan selang oxygent dan bantuan lain yang
dibutuhkan , .Ketika akhirnya dokter keluar dan berbincang bincang dengan
pemuda trsebut, yang tampaknya sangat akrab dengan dokter jaga, .Ji, ini siapa?
Keluaragmu?. Engga tau , bang, bapak itu tertabrak di depan kios saya, lalu
kami bersama sama membawanya kesini, jadi ,ente ga kenal? ,ya enga bang, baru
liat juga, orang kecelakaan langsung bawa kesini, dia ada ketiggalan HP atau
bawa keterngan lain, ji yang bisa ditemukan, sebb ini harus cepat oprasi,
waduh, ga tau ana, bang, tapi ini sempat ngmbil tasnya tadi, jawab pemuda itu. oh, ya udah coba buka aja, ji, mungkin ada kontak
keluarganya,perintah dokter, pemuda itu langsung membuka tasnya dan betapa
terperangahnya dia karena di dalam tas tersebut bergepok gepok uang bertumpuk
bercampur darah.lalu dia mencari cari di bagian lain dari tas itu sambil bergumam, untung sempat bawa
tas ini,kalau engga ga tau nasib ni duit, dan ketika akhirnya ditemukan sebuah
hp yang sudah hancur layarnya akibat benturan.
Karena dokter mendesak untuk melakukan oprasi maka
pemuda itu dengan tanpa ragu menanda tangani surat pernyataan dan bersedia
menanggung pembayaran rumah sakit setelah itu dia berbalik pulang kembali
kekedainya yang dia tinggal kosong tanpa ada yang menjaga karena terburu buru
menyelamatkan korban tabrak lari dalam kecelakaan itu. Beberapa hari kemudian
pemuda itu kembali ke rumah sakit dan bertemu korban yang sudah sadar dan masih
tertidur akibat anestesi, mengembalikan tas yang berisikan uang sambil meminta
maaf karena baru mengembalikan tas beserta isinya. Istri pak tua itu tertegun
,tak menayangka tas suaminya yang berisi uang beserta barang berharga lainnya
dapat kembai lagi kepadanya bahkan dalam keadaan di lakban coklat, betapa
gembiranya hati istri pak tua tersebut dia dan suaminya berniat memberikan uang
terimaksih pada sang pemuda,namun pemuda
menolaknya, merasa kurang nyaman karena
sudah merepotkan orang lain, maka istri si bapak memberikan seutas kalung pada
pemuda tersebut namun dia juga menolaknya istri
si bapak bercerita, setelah suaminya membawa kalung untuk diprbaiki di
tokonyadan di cat emas kembali, kalung tersebut milik putri satu satunya, juga merupakan anak semata
wayang keluarga itu, sibapak berniat menyetorkan uang hasil dagangannya ke
Banak Aceh di sebrang kios sang pemuda namun malang tak dapat ditolak dia
terserempet mobil dalam kecelakaan itu.
Dua kali penolakan bahkan uang pembayaran rumah sakit
yang ditalanginyapun hampir ditolaknya,sedangkan kalung emas berbandul mutiara tidak ditolak nya karena desakan dan paksaan
istri pak tua tersebut, padahal dalam tas tersebut ada uang cash yang sangat
banyak yang jika bukan pemuda jujur tentu sudah dimilikinya. Sambil berdoa
istri pak tua menyalami sang pemuda dalam hatinya berucap semoga putrinya
mendapatkan pasangan yang se jujur pemuda itu.
Dagangan ini bukan sekadar usaha kecil, melainkan cara
Aji menutup rasa galau dan mengalihkan pikirannya dari kenyataan pahit semasa
SMA dimana putusnya jalinan cinta yang dibina dua tahun bersama Sam, gadis satu
kelas yang sering menjadi pasanganya sebagai utusan sekolah di banyak lomba dan
olimpiade antar sekolah dan daerah,Sam akhirnya memilih menikah dengan kaka kelas
mereka dan menjauhi aji menjelang akhir perpisahan sekolah.Selama enam tahun
kuliah dia hanya fokus kuliah sambil menata hatinya yang masih terasa masih
begitu luka walau enam tahun telah terlewati di Banda Aceh. Di Jakarta, semasa
SMA setelah keluar dari pesantren, aji sebenarnya sudah memiliki usaha dengan
beberapa toko, tetapi menjeang keberangkatanya ke aceh karena lulus UMPTN tahun itu, toko tokonya di kosongkan
dan dia menyewakanya pada pedagang lain serta berkeras untuk merantau jauh
dengan alasan supaya mudah lulus karena di Jakarta begitu beratnya persaingan
masuk fakultas kedokteran apalagi universitas negri. Dan alasanya semakin kuat
karena namanya tertera sebagai calon mahasiswa yang lulus di fakultas
tersebut,hingga terdamparlah aji di kota Banda Aceh ini.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, datanglah Safa. Gadis berkulit putih bersih, jilbab warna pink nan lembut, dan senyum yang bisa membuat siapa saja melupakan penatnya hari. Dia memegang tas belanja kecil, dan berhenti di depan gerobak Aji."Bang, pisang gorengnya masih hangat, kan?" tanyanya, suaranya lembut tapi penuh semangat. Aji menoleh. Sejenak dia terpaku—bukan karena wajah cantik itu, tapi karena ada sesuatu di mata Safa yang terasa… jujur.fikiranya melayang jauh ke masa tahun 1996 akhir masa SMA dan gadis itu, mirip tetapi berbeda.... Dia buru-buru menjawab,
"Hangat sekali, Ka,. Baru diangkat." Safa tersenyum sambil meraih
gorengan yang dibungkus kertas minyak. Saat itu, Aji merasa ada sedikit hangat
lain yang merambat, bukan dari wajan, tapi dari detak jantungnya. Karena hujan
mulai kembali deras , si gadis tak lama berbelanja, ubi goreng, risol,pisang
goreng bahkan uli horeng khas beta wjuga dibelinya, dan dimasa depn makanan ini
menjadi media pengikat mereka berdua,
dua budaya dan adat yang jauh bertemu di sepotong uli gorengn dan secangkir
bandrek hangat di musim hujan bulan oktober.seperti juga sore itu, Hujan
sore itu turun rintik-rintik, seperti jarum-jarum halus yang menusuk udara
dingin. Di sebuah warung kecil di pinggir jalan, asap dari tungku kayu bakar
mengepul, membawa aroma jahe, kayu manis, dan gula aren yang menguar memenuhi
ruangan. Meja-meja kayu sederhana penuh goresan waktu, dan di sudutnya, ada
kursi kosong yang selalu ia duduki setiap datang ke kios ini. Safa menyingkirkan
tudung jas hujannya, menggantungnya di dekat pintu. Matanya langsung mencari ke
arah dapur terbuka, dan di sanalah dia—Aji—si pemilik kedai, tersenyum hangat
sambil mengaduk rebusan bandrek. Wajahnya memerah terkena uap panas, rambutnya
sedikit berantakan, tapi entah kenapa, di mata safa itu justru sempurna. “Seperti
biasa?” tanya Aji, suaranya lembut bercampur aroma manis dari panci. “Seperti
biasa. Tapi… kali ini manisnya sedikit lebih banyak,” jawab safa, separuh bercanda. Aji terkekeh, lalu
menambahkan sedikit gula aren lebih dari takaran biasa. Sementara bandrek itu
menggelembung, safa duduk dan mengamati
setiap gerakannya—cara tangannya memegang sendok kayu, caranya meniup uap
panas, bahkan tatapannya yang fokus seolah bandrek itu adalah sesuatu yang
harus disempurnakan, seperti hatinya yang mungkin diam-diam ia jaga untuk
seseorang.
Sore-sore
yang Berulang
Hari-hari
berikutnya, Safa sering datang kekedai Aji. Kadang membeli bakwan, kadang tempe
mendoan, kadang hanya duduk di bangku kecil di samping gerobak sambil menikmati
bandrek hangat yang Aji sediakan.
"Bang
Aji ini selalu kelihatan sibuk, ya," kata Safa suatu sore.
"Kalau nggak sibuk, nanti kepikiran hal-hal yang
nggak perlu," jawab Aji sambil tersenyum tipis.Safa menatapnya sebentar, seolah ingin bertanya
lebih jauh, tapi urung. Ada sesuatu di balik senyum Aji yang ia rasa bukan
sekadar lelah bekerja.Sejak sore itu, safa mulai sering membantu. Dia membungkus
gorengan, menyeduh bandrek, dan kadang ikut tertawa kecil saat pembeli
bercanda. Hubungan mereka tak lagi sekadar penjual dan pelanggan, tapi juga dua
orang yang saling mengerti.
Suatu malam hujan deras, pembeli sepi. Safa datang
membawa jas hujan, wajahnya basah oleh rintik air."Kenapa nekat ke
sini?" tanya Aji sambil memberinya handuk kecil. "Aku cuma nggak mau
kamu sendirian di tengah hujan," jawab safa, tersenyum. Detik itu, Aji
merasakan ada yang berubah. Bukan hanya sekadar rasa nyaman—ini lebih dalam. Hari-hari
berikutnya, percakapan mereka semakin hangat. Dari obrolan ringan soal cuaca,
hobi, hingga saling bertukar cerita tentang mimpi masing-masing. safa bercerita
ingin menjadi penulis dan tinggal di rumahdi desa yang teduh dan damai dengann
kebun,ternak kecil dan dekat dengan musholat. aji hanya tersenyum, tak pernah
mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Di tengah suara hujan dan aroma
mendoan, Aji merasakan hatinya hangat. Lebih hangat dari bandrek yang ia seduh.Seiring
dengan berlalunya hari,kedekatan mereka semakin intens, safa selalu datang ke
kosan aji yang berada di pinggiran kota untuk membantunya berbelanja bahan
dagangan bersama kepasar lambaro setiap pagi naik motor ASTUTI ( Astrea tujuh
tiga/1973 ) merah miik aji yang biasa dibawanya jualan dan ke kampus sejak enam
tahun lalu, motor tua ini walaupun sering mogok tetapi setia menjadi kendaraan
oprasional aji sehari hari, dan aji PD saja ketika ke kampus membawa kendaraan
kesayanganya ini, diletakan berbaris bersama mobil mobil mewah teman teman se
fakultasnya, aji merasa begitu PD dan sama sekali tak minder,walau banyak teman
temannya yang menyindir dan mentertawakanya diam diam J. Begitulah kedekatan dan keakraban mereka
berdua,sederhana,ceria dan penuh semangat jiwa muda yang selalu membara.
Suatu malam
hujan nan deras,sambil tersenyum aji menuis sebait perasaanya dalam ungkapan
puisi:
Gadis Berhijab Merah Muda
Di bawah langit kelabu sore itu,
hujan gerimis menari lembut di udara.
Kau datang—entah dari mana,
membawa senyum yang hangatnya
melampaui secangkir bandek jahe di musim hujan.
Jilbab merah muda itu…
membingkai wajahmu bagai fajar yang malu-malu.
Matamu menyimpan rahasia,
sementara hatiku sibuk bertanya:
siapakah gerangan adinda
yang Tuhan titipkan di antara rinai ini,
menjadikan gerimis saksi pertemuan pertama kita?
Suatu sore yang dingin setelah hujan mengguyur banda
aceh semalaman dan belum berhenti dengan rintiknya sampai sore hari, Aji dan
safa sedang melayani pembeli, tiba tiba didepan kios Aji berhenti sebuah mobil
sedan mewah,diiringi suara gaduh gadis gadis turun dari mobil itu sambil
bercengkrama dan tertawa riang masuk ke kios gorengan aji dengan wajah wajah
sumringah, wangi harum dari gadis gadis kampus yang merupakan teman teman
kuliah aji,dan menyapa Aji, Ga sangka
key ,ji, udah mau ribed ribed jualan beginian segala,, ya iya lah, sahut
teman wanita yang lain, si aji kalau ga julan mana bisa jajan, ha ha aha, semua
tertawa, mereka bercanda sesamanya,
sambil duduk dan minum bandrek tanpa menghiraukan safa yang terbengong melihat
mereka begitu akrab dan sesekali menyentuh aji dengan bebasnya, sementara aji
terdiam dan merasa tak enak pada safa, sampai seorang cewek berkata, Ji, ini
siapa? Cewe key yah?,sambil memandang ke arah safa yang terpana. Wah, ga
nyangka key, ji, diem diem, pantesan
selama ini mengabaikan aku. Begitulah candaan dan tawa mereka, sementara aji
diam sambil terus menggoreng.ketika akhirnya teman teman aji naik kembali ke
mobil dan pulang, safa terlihat sangat sedih, wajahnya memerah dan dia terdiam,
sementara aji masih terus menggoreng, ketika melihat ke arah safa, safa
berlaping muka dan berjalan keluar kios aji dan menjauh dengan sepeda motornya,
semenara aji memanggil,manggil, safa, safa, mau kemana, masih hujan, tetapi
yang dipanggil terus berlalu dengan cepat dan menyebrang jalan.karena kedai aji
sedang ramai pembeli, dia tak dapat meninggalkan kedainya untuk mengejar safa.
Gadis itu berlalu ditelan hujan yang semakin deras.
Sejak hari itu, safa tak pernah lagi terlihat dikedai
gorengan aji, tetapi aji masih berfikiran positif ,ah ,mungkin dia sibuk,
sementara WA yang dia kirimkan sejak kemarin malam tak satupun dibaca aplagi di
balas semuanya masih centang satu. Ajipun sibuk dengan aktifitasnya yang padat
dengan berbelanja dan berjualan dikedainya sambil selalu melihat ujung jalan
dimana safa biasanya muncul, semua WAnya tak ada satupun yang dibalas,sedangkan
untuk datang ke rumah safa, aji merasa segan karena selain belum pernah
berkunjung juga tak mengenal orang dari kampung sebelah tersebut.ditempat kostnya
aji tinggal bersama beberapa temannya yang juga sesama pedagang gorengan, sebab
itu ketika safa berkunjung ke rumahnya untuk pertama kali, di depan rumah
panggung tua berdinding kayu itu ada beberapa gerobak gorengan yang merupakan
milik aji dan teman temannya sesama pedagang yang satu profesi.
Sementara, sejak kejadian sore hujan itu, safa tiba di
rumah dengan basah basahan karena hujan airmatanya deras mengalir bersamaan
dengan air hujan yang membasahi pipi putihnya, matanya memerah,hatinya sakit
dan terluka, dia merasa selama ini aji hanya memanggapnya sahabat dan gadis
gadis kampus itu jauh lebih baik darn pantas buat aji daripada dirinya yang
hanya tamatan SMA,hatinya sedik dan terluka, sejak sore itu dia mematikan Hpnya
dan menukar nomernya, cintanya kandas bersamaan dengan air hujan yang jatuh
kebumi.
Sejak saat itu hari hari safa menjadi kelabu dan dia
tak berniat untuk datang lagi ke kedai gorengan aji ia tak mau
menghubunginya,setiap hari mengurung diri dikamarnya selalu bersedih, hari
harinya menjadi kelabu dan yang dia raskan tempat paling nyaman hanyalah tidur
dan termenung dikamarnya sambil mengingat momen momen manis nan sedehana
bersama aji yang saat ini mungkin sudah bersama satu diantara gadis gadis modis
anak orang kaya tersebut. Ayah safa yang merasakan perbuahan anak gadisnya
merasa kasihan dan menyangka safa sakit ,tetapi beberapa kali membawanya ke
dokter tak ada satupun penyakit yang terdeteksi, sementara dari hari ke hari
wajah cerianya semakin tirus dan bersamaan dengan harafannya yang semakin
pupus,suatu sore setelah ashar,ayahnya membawa seorang ustadz yang diminta
untuk meruqiyah safa, mungkin ada ghaib yang menggangunya hingga kesehatan
pisik dan jiwanya terguncang,beberapa kali ustadz dan tengku didatangkan untuk merukiyahnya
tetapi sama sekali tak ada perubahan, wajahnya semakin tirus dan tuguhnya
semakin kurus karena tak selalu mau makan,ketika kunjungan ustadz yang kesekian
kalinya beliau memahami bahwa inilah yang oleh orang di kamoungnya disebut sakit angau dan tentu tak ada obatnya
selain dipertemukan, ustadz menyarangakan untuk menanyakan perlahan lahan siapa
orang yang diam diam sudah mengisi hatinya, jika dapat tentu akan diusahakan
untuk dipertemukan, dan tugas menanyakan itu diserahkan padaaibunya safa.
Sementara itu sudah tiga bulan ini Aji juga uring
uringan, jarang dagang dan selalu termenung sampai beberapa hari bahkan minggu
tak terlihat di kostnya hingga teman temannya dimushola mendatangi kostnya
sementara aji tak ada.
Walaupun aji sibuk di kampusnya dengan persiapan wisuda dan jualan secara bergatian dengan temannya, dia selalu ada dalam jamaah subuh dan beberapa kesempatan sholat maghrib dan isya,dia juga selalu ada dipengajian remaja di tempatnya kost serta dekat dengan ustadz yang mengajar ngaji fiqh malam sabtu dan malam rabu dimushola kampung tempat dia tinggal, kadang jika ustad tak datang ajilah yang mengimami sholat hingga aji dekat dengan pemuka kampung baik Pa lorong maupun pa kecik dan beberapa tuhapeut. Kalau ada gotong royong ataupun kegiatan kampung aji selalu ada dan dia juga menjadi donatur dan penyumbang tetap semua acara termasuk zikir jumat pagi dan wirid yasin malam jumat,juga pengajian pengajian mingguan remaja dan orang tua ,aji selalu tak melewatkan berderma, orang kampung taunya, anak rantau ini pemuda soleh yang dermawan,mungkin karena dia pedagang dan masih bujangan jadi selalu megang uang.
Beberapa bulan telah berlalu sementara sama sekali aji
tak mendapatkan kabar tentang safa, hingga disuat sore hujan nan rintik dia menerima secarik surat
yang dibawa seorang gadis kecil sambil
mengakatan ini dari Ka” Safa.
Kepada kamu, yang
pernah kucintai dengan seluruh hatiku,
Maafkan aku jika surat
ini menjadi cara terakhir kita berbicara. Aku menulisnya dengan tangan yang
gemetar, karena setiap kata terasa seperti duri yang menusuk hatiku sendiri. Aku
pernah berjanji untuk berjalan di sisimu, melewati hujan dan terik
bersama-sama. Aku pernah membayangkan kita menua di beranda rumah sambil
tertawa mengenang masa muda. Tapi hari ini, aku harus mengakui bahwa impian itu
tak lagi bisa kugenggam.
Orang tuaku sudah memutuskan.
Mereka memilihkan seseorang untuk menjadi pendamping hidupku, dan aku… aku tak
punya kekuatan untuk menolak. Aku mencoba, sungguh mencoba, tapi air mata ibuku
dan nada tegas ayahku membuatku terdiam. Mereka bilang ini demi masa depan,
demi keluarga, demi nama baik. Dan aku—meski hatiku berontak—harus tunduk. Aku
tahu ini akan melukai kita berdua. Aku tahu kau akan merasa dikhianati. Tapi
percayalah, tak ada satu pun dari ini yang lahir dari keinginanku. Seandainya
cinta saja cukup untuk melawan takdir, aku akan berlari kembali ke pelukanmu
tanpa ragu.
Terima kasih karena
pernah menjadi rumah bagi hatiku. Terima kasih untuk semua senyum dan doa yang
tak pernah putus. Simpanlah kenangan kita di tempat yang aman, seperti aku akan
menyimpannya di sudut hati yang tak akan pernah dijangkau oleh siapa pun. Jika
suatu hari kita bertemu lagi, tolong tatap aku dengan senyum. Biar aku tahu,
meski kita tak lagi bersama, kita pernah saling membahagiakan.
Selamat tinggal, kekasihku.
Cintaku akan selalu ada—hanya saja, kini tak bisa
lagi aku wujudkan.
— Aku, yang tak pernah ingin pergi
Tangan aji gemetar dan suratpun terjatuh menyentuh
adonan tepung, masuk kedalam adonan bakwan meresapkan rasa gurih adonan bakwan
dan tahu goreng membuat sang risalah basah dan sedikit terkoyak, hatinya
bergemuruh ,dua kali sudah cintanya kandas, belum kering luka lama, kini
bagaikan sembilu yang mengiris luka menorehkan luka lain yang lebih sakit. Dia
terdiam, matanya terpejam nafasnya tersengal, dan,.... gorenganpun hangus tanpa
sadar,karena nyala kompor yang tak terkontrol.Air matanya meleleh dadanya sakit
dan dia tersenyum getir, Tawaqaltu Ala Allah.....fawaidu amri ila Allah.....
Hari hari aji semakin sumpek, dagangan tak terurus,mirip dengan tahun 1995 akhir ketika harapanya juga kandas bersama gadis cantik, nan jauh di sebrang dibelantara jakarta.hari harinya diisi dengan banyak di mesjid, bersholawat dan berzikir, diapun banyak pergi ke kampus menghilangkan gundah hatinya, di taman depan pustaka kampusnya dia duduk sendirian merangkai kata, menulis doa dan melantunkan harapan bersamaan dengan sholawat nabi, memohon keteguhan hati dari betapa beratnya kisah hidup anak rantau yang terlunta lunta sendirian dibelantara cinta.....
Hujan semakin deras,Aji membuka tutup termos yang
berisikan bandrek buatanya,dia teringat saat hujan begini kala dia bersama safa
berjalan bersama di bawah payung hitam sambil menenteng setermos kecil bandrek,
ingatan itu membawanya terbang jauh, sambil bergumam;” hujaaan, jikolah hujan
ahti den ibo, mengenang maso,kisah nan lamo, kisah sepayung kito baduo,
hujaaaan, manjadi saksi putusnyo cinto, suratan takdir Tuhan kuaso.....hujaaaan.......
Petang ini, .bersamaan
derai hjan yang membahasahi kampus, ....hatiku seperti laut yang kehilangan
ombaknya. Sepi, datar, dan dingin. Kau pergi tanpa sempat kupegang lebih lama,
meninggalkan jejak yang tak akan pernah pudar di langkah-langkah hidupku.Aku
duduk sendiri di beranda, memandang langit yang kelabu. Di kepalaku, kenangan
kita berputar seperti film lama—tawa kita saat hujan turun, genggaman tangan di
sore yang hangat, tatapan matamu yang selalu membuat dunia terasa sederhana.
Semua itu kini hanya jadi lukisan di dinding hatiku, yang tak lagi bisa kusentuh.
Hidup tanpa cinta darimu terasa seperti taman tak berbunga—daunnya masih ada,
tapi warnanya pudar. Hanya angin yang lewat, membawa debu, tanpa harum bunga
yang pernah mengisi hari-hariku.Di sela sesak ini, bibirku bergetar mengucap,
“Allahumma
shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.”
Sholawat itu mengalir, mencoba meredakan luka yang
menganga. Aku tahu, hanya dengan mengingat-Nya dan Rasul-Nya, hati yang retak
bisa kembali utuh. Aku berdoa, semoga langkahmu di jalan yang baru selalu
diberkahi. Semoga hatimu tenang di tempat yang kau pilih, meski bukan di
sisiku. Dan semoga aku diberi kekuatan untuk menerima takdir ini dengan lapang.
Jika rindu ini suatu hari menyesakkan lagi, biarlah aku mengobatinya dengan
doa, mengirimkannya ke langit malam bersama sholawat, berharap Tuhan
menyampaikan pada hatimu bahwa di sini… ada seseorang yang pernah mencintaimu
dengan sepenuh jiwa, dan masih mendoakanmu meski kita tak lagi bersama.
Allahuma sholo ala haja nabiyil karim, sayidina
muhamadin wa ala alihi wa sohbihi ajhmain.
Hujanpun turun sekamin deras, rintiknya membasahi
taman depan pustaka, airnya menggenagi selokan kecil, mahasiswa dan mahasiswi
berhamburan mencari tempat berteduh dan ajipun berlalu kedalam mushola menanti
panggila ajhan maghrib di sore nan keabu...
Berberapa hari sebelum itu, kedua orangtua safa sudah
bersetuju untuk menjodohkannya pada seorang pemuda kenalan ustad, juga murid
beliau,yang ustad menilainya pantas untuk seorang gadis anak pemuka masyarakat
dan keturunan bangsawan aceh, setelah duduk mufakat dan berunding,ustadz
berjani akan mengabarkan kepada keluarga Tgk Haji Hasan Leumik yang merupakan
saudagar emas dari jaman dulu dulu tentang perjodohan anak gadisnya
itu.sekeluarga percaya dengan pemuda yang dijodohkan lewat ustadz karena ustadz
mengenal baik pemuda tersebut walau bukan keturunan aceh tetapi Teungku haji
hasan leumik begitu terperangah ketika melihat fhoto sang pemuda dan langsung
menyetujui perjodohan itu, nafasnya tersedak, wajahnya memerah dan airmatanya
mengair, Ya Allah, Engau rupanya mengabulkan munajat dan do’a do’a hambamu yang
lemah ini,akhirnya beliau menganggap do’a do’anya selama ini terjawab sudah,
untuk mencari menantu yang jujur karena ternyata dari obrolan ustad dan teungku
beiau tau bahwa pemuda inilah yang dicari selama beberapa tahun ini, yang
menghilang begitu saja setelah menyelamatnkanya dan megembalikan tas berisikan
uang ratusan juta , karena sangat besar
kemungkinannya merupakan pemuda yang meyelamatkannya
beberapa waktu lalu ketika beliau mengalami kecelakaan di depan Bank Aceh saat
ingin menyebrang jalan.hari itu dimana sang pemuda datang, teungku haji hasan
leumik sempat menitipkan kalung berliontin mutiara dengan ukiran tanda keluarga
besar mereka sebagai kenang kenangan pada pemuda tersebut karena sudah berjasa
besar pada dirinya tetapi juga menolak pemberianya berupa uang tunai.Hnaya
kalung tersebutlah yang sempat dititipkan untuknya kepada istrinya ketika
pemuda itu datang sedangkan beliau masih tertidur lagi karena pengaruh anastesi
pada oprasi kedua.
Sehabis sholat isya dan pengajian mingguan malam sabtu, ustadz teungku tarmizi mendekati aji dan mengajaknya keluar meunasah serta mengajak ngobrol panjang kali lebar kali tinggi, teungku bertanya tentang kuliah aji , tentang usahanya dan tentang masa depannya, , ya alhamdulilah teungku dua minggu lagi akan wisuda dan saya mungkin aakn PTT guna menyelesaikan tugas wajib seorang dokter di awal kariernya, sedangkan julan seama ini sudah macet tengku, klau saya pribadi, itu teman yang anjutkan, saya stop dulu, jawab aji. Teungku melanjutkan: “ apa yang menyebabkan macet?,lalu aji menceritakan masaahnya pada teungku dengan rinci, sampai teungku tertawa,ya udah tak usah difikirkan,begini, ji, Ulon ada kenalan jamaah di kamoung lain, yang sedang mencari menantu, apakah kamu bersedia menikah dengan anak gadisnya? Jika droen bersedia, ulon sungguh bergembira, karena selain anaknya juga baik agamanya, orangnya cantik, orang aceh memang rata rata cantik kan? Sambil menepuk bahu aji , tengku tersenyum, , Aji menjawab, teungku, selama ini , saya sudah dua kali gagal dalam hal ini, saya rasa, anak gadis ketiga pun jika dapat unjungnya nantiakan menmbah luka hati saya, sebaiknya tawaqal ala Allah, saya terima nasehat dan saran tengku untuk menikah dengan gadis itu, alhamdulilah hirobil alamin, tengku berucap dengan rasa syukur, apakah drone mau melihat fhotonya dulu, ji?tanya tengku, Tidak usah tengku , saya percaya dengan tengku, tengku tersenyum dan menyalami aji,lalu berkata, maksud baik tak boleh ditunda tunda, ji,jika sudah mantap insya Alah malam ini drone istihoroh dan memohon pada Allah semakin dimantapkan hati, tiga hari lagi, insya Allah ulon dateng ke rumah drone, nnati kita persiapkan bawaan untik acara lamaran, oh,iya ,aji, bukan masud tengku menyepelekan drone, jika ada yang kurang tengku bersedia membantu finan sial untuk acara ini, aji menjawab dengan tersenyum:’ tak usah tengku, terimakasih ,saya ada tabungan dan bersedia, Cuma mau bertanya tengku, ini sebaiknya berapa maharnya?sebab tengku bilang ini anak keturunan bangsawan? Tengku berkata, jika ampu 10 mayam sudah cukup, ji, mereka tak mengharapkan banyak darimu, karena seain orang berada, Abunya juga sangat mengenal mu, dan beliau berharap drone lah yang menjadi menantunya, Aji terperangah mendengar ucapan teungku dan berkata: “mengenal saya,? Apakah beliau salah satu jamaah di mesjid atau mushola kita, teungku? atau dosen saya atau kerabat mereka? Bukan, bukan ji, beliau mesti mengenalmu dan kamu juga mengenalnya, nanti lah, berdo’asaja, kalau maksud baik dan ada jodoh, insya Allah berkah selalu ada.Percakapan pun ditutup dengan janji untuk bertemu di rumah aji guna menyiapkan barang bawaan sekalian melangsungkan pernikahan dua minggu lagi.
Malam itu, aji masih mengingat safa dan berkata, safa,......
mungkin kita tak berjodoh, saat ini akan ada gadis lain yang akan bersemayam
dalam hatiku, dan kamu juga dalam waktu dekat akan ada yang meminangmu, dengan
kehendak yang maha kuasa, semoga dirimu tak mengingat lagi pertemua kita nan
sebentar, bukannya perpisahan yang ku tangisi, tetapi mengapa ada pertemuan yang
berujung sakit,....sampai disini kisah kita dan selanjutnya kita tak boleh
saling mengingat kembali, karena menjaga perasaan pasangan kita masing masing
dan anggap saja hanya mimpi disiang hari seakan tak pernah terjadi, mari kita
isi hidup kita maisng masing dengan tujuan yang lebih luhur. Malampun larut dan
aji tertidur dengan damai malam itu sementara tasbeh digital masih bertengger
dijarinya mengiringi bacaan shoolawat yang ke 997 malam itu..
Jam berganti, siang dan malam bertukar mengikuti kehendak Ilahi, seiring dengan bergantinya waktu Hari yang ditentukanpun tiba.....pagi itu dirumah teungku tarmizi sudah banyak orang tua tua, Tuha peut dan para pemuda berkumpul untuk Intat linto, mengiringi calon pengantin pria menuju rumah calon pengantin wanita atau dara baro.tiga mobil bak pickup penuh dengan barang hantaran dan satu mobil Paero terbaru dihiasi bunga bunga didepanya siap mengantar linto baro menuju rumah dara baro untuk melakukan izab qobul dan sekaligus resepsi pernikahan sementara dua bus dan beberapa mobil lainnya mengiringi dibelakang, teman teman aji, dari tempatnya tinggal bersama dengan para pemuda dan kaum ibu serta gadis gadis juga ikut mengatra walaupun sebagian dari gadis gadis itu menyesalkan peristiwa ini karena berharap diri mereka masing masinglah yang akan duduk dipelaminan bersama aji.tetapi Tuhan dsudah mengatur jodoh kita masing masing dan hari patah hati sekampung pun berlalu sembari berlalunya mobil pengantin meninggalkan kampung aji menuju rumah dara baro.
Di hari yang sama, terlihat kesibukan di rumah teungku haji hasan leumik, kesibukan luarbiasa sejak tiga hari lalu, seluruh pemuda, perangkat desa hadir untuk ikut bantu bantu mensukseskan walilaatul urus pernikahan putri beliau satu satunya, Safana nurul qolbi, yang menjadi bunga desa di kampungnya, cantik jelita,puth kuning kulitnya, hidung mancung keturunan Eropa Arab, penuh sopan santun dan mahasiswi di UIN Banda Aceh .Walaupun masih semester enam tetapi kedua orangtuanya menjodohkan dan menikahkannya pada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya sama sekali, hanya percaya pada orangtuanya sebagai bakti yang tak bisa digantikan, anak gadis yang solehah dambaan dan harapan kedua orangtuanya.Dua ekor sapi sudah di potong dan dimasak dalam belanga besar,
yang terhidang begitu banyak,pelaminan megah berdiri di bawah tenda ber AC,menandakan rasa syukur yang mendalam hari ini menikahkan anak gadis satu satunya pelanjut keturunan haji hasan leumik pemuka masyarakat dan pedagang emas di pasar Aceh. Sementara majlis tempat diadakannya ijab qobulpernikahan ditematkan di tengah ruangan dalam rumah nan megah dihiasi dengan kaligrafi bernuansa pinto aceh nan megah.Puncak acara adalah hari ini dimana akan dilaksanakan ijab qobul pernikahan untuk mengikat dua remaja yang dijodohkan tanpa pernah saling mengenal sebelumnya.Sesaat setelah mobil penganten tiba, perwakila sohibul hajat yaitu sohibul baik menyambut rombongan dan kedua pak keucik dari dua desa saling bersalaman dan ramah tamah, sementara calon pengantin pria yang terlihat gaagh, tenang dan penuh pancaran ketaqwaaan duduk didepan penghulu, rangkaian acarapun dimulai dari mulai membaca ayat ayat suci al quran sampai dengan sambutan
para teungku imam dari dua desa, dan acara puncakpun dimulailah dengan ucapan istighfar dan penghulu melakukan izab qobul:” saudara Muhamad Aji bin haji suibah, saya nikahkan anda dengan Cut Safanah Nurul Qolbi binti haji Hasan Leumik dengan mas kawin sepuluh mayam emas dibayar tunai,.... sekali ucap sekali tarikan nafas tanpa jeda, pengantin pria menyambut ucapan penghulu dengan sangat yaqin, dan ketika penghulu bertanya, bagaimana saksi? Sah? Semua orang termasuk saksi mengatakan SAH. Alhamdulilah, hadirin berucap bersama dan acara ditutup dengan do'a yang dipimpin teungku imum kampung pengantin wanita. Ketika acara izab qobul selesai, seorang gadis dituntun keluar ruangan yang merupakan remaja wanita yang baru saja sah menjadi seorang istri dari pria di depannya,Dengan jalan perlahan dan wajah tertunduk malu malu, sang pengantin wanita di dudukan di samping suaminya, saat itu mata pengatin wanita terbelalak nyaris kluar dari tempatnya karena saking terkejutnya dan wajahnya memerah tanpa sengaja dia berucap” bang Aji?pengantin priapun tersentak ketika namanya disebut oleh suara yang tak asing lagi dialah saat ini istri yang baru dinikahinya, dia tersenyum lebar sambil berkata, Safa,... senyumnya makin melebar saat menyebut nama istrinya berkali kali, para hadirin tersenyum dan banyak yang bergurau, wah, udah saling kenal rupanya, sebab selama ini informasinya sang pengantin tidak pernah bertemu sebelumnya ternyata sudah saling mengenal, safa menjuurkan tanagnnya untuk mencium tangan aji, dengan enuh kasih sayang aji mengulurkan tanagnnya dan memakaikan cincin kepada istrinya.
Wajah keduanya tak pernah lepas dari senyum dan bergandengan tangan menuju pelaminan, setelah bersalaman dengan orangtuapengantin, sementara kedua orangtua aji tak satupun yang datang dari kota besar nun jauh disana, tetapi teman teman dan para sahabatnya termasuk tengku tarmizi sekeluarga hadir memberikan do’a restu untuk keduanya, banyak tamu pengantar pengatin pria dan acaramakan pun berlangsung dengan penuh rasa syukur sementara aji dan safa masih tak percaya denganpertemuan dan rencana yang allah swt takdirkan untuk mereka berdua, senyuman keduanya tak pernah lepas dari mereka. Safa tak melepaskan tangan aji sedtetikpun dan berbisik, nanti tolong kaish au kenapa bisa jadi begini, ajipun tersenyum dan berkata, sudah taqdir jodoh kita berdua......keduanya bersatu dalam ikatan cinta yang tak pernah mereka duga dan kebahagiaan luarbiasa bagi keduanya,
Dikamar pengantin
Jam lima sore semua tamu undangan sudah pulang, hanya kerabat dekat dan para Tetangga yang masih berada di rumah sohibul hajat untuk membantu merapikan dan membereskan semua perlengkapan acara yang baru saja berlangsung, makanan makana di dapurpun masih sangat banyak, ibu keucik membagikan makanan makanan untuk para tetangga kerabat dan sanak family yang datang membantu, juga bahan bahan mentah masih banyak tersisa di dapur, para tetua berkumpul diruang depan sambil berbidara dan mengatur naak muda untuk membereskan tenda korsi dan pemalinan, sementara itu di kamar pengantin, yang masih beraroma melati, Safanah duduk di ranjang berhias. Aji, suaminya yang kini resmi menjadi linto baro, duduk di tepinya.
Hari ini, yang terdengar bukan ucapan selamat, melainkan desas-desus bercampur amarah.
"Sepuluh mayam? Untuk anak gadis bangsawan Aceh? Malu kita."
"Itu
pun dari anak rantau Jawa, tak jelas asal-usulnya."
"Bandingkan dengan menantu saya, ASN
golongan dua saja bisa kasih mahar jauh lebih besar."
Suara itu
makin nyaring, tidak lagi hanya bisikan. Seorang sepupu laki-laki, suara
beratnya menusuk ruang tamu.
"Bang
Hasan, terus terang kami kecewa. Tak pantas anak keluarga kita menerima mahar
sekecil itu."
Seorang bibi
ikut menimpali,
"Kalau
di daerah dia mungkin wajar murah. Tapi di sini? Anak kita ini keturunan darah
biru, Bang. Tidak boleh diremehkan."
Teungku
Hasan tetap duduk tenang, menatap gelas kopi di tangannya. Ia tidak membalas,
hanya tersenyum tipis. Istrinya yang duduk di sebelahnya memegang tangan
suaminya, memberi isyarat untuk tetap diam.
Seorang
keponakan yang bekerja di kantor pemerintah, suaranya terdengar getir,
"Kalau
saya, tak akan setuju. Malu keluarga. Orang lihat mahar kecil, dikira kita
sudah tak berharga lagi."
Safa yang
mendengar dari dapur hanya menghela napas. Ia tahu, omongan itu bukan hanya
untuk Aji, tapi juga sindiran untuknya.
Namun di ruang tengah, Teungku Hasan hanya berkata pada istrinya dengan suara rendah,"Drone mandum, sampai mati pun, tak akan dapat menantu seperti menantu kita."
Tapi bisik-bisik mulai berembus di warung kopi, di kebun, di ladang, di sawah dan halaman rumah. Beberapa hari setelah keluarga Teungku hasan leumik menerima rombongan linto baro, menikahkan anak gadisnya, Safanah. Seorang dara ayu yang terkenal bukan hanya karena paras cantiknya, tapi juga karena darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya—keturunan uleebalang masa silam. Yang menjadi bahan perbincangan bukanlah siapa yang melamar, melainkan jumlah mahar yang diserahkan: hanya sepuluh mayaml Para sepupu dan keponakan menggoreng masalah ini dengan matang.mereka membuat sindiran di status WhatsApp..Kata-kata itu menyebar cepat, dari satu ponsel ke ponsel lainnya, dari mulut ke telinga, hingga menjadi cerita yang dibumbui macam-macam.
“Murah sekali mahar tahun ini… nasib istri orang rantau, hanya segitu kemampuannya.”
Mereka
tertawa sambil menyeruput kopi. Di sudut warung, kabar ini menyebar cepat.
Di warung kopi, suara lelaki paruh baya terdengar lebih keras dari bisik angin laut.
"Sepuluh
mayam? Astaghfirullah… untuk anak bangsawan? Tak pantas! Kalau bukan dua puluh
mayam, jangan bicara," ujarnya sambil menyeruput kopi hitam. Di halaman
rumah-rumah tetangga, kaum ibu sibuk menyapu sambil saling mencondongkan badan,
suaranya menurun tapi penuh rasa ingin tahu.
"Katanya anak gadis bangsawan, tapi maharnya cuma segitu. Apa tidak malu sama orang kampung?"
Desas-desus itu berjalan cepat, seperti asap yang
mencari celah keluar. Ada yang membandingkan dengan lamaran anak Pak Geuchik
tahun lalu, yang menerima mahar dua kali lipat. Ada pula yang menduga-duga
bahwa keluarga Teungku Hasan leumik sedang kesulitan, atau mungkin… sudah lupa
pada adat yang selama ini dijunjung tinggi.
Namun, di balik tembok rumah panggung yang megah,
Teungku Hasan duduk tenang. Di sampingnya, safanah memandangi cangkir teh
yang sudah dingin. Ia tahu, di luar sana, orang-orang sedang membicarakannya.
Tapi ia juga tahu alasan abunya menerima sepuluh mayam itu: suaminya,
seorang pemuda alim yang sederhana, telah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih
mahal dari emas—kejujuran dan kebaikan hati.
"Safanah," kata abunya lembut, "mahar itu bukan untuk memamerkan kemewahan. Mahar itu saksi, bukan
perlombaan. Emas bisa berkurang nilainya, tapi iman, kejujuran dan akhlak tidak akan pudar."
Safanah tersenyum
tipis. Di luar, suara bisik-bisik masih ada, bahkan mungkin akan semakin ramai
ketika malam tiba. Tapi ia memilih percaya pada kata abu nya. Lagipula, lidah
orang kampung memang sulit dihentikan, tapi kebahagiaan rumah tangga tidak pernah
ditentukan oleh jumlah mayam yang diterima.
Dan ketika
malam menjelang, lampu-lampu rumah mulai redup, desas-desus itu tetap berputar.
Tapi di hati safanah, yang ada hanyalah doa agar pernikahan ini menjadi
berkah—meski hanya bermahar sepuluh mayam.
"Sepuluh Mayam, Harga Sebuah Nama"
Hujan baru
saja reda, tapi hawa panas terasa di udara—bukan karena matahari, melainkan
karena desas-desus yang berputar cepat.
Kabar itu
meledak sejak subuh: anak gadis Teungku
Hasan leumik, Safanah, dinikahkan dengan mahar hanya sepuluh
mayam.
Bukan anak
gadis biasa.
Bukan pula
keluarga biasa.
Safanah
adalah darah bangsawan—keturunan uleebalang yang selama ini disegani.
Di warung
kopi, suara suara semakin nyaring, "Sepuluh mayam? Untuk anak bangsawan?
Ini penghinaan terhadap darah biru!"
Seorang
pemuda brandal yang mengidamkan safanah tetapi tak direstui tengku hasan menimpali
dengan nada mencibir.
"Katanya keluarga terpandang… apa sudah lupa adat? Orang kampung biasa saja bisa sampai dua puluh mayam."Asap kopi hitam membubung. Para lelaki duduk mengelilingi meja, suara mereka penuh nada menggoda dan meremehkan.
LELAKI 1
Katanya anak
darah biru… mahar cuma sepuluh mayam.
LELAKI 2(tertawa)
Itu mah
setara lamaran anak nelayan kemarin!
Di sudut
lain, rumah Mak Cik Syamsiah yang jadi pusat kumpul ibu-ibu sore itu dipenuhi
bisik-bisik.
"Ini
pasti karena laki-laki itu orang biasa. Mana pantas setara dengan darah
bangsawan."
"Atau
jangan-jangan… keluarganya sudah susah?"
Desas-desus
menjadi tajam, menusuk telinga keluarga Teungku hasan leumik
Ketika Aji tak lagi bersama mereka, Saudara-saudaranya sendiri mulai menegur. Abang tertuanya, Teungku Harun, datang sore itu dengan wajah merah. TEUNGKU HARUN(abang sulung, nada tinggi)
Hasan!.... Kau mau menodai nama keluarga? Anak gadis bangsawan dijual murah dengan sepuluh mayam? Malu kita nanti di hadapan ureng gampong."Sepuluh mayam,hasan? Untuk anak bangsawan? Kau mau kita jadi bahan tertawaan gampong?Apalagi linto baro itu anak rantau dari Jawa. Bukan darah kita, bukan keluarga kita. Di daerahnya, mungkin gadis dikasih mahar murah, tapi di sini… lain, Hasan!
Teungku hasan menarik napas panjang.TEUNGKU IBRAHIM(datar, tapi mantap)
"Harun, .....mahar itu bukan soal harga diri keluarga. Itu soal kesanggupan suami dan restu dari Allah. Aku tak ingin membebani dia hanya karena gengsi kita."Harun, ...mahar itu bukan untuk pamer. Aku terima sesuai kemampuan Aji, Dia anak baik, berilmu, dan sanggup membimbing safanah. Itu yang penting
.TEUNGKU HARUN ( menepuk meja)
"Kau pikir orang kampung akan peduli alasanmu? Mereka akan bicara,hasan! Dan sekali nama kita jatuh, tidak akan terangkat lagi!"Orang kampung tidak peduli alasannya! Mereka lihat angka! Kau ingat, ini bukan cuma soal anakmu, ini soal nama keluarga!
SAUDARA
PEREMPUAN(menyindir)
Bang Hasan,
orang kampung sudah bercakap. Malu kita, bang. Ini anak keponakan kita, bukan
orang sembarangan.
Beberapa
sepupu dan keponakan yang baru pulang kerja—sebagian ASN, sebagian honorer—ikut
duduk. Ada yang tertawa kecil, ada yang menatap sinis.
SAUDARA
1
Hasan, kita
minta tambahan mahar. Ini harga diri keluarga bangsawan!
TEUNGKU
HASAN(tersenyum tipis)
Harga diri
bukan di emas. Harga diri ada di hati yang tahu menjaga.
Saudara-saudaranya
saling pandang, merasa tak puas. Mereka menggerutu.
Suasana memanas. Beberapa saudara perempuan berbisik-bisik sambil saling melirik.
Sementara itu di dalam kamarnya, di balik pintu safanah duduk di tepi ranjang, tangannya meremas kain jarit. Matanya berkaca-kaca, tapi wajahnya tegar. Dia mendengar suara abu nya,abuah dan pak cik pak ciknya berdebat di luar., Safanah mendengarkan dengan dada berdebar. Ia tahu, suaminya—Aji —adalah pemuda alim yang sederhana. Sepuluh mayam itu sudah lebih dari setengah tabungan hidupnya.
safanah
membuka pintu, melangkah ke ruang tamu.
SAFANAH(tegas, menatap semua)
Kalau adat hanya untuk gengsi, apa gunanya? Aku mau menikah dengan orang yang menjaga hatiku, bukan menuruti selera tetangga.
Semua
terdiam. Harun memandangnya dengan tajam.
TEUNGKU
HARUN
Kau akan
menyesal, safa. Orang kampung tak akan lupa.
SAFANAH(mantap)
Biar saja.
Yang penting aku tak lupa siapa yang membuatku bahagia.

"Bang,
besok beneran pagi yah?" katanya, menatap suaminya penuh harap.
"Iya, insya Allah… pagi abis subuh," jawab Aji, disambut tawa kecil keduanya.
Dengan motor Astutinya, ( astrea tahun 1973 )Aji melaju pelan meninggalkan rumah Teungku Hasan.Dari balik jendela ruang tamu, tatapan para sepupu dan kerabat Safa mengikuti punggung Aji yang semakin jauh. Mereka kembali melanjutkan obrolan—setengah berbisik, setengah sindiran."Beda that menantu nyoe… coba lihat menantu lon, ASN walau golongan dua, tapi mantong bisa bawa mahar leubih banyak."
"Betul.
Cuma sepuluh mayam dari anak Jawa… hana jelas asal-usulnya."
Sepupu-sepupu Safa kembali berbisik. Tapi kali ini, Safa tak peduli. Angin pagi menyentuh wajahnya, dan ia tahu—ia sedang melangkah menuju hidup yang ia pilih, bersama lelaki yang memegang janjinya."Menantu orang rantau, anak Jawa, tak jelas asal-usul. Mahar cuma sepuluh mayam. Jauh dari pantas untuk anak gadis keturunan bangsawan Aceh."Namun, Teungku Hasan dan istrinya hanya diam. Mereka tidak tergoda untuk membela atau menjelaskan. Hanya mereka berdua yang tahu rahasia besar itu: bertahun-tahun lalu, saat kecelakaan menimpa Teungku Hasan, ratusan juta rupiah miliknya tercecer. Tak ada yang tahu kecuali Allah, dirinya, dan Aji—yang kala itu hanyalah pemuda perantau biasa. Tanpa berpikir dua kali, Aji mengembalikannya utuh, tanpa meminta imbalan. Kejujuran itu membekas di hati Teungku Hasan, lebih berharga dari sekadar tumpukan emas atau jumlah mahar yang gemerlap.
Begitulah
kesimpulan mereka. Sebuah penghakiman cepat, tanpa mau tahu cerita yang
sebenarnya.
Fajar belum sepenuhnya merekah. Udara Aceh masih basah
oleh embun. Jalanan kampung sepi, hanya sesekali terdengar kokok ayam
bersahut-sahutan. Dari kejauhan, suara motor Astuti memecah sunyi. Lampu
depannya menyorot kabut tipis yang masih menggantung di jalan. Aji menepati
janjinya—pagi sekali, seperti yang ia ucapkan semalam. Di rumah Teungku Hasan,
Safa sudah siap menunggu di teras. Rambutnya tertutup rapi oleh jilbab lembut
warna pastel, matanya berbinar walau semalam ia tertidur larut. Ketika suara
motor itu semakin dekat, senyumnya mengembang.
Aji
mematikan mesin tepat di halaman.
"Assalamualaikum," suaranya lembut tapi jelas.
Aji membuka
helmnya, senyumnya mengembang.
"Saf…
pagi ini abang mau ajak kamu jalan-jalan ke rumah. Kita naik ini aja nggak papa
kan?
Safa
terkekeh sambil menatap motor itu.
"Ada
apa dengan Honda ini? Kan kita biasa menaikinya.
Ia menarik
tangan Aji pelan.
"Mari
makan dulu, bang. Baru kita jalan."
Tapi Aji
menggeleng sambil tertawa kecil.
"Nggak
usah, Saf. Kita langsung pamit. Ada hal yang harus kita kerjakan berdua untuk
hari Selasa nanti. Waktunya sudah makin dekat."
Safa melihat
wajah suaminya. Ada keseriusan di sana, tapi juga kehangatan. Ia mengangguk,
lalu bersama-sama mereka menghampiri ruang tengah untuk pamit.
Abu dan Umi
Safa sudah duduk di kursi panjang.
"Pulanglah
hati-hati. Jangan buru-buru di jalan,"pesan Umi.
Teungku Hasan hanya tersenyum, tatapannya penuh doa saat melepas pasangan muda itu.
Safa berpamitan pada ibunya, lalu mencium tangan ayahnya. Abu dan Umi Safa hanya tersenyum, menyembunyikan kebanggaan yang tak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Mereka tahu, laki-laki ini pernah mengembalikan ratusan juta rupiah milik Teungku Hasan yang tercecer saat kecelakaan dulu—tanpa mengharap imbalan.Di luar, Aji sudah menyiapkan jok belakang untuk istrinya. Safa naik dengan hati ringan. Sebelum berangkat, Aji sempat berkata pelan kepada Abu:"Doakan kami, Abu."Teungku Hasan mengangguk.
"Doa
abu selalu ada. Hana semua orang paham kenapa Abu memilihmu. Tapi itu bukan
masalah."
Pagi itu udara Banda Aceh terasa sejuk. Jalanan masih belum terlalu ramai, embun belum sepenuhnya menguap dari dedaunan. Safa duduk di jok belakang motor Astuti merah tiga warna milik Aji, memeluk pinggang suaminya sambil menikmati aroma pagi. Ia mengira perjalanan mereka seperti biasa—menuju rumah Aji di Darussalam.Namun kali ini, setelah melewati simpang Lamnyong, Aji justru memutar setir ke arah Setui. Safa sempat mengernyitkan dahi, tapi diam. Mungkin Aji ingin mampir sebentar ke suatu tempat. Tapi setelah melewati jalan-jalan kecil yang asing baginya, rasa penasarannya semakin memuncak.
“Bang… ini kita kemana?” tanya Safa sambil mencondongkan tubuh, berusaha menatap wajah Aji.“Ya, ke rumah. Memang mau kemana lagi?” jawab Aji santai, matanya fokus ke jalan.“Ko jalannya beda?” sahut Safa, kini mulai benar-benar penasaran.Aji hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Motor melaju dengan kecepatan sedang, masuk ke Jalan Hasan Saleh, lalu membelok lagi ke lorong belakang Polres. Jalan itu berujung pada sebuah gerbang besar bertuliskan Komplek Perumahan dengan deretan rumah-rumah modern di dalamnya. Safa semakin heran.Mereka terus melaju hingga sampai di ujung komplek, di mana berdiri sebuah rumah berarsitektur modern-minimalis yang tampak berbeda dari sekitarnya. Pagar besi hitam besar, halaman yang luas penuh tanaman hias, dan suara gemericik air dari kolam kecil di sudut taman membuat suasananya terasa damai.Aji berhenti di depan gerbang, lalu mengeluarkan remote kecil dari saku jaketnya. Dengan sekali klik, pintu gerbang terbuka perlahan. Motor masuk ke halaman, melewati taman yang dirawat rapi. Beberapa tukang kebun tengah menyiram tanaman, menunduk memberi salam. “Bang Aji, baru pulang? Itu istrinya, ya?” sapa salah satu tukang kebun.“Iya, Bang.
Ini istri saya,” jawab Aji ramah.
Safa masih berdiri terpaku, matanya menyapu pemandangan
halaman luas yang dipenuhi berbagai jenis bunga, pohon buah, dan tanaman hias.
Setelah memarkir motor di garasi yang sudah berisi dua mobil, Aji turun dan
mengajak Safa ikut.“Mar, masuk,” katanya singkat.Safa melangkah perlahan,
matanya terus mengamati desain rumah yang begitu estetik—paduan dinding batu
alam, kaca besar, dan ukiran kayu Aceh yang memberi sentuhan hangat. Semua
terasa seperti rumah yang selama ini hanya ia lihat di majalah arsitektur.“Bang…
ini rumah siapa?” tanya Safa setengah berbisik, seperti takut suaranya akan
membangunkan mimpi indah ini. Aji tersenyum, menatapnya sebentar. “Ya, rumah
kita. Kita berdua.”
Safa berhenti melangkah. “Rumah kita? Jangan bercanda,
Bang. Rumah di Darussalam itu kan rumah abang Aji?” “Oh, itu?” Aji terkekeh
pelan. “Itu rumah teman-teman pedagang gorengan. Abang numpang aja. Yang ini…
rumah kita. Mari masuk, hujan mulai turun itu.”
Rintik hujan mulai membasahi halaman, dan Safa masih belum sepenuhnya percaya. Tapi langkah kakinya mengikuti Aji masuk ke dalam rumah, dengan hati yang tiba-tiba terasa penuh—penuh rasa kagum, bahagia, dan sedikit tak percaya bahwa semua ini nyata.
Safa melangkah masuk melalui garasi, matanya langsung membelalak. Di hadapannya, berderet empat mobil terparkir rapi. Satu di antaranya langsung ia kenali—mobil yang membawa Aji saat datang melamarnya dulu. Tiga mobil lainnya tak kalah mencuri perhatian, termasuk dua sedan mewah yang mengkilap seakan baru keluar dari showroom. Di pojok kanan paling depan, ada dua mobil pick-up, tiga motor, dan lima sepeda. Salah satunya membuat Safa tertegun lama—sebuah sepeda kumbang klasik dengan dua pasang pedal kayuh dan dua sadel. “Sepeda ini… seperti yang pernah kuceritakan dulu,” batinnya, tersenyum samar.Perasaannya makin tak menentu. Semua ini terasa seperti dunia lain—jauh dari gambaran hidup yang ia bayangkan bersama Aji selama ini. Begitu pintu utama dibuka, aroma lembut kayu jati bercampur wangi bunga melati dari vas besar di sudut ruangan menyambut mereka. Ruang tamu luas itu dipenuhi cahaya alami dari dinding kaca yang menghadap taman belakang. Ada sofa abu-abu lembut, karpet Persia yang tebal, dan rak buku tinggi berisi ratusan buku—beberapa Safa kenal, sebagian besar belum pernah ia lihat. Safa berjalan perlahan, jemarinya menyentuh permukaan meja kayu berukir. “Bang… ini beneran rumah kita?” tanyanya sekali lagi, suaranya hampir bergetar. Aji hanya mengangguk, lalu menarik tangannya, membawanya menuju dapur yang tertata rapi. Di atas meja makan, sudah ada teh hangat dan roti yang sepertinya baru dibeli pagi ini. Mereka duduk. Safa menatap Aji lekat-lekat, ingin sekali mengurai misteri yang selama ini membungkus sosok suaminya.“Bang, kenapa abang nggak pernah cerita soal rumah ini? Dari awal kita nikah, abang cuma bawa aku ke rumah Darussalam yang… yah, sederhana banget. Padahal…” Safa mengedarkan pandangannya lagi, “…ini seperti dunia lain.” Aji menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Saf… abang mau tanya. Kalau waktu itu abang datang melamar dengan mahar besar, bawa mobil, bawa cerita soal rumah seperti ini… kira-kira, abang diterima karena abang, atau karena semua ini?” Safa terdiam. Aji melanjutkan, “Abang nggak mau orang, apalagi keluargamu, menilai abang dari harta. Abang mau mereka lihat abang sebagai Aji—orang yang biasa saja.--- Sambil berjalan ke dalam,aji menggandeng tangan safa Mereka melangkah masuk ke dalam rumah melalui dapur. Pandangan Safa langsung tertarik pada penataan yang begitu rapi dan estetik. Dua lemari es dua pintu berdiri gagah di sisi ruangan, sementara meja makan besar dari kayu solid menempati bagian lain dari dapur luas itu. Semua peralatan tertata dengan presisi, seakan tiap benda punya tempatnya sendiri.Dua orang asisten rumah tangga yang sedang merapikan piring menoleh, lalu tersenyum ramah. “Selamat datang, Bu,” sapa salah satunya. Mereka sudah tahu, inilah istri majikan yang baru dinikahi, meski tak hadir dalam perhelatan di rumah mertuanya. Aji memang sengaja menunda acara di rumah ini untuk mengadakannya sendiri suatu hari nanti. Memasuki ruang tengah, Safa disambut pemandangan kursi-kursi elegan dan dekorasi yang ditata dengan cita rasa tinggi. Namun kejutan sesungguhnya menantinya di lantai dua. Di sana, terbentang kamar-kamar luas dengan interior mewah. Salah satunya langsung mencuri perhatiannya—tempat tidur besar dari kayu mahal, dilapisi spring bed yang Safa tahu harganya tak murah. “Ini sama persis seperti yang ada di kamar Abu dan Umi…” pikirnya.Dari balkon lantai dua, Safa memandang keluar. Di bawah, taman hijau terhampar, dan di bagian belakang rumah, kolam renang lebar berkilau terkena cahaya pagi. Aji menggandeng tangannya, membawanya masuk ke kamar yang akan menjadi kamar mereka berdua. Kamar itu terbagi menjadi tiga bagian: ruang tidur, kamar mandi mewah, dan ruang penyimpanan baju yang dilengkapi meja rias dengan kaca besar. Aji menatapnya lembut. “Sayang… semoga kamu betah di rumah kita ini. Dan mau menerima semua ini apa adanya. Hanya inilah kemampuan abang.Safa masih terisak dalam pelukan suaminya. Ia mencoba menenangkan napasnya, tapi rasa heran terus menggelayuti pikirannya.“Bang… kenapa semua ini tidak pernah abang ceritakan? Bahkan sedikit pun…” suaranya bergetar.Aji melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Safa dengan tatapan yang teduh.“Ada hal yang abang pelajari dari hidup, Saf… bahwa cinta yang tulus bukan karena harta, tapi karena hati. Abang ingin tahu… apakah kamu menerima abang karena abang, atau karena semua ini.”Safa terdiam. Kata-kata itu menembus hatinya seperti anak panah. Aji melanjutkan, suaranya lembut namun tegas,
“Waktu kita bertemu, abang hanya ingin kamu mengenal abang sebagai Aji… anak rantau yang jual gorengan di tepi jalan. Abang sengaja tak bawa kamu ke sini, tak tunjukkan apa pun, karena abang tak mau ada rasa sungkan, gengsi, atau harapan yang salah. Kalau nanti kita menikah, abang ingin kamu tahu… bahwa yang kamu pilih adalah orangnya, bukan rumahnya, bukan mobilnya.”
Air mata Safa semakin deras. “Bang… aku… aku tak pernah peduli soal itu. Aku hanya ingin hidup bersama abang.”Aji tersenyum kecil, mengusap pipinya. “Dan itulah jawaban yang abang harap sejak awal. Sekarang, semua ini bukan milikku sendiri… tapi milik kita berdua. Rumah ini, usaha ini, bahkan mimpi-mimpi yang akan kita bangun… semuanya milik kita.”Safa memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi taman dan kolam renang. Tapi di dalam hati mereka, justru terasa hangat. Di sudut kamar, sebuah jam tua berdetak pelan, seakan menjadi saksi dari awal babak baru kehidupan mereka—bukan lagi sebagai dua orang yang terikat janji, tetapi sebagai sepasang jiwa yang kini berbagi segalanya, tanpa rahasia.
Hari semakin merangkak siang. Cahaya matahari menembus kaca besar di ruang makan, memantulkan kilau hangat di meja panjang yang tertata rapi. Aji menggandeng tangan Safa menuju meja itu. Di atasnya tersaji berbagai jenis makanan—nasi hangat, lauk pauk lengkap, roti, kue-kue tradisional, hingga potongan buah segar yang disusun indah di piring kaca. Aroma teh susu yang kental bercampur dengan wangi bandrek menguar, memenuhi ruangan dengan kehangatan. Safa duduk, matanya berbinar melihat sajian yang begitu berlimpah hanya untuk sarapan. Ia tersenyum kecil, hatinya campur aduk antara kagum dan terharu. Sambil menyendok makanan, Aji sesekali mengambilkan lauk untuk Safa. Dengan malu-malu, Safa pun membalas, meletakkan sepotong ikan ke piring suaminya. Tawa kecil dan senyum hangat mewarnai makan pagi itu—sebuah momen yang sederhana, namun penuh rasa syukur. Air mata Safa menitik. Ia tak sanggup berkata-kata, hanya menunduk lalu memeluk Aji erat. Semua prasangka, rasa penasaran, dan keheranan bercampur menjadi rasa syukur yang tak terucapkan.
Selesai makan, mereka berdua membersihkan tangan dan mulut,
lalu Aji mengajak Safa kembali ke kamar mereka di lantai dua. Ruangannya begitu
luas, nyaman, dan terasa damai. Di sudut, sinar matahari jatuh tepat di atas
tempat tidur besar dengan seprai putih bersih. Aji membantu Safa melepas
jilbabnya, gerakannya pelan, seolah ingin mengabadikan setiap detik. Sesaat,
Aji terdiam memandangi wajah istrinya. Cantik, lembut, dan memancarkan
ketenangan—perpaduan darah Arab dan Eropa yang begitu memikat. Ia tersenyum,
lalu memeluk Safa erat. Sebuah kecupan lembut di kening, dibalas oleh Safa
dengan tatapan penuh cinta. Siang itu, mereka beristirahat bersama di kamar
pengantin yang kini menjadi ruang milik mereka berdua—tempat yang akan
menyimpan banyak cerita, doa, dan impian di hari-hari mendatang.
Matahari mulai condong ke barat. Setelah tidur siang
yang singkat, Safa terbangun oleh aroma harum masakan yang samar-samar masuk
dari dapur. Aji masih terlelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya damai.
Safa tersenyum, lalu bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Ia berjalan
keluar kamar, menuruni tangga kayu yang berkilau bersih. Di ruang tamu, sinar
sore menerobos lewat jendela lebar, menciptakan bayangan indah di lantai
marmer. Safa berjalan menuju dapur. Dua asisten rumah tangga menyambutnya
dengan ramah, menawarkan segelas jus jeruk segar. “Silakan, Bu Safa. Santai
saja,” ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum.
Safa tersenyum kembali, namun matanya justru tertarik
pada sebuah pintu kayu di ujung lorong dekat dapur. Pintu itu tampak berbeda—lebih
tua, dengan ukiran sederhana. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat. Ketika
ia membukanya, sebuah ruangan luas tersaji di depannya. Dindingnya dipenuhi rak
buku, lemari kaca berisi piala, sertifikat, dan foto-foto lama. Ada foto Aji di
ataskapal laut, foto Aji berdiri di depan gerobak gorengan, bahkan foto-foto
Aji di luar negeri bersama orang-orang yang Safa tidak kenal. Di pojok ruangan,
Safa melihat sebuah meja kerja besar. Di atasnya, terdapat map tebal
bertuliskan “Proyek Klinik dan Usaha Keluarga.” Saat ia membuka sedikit,
terlihat berbagai dokumen bisnis: rencana pembangunan, daftar cabang toko,
laporan keuangan—semuanya atas nama Aji. Safa terdiam. Ia baru benar-benar
sadar bahwa suaminya bukan sekadar pedagang gorengan seperti yang ia lihat
dulu. Di balik sikap sederhana itu, Aji ternyata menyimpan dunia yang jauh
lebih besar—dunia yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
Tiba-tiba,
suara langkah kaki terdengar dari belakang. Aji berdiri di pintu, menatap Safa
dengan senyum kecil.
“Kamu sudah menemukan ruang rahasia abang,” ujarnya santai.
Safa
tersipu. “Kenapa nggak pernah cerita?”
Aji mendekat, menatapnya lembut. “Karena abang nggak mau kamu mencintai abang karena semua ini. Abang mau kamu mencintai abang… karena abang adalah abang.”Safa menunduk, matanya berkaca-kaca. Di sore itu, ia merasa menemukan suaminya untuk kedua kalinya—bukan lewat mahar, bukan lewat rumah megah, tapi lewat kejujuran dan hati yang tulus.
Malam itu, setelah sholat isya, angin bertiup lembut
dari arah taman belakang. Lampu-lampu taman yang tertata rapi memancarkan
cahaya kekuningan, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di tengah taman,
terdapat meja bundar kecil dengan dua kursi kayu. Di atasnya, dua cangkir teh
hangat mengepulkan uap, aromanya bercampur dengan wangi bunga melati yang mekar
di sudut taman. Aji duduk berhadapan dengan Safa, sementara di belakang mereka,
kolam renang memantulkan bayangan bulan yang nyaris penuh. Safa mengenakan gaun
rumah sederhana berwarna lembut, wajahnya masih segar meski seharian penuh
kejutan.
“Ada yang mau abang bicarakan,” ujar Aji pelan sambil
menatap mata Safa.Safa mengangguk, menunggu.“Selama ini abang menyembunyikan
banyak hal… bukan karena nggak percaya sama kamu, tapi abang ingin kita
membangun semuanya dengan hati, bukan dengan apa yang abang punya. Sekarang,
kita sudah resmi jadi suami istri, abang mau kamu ikut memegang kendali semua
ini.” Aji mendorong sebuah map ke arah Safa—map yang ia lihat siang tadi di
ruang rahasia. Safa membukanya, matanya membesar. Di dalamnya ada dokumen
kepemilikan usaha, rekening, bahkan sertifikat rumah ini.
“Aku… nggak tahu harus bilang apa, Bang,” ucapnya
terharu.
Aji tersenyum. “Bilang iya. Iya untuk jadi partner
abang dalam segala hal—usaha, rumah tangga, dan hidup.” Safa tertawa kecil
sambil menghapus air mata. “Iya. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?” tanya Aji penasaran.
“Kita tetap makan gorengan bareng di pinggir jalan, sesekali. Supaya kita nggak lupa dari mana kita mulai.”Aji tertawa, lalu mengulurkan tangannya. Safa menggenggamnya erat. Malam itu, di bawah cahaya bulan dan gemericik air kolam, mereka berdua membuat janji: untuk selalu berjalan berdampingan, bukan di depan atau di belakang, tapi bersama-sama, oo iya. Hampir lupa, inikan hari minggu, besok senin dan hari selasa, hari selasa, saf, safa menatap suaminya dengan heran dan bertanya, “ ada apa dengan ahri selasa ,bang?."Bang… hari Selasa itu, sebenarnya ada apa sih? Kok abang sampai buru-buru banget ngajak aku ke sini?" tanyanya penasaran.
Aji
tersenyum tipis.
"Rahasia
dulu, Saf. Tapi yang jelas, ini buat kita berdua. Sesuatu yang mau abang
persiapkan biar kita nggak cuma jalan di tempat." Safa terdiam, hatinya
berdebar. Ia tahu suaminya bukan tipe orang yang banyak janji tanpa bukti.
Kalau Aji bilang ini penting, berarti benar-benar penting.
mari kita tidur, hari sudah larut malam, aji tak melanjutkan ucapanya dan menarik tangan safa, mereka masuk rumah dan beristirahat.
Hari selasa Pagi, udara Banda Aceh terasa hangat. Safa tengah
mempersiapkan sarapan ketika Aji, suaminya, mendekat sambil membawa setelan jas
hitam rapi di dalam kantong pakaian.
"Siap…
tapi abang belum cerita ini mau kemana."
"Sabar,
nanti juga tahu. Pokoknya hari ini, kita bawa pulang sesuatu yang akan mengubah
banyak hal."
“Sayang… ikut abang, ya. Kita ke kampus,” ucapnya tenang.
Safa menoleh
heran. “Ke kampus? Memangnya ada acara apa, Bang?”
Aji
tersenyum tipis. “Abang mau wisuda. Sekalian pelantikan dan sumpah janji profesi dokter.”
Kata-kata itu seakan menggema di telinga Safa. Wisuda? Sumpah dokter? Bukankah selama ini Aji hanyalah pedagang gorengan di tepi jalan, yang ia kenal sebagai sosok sederhana? Tak pernah sekali pun ia bercerita soal kuliah, apalagi di fakultas kedokteran. Ingatan Safa melayang pada masa awal perkenalan mereka. Sesekali, memang ada gadis-gadis kampus turun dari mobil mewah, membeli gorengan Aji sambil bercanda akrab. Kala itu, Safa hanya menganggap Aji sekadar kenal banyak orang. Ia tak pernah menduga bahwa lelaki itu ternyata salah satu mahasiswa di kampus ternama.
Abu dan
Umi Safa pun tiba tak lama kemudian. Abu menepuk bahu Aji dengan senyum bangga,
sementara Umi memeluk Safa erat.Menjelang siang, mereka berempat—Aji, Safa, dan kedua
mertua—tiba di gedung ACC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala. Bangunan
megah itu dipenuhi mahasiswa berjas toga, keluarga, dan fotografer yang
lalu-lalang. Safa duduk di kursi tamu, masih mencoba mencerna kenyataan ini.
Dari kejauhan, ia melihat Aji berdiri gagah di antara barisan wisudawan
Fakultas Kedokteran. Wajahnya tenang, penuh percaya diri. Saat namanya
dipanggil, Aji melangkah mantap naik ke podium, menerima ijazah, lalu menunduk
hormat. Acara berlanjut dengan pengucapan sumpah dan janji profesi dokter.
Safa menyaksikan bibir Aji mengucapkan setiap kata dengan lantang dan penuh
khidmat. Ada rasa haru yang menyesak di dada. Lelaki yang selama beberapa hari
menjadi suaminya ini setia menemaninya, yang pernah menjual gorengan di terik
matahari, kini resmi menjadi seorang dokter. Usai prosesi, Aji menghampiri
mereka. Safa berdiri, menatap suaminya yang kini semakin memancarkan wibawa.
“Selamat,
Bang…” ucapnya pelan, suaranya bergetar.
Aji
menggenggam tangannya erat. “Terima kasih, Sayang. Semua ini… untuk kita.”
Kedua mertuanya memeluk Aji dengan bangga. Namun di
tengah kebahagiaan itu, Safa menyadari sesuatu—tak ada satu pun keluarga Aji
yang hadir. Tak ada orang tua, saudara, atau kerabat dari kampung. Entah karena
jarak, atau karena alasan yang hanya Aji simpan sendiri.Hari itu, Safa bukan
hanya terkejut mengetahui rahasia besar suaminya. Ia juga memahami, bahwa di
balik kesederhanaan Aji, tersimpan tekad, kerja keras, dan pengorbanan yang
luar biasa.Dan saat mereka berjalan keluar dari gedung, Safa memandang Aji
dengan rasa cinta yang semakin dalam—bukan hanya karena ia kini seorang dokter,
tapi karena ia telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari hati yang
tulus dan kerja keras tanpa henti.
Malam setelah wisuda, rumah terasa sunyi. Safa duduk di ruang tengah, masih memandangi toga hitam Aji yang tergantung rapi di kursi. “Bang…” Safa memecah keheningan. “Kenapa abang nggak pernah cerita kalau abang mahasiswa kedokteran?”Aji yang tengah menata berkas-berkasnya hanya tersenyum tipis. Ia lalu duduk di samping Safa, menatap istrinya penuh sayang. “Bukan abang nggak mau cerita, Sayang. Abang cuma nggak mau kamu atau keluargamu menilai abang dari status itu. Abang mau kamu kenal abang sebagai manusia biasa… yang mungkin terlihat sederhana, tapi punya mimpi besar.”
Safa
terdiam. Aji mulai bercerita.
Bertahun-tahun lalu, Aji datang ke Banda Aceh sebagai
anak rantau dengan tas ransel lusuh dan uang pas-pasan. Ia diterima di Fakultas
Kedokteran Universitas Syiah Kuala, sebuah pencapaian yang ia perjuangkan
dengan belajar siang malam di kampung. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung
lama. Orang tuanya di Jakarta menghentikan kiriman biaya karena pengaruh
saudara saudaranya dan kiriman biaya hidup pun terhenti.
“Waktu itu, pilihan abang cuma dua,” Aji melanjutkan, “Berhenti kuliah atau cari cara untuk tetap bertahan.” Ia memilih bertahan. Mulai dari jadi buruh bongkar muat, ojek, hingga akhirnya berjualan gorengan di dekat kampus. Hanya satu yang tak pernah dia lupakan, yaitu sealalu membaca surah al waqiah dalam jumlah banyak setiap hari secara istiqomah, Pagi hari ia kuliah, sore hingga malam ia berjualan. Ia tak malu berpanas-panas di bawah terik, meski sering diejek teman-teman sekelasnya yang berasal dari keluarga berada.
Safa
mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
“Terus…
gimana bisa abang sampai selesai kuliah?”
Aji tersenyum. “Rezeki itu selalu datang kalau kita
mau berusaha.berdo’a dan memohon pada Yang maha Kuasa Beberapa dosen yang tahu
keadaan abang, diam-diam membantu. Teman-teman seangkatan juga sering belanja
gorengan abang bukan karena lapar, tapi karena ingin membantu tanpa membuat
abang merasa dikasihani. Sampai akhirnya… hari ini datang juga.”Safa tak mampu
menahan air matanya. Ia memeluk suaminya erat. Dalam pelukan itu, ia menyadari
satu hal—lelaki di hadapannya bukan hanya dokter baru, tapi pejuang sejati yang
mengajarkan arti kesabaran, keteguhan, dan harga diri. Malam itu, mereka duduk
di teras rumah, memandangi langit Banda Aceh yang cerah. Aji menatap ke depan,
seakan berbicara pada dirinya sendiri,
“Perjalanan
kita masih panjang, Sayang. Tapi abang janji, kita nggak akan pernah mundur.”
Safa hanya mengangguk, sambil menggenggam tangan Aji lebih erat dari sebelumnya. Karena ia tahu, mimpi mereka kini berjalan beriringan.
Beberapa
minggu setelah wisuda dan sumpah profesi, kehidupan di rumah mereka mulai
terasa berbeda. Aji kini mengenakan jas putih setiap pagi, bukan lagi celemek
penjual gorengan. Namun, ada satu hal yang tetap sama: senyum tenangnya saat
berpamitan pada Safa sebelum berangkat.
“Assalamualaikum,
Sayang… abang berangkat dulu,” ucap Aji sambil mengecup kening istrinya.
“Waalaikumsalam…
hati-hati di jalan, Bang,” jawab Safa sambil membenarkan kerah jas putih itu.
Pagi itu, Aji mulai menjalani masa penempatan di
sebuah puskesmas di dalam kota banda aceh,..Safa sempat merasa canggung—istri
seorang dokter sekaligus pengusaha—namun Aji tak pernah berubah. Ia masih pria
sederhana yang selalu menyempatkan diri membantu di dapur, bercanda dengan
Safa, dan menyapa para pekerja dengan ramah. Namun, menjadi dokter membawa
tantangan baru. Pasien datang dengan berbagai keluhan, dari yang ringan hingga
yang membuat Aji harus lembur sampai larut malam. Safa mendukung sepenuhnya,
meski kadang ia harus makan malam sendirian.
Suatu malam,
Aji pulang hampir tengah malam. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap hangat saat
melihat Safa yang menunggunya di meja makan.
“Sayang,
maaf… abang pulang telat. Ada pasien darurat,” katanya sambil duduk.
Safa hanya
tersenyum dan menyendokkan sup hangat ke mangkoknya. “Abang nggak perlu minta
maaf. Abang menolong orang, itu lebih penting.”
Di sela kesibukan, Aji dan Safa tetap meluangkan waktu untuk berdua. Kadang mereka berjalan sore di taman belakang rumah, kadang hanya duduk di teras sambil minum teh.
Aji sering
bercerita tentang pasien-pasiennya, sementara Safa bercerita tentang ide-ide untuk
memperluas usaha kuliner mereka.
Sampai suatu
sore, Aji memegang tangan Safa dengan tatapan serius.
“Sayang… abang ada niat,,kita membuat syukuran kita undang banyak orang dan kita berdoa serta makan bersama, berbagi pada yang kurang beruntung, ....Syukurannya apa aja, Bang?” tanya Safa sambil duduk.
Aji tersenyum lebar, “Syukuran pernikahan kita, syukuran wisuda abang, dan… syukuran karena abang sudah resmi dokter.” dan syukuran usaha usaha yang telah abang buat, londry, cuci helem, doorsmeer, kedai ayam goreng, termasuk kedai minuman dan yang lainnya, semuanyalah kita syukuri.Syukur kita bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga kita wujudkan dengan berbagi,mengundang anak yatim dan pengajian serta samadiah mendoakan arwah orang tua tua kita yang telah tiada.,
======
Pagi itu, langit Banda Aceh cerah. Angin laut membawa aroma asin yang khas.Aji berdiri di depan garasi, memegang kunci sedan mewahnya, sambil tersenyum melihat Safa yang baru saja keluar dengan gamis biru pastel dan jilbab putih
“Sayang,
hari ini kita belanja ke Suzuya Mall. Persiapan syukuran di rumah nanti,” kata
Aji sambil membukakan pintu mobil untuk Safa.
Perjalanan ke Suzuya Mall terasa begitu menyenangkan. Jalanan Banda Aceh yang bersih dan rindang membuat hati Safa hangat. Sesampainya di mall yang terletak di pinggiran barat kota, Safa tak menyangka bahwa Aji benar-benar serius dengan persiapan ini.
Begitu masuk
supermarket besar di dalam mall, Aji langsung mengambil troli besar.
Pertama, mereka menuju bagian buah. Safa terpana
melihat Aji memilih buah-buahan segar dalam jumlah banyak—apel merah, anggur
hijau, jeruk manis, pir, hingga kurma premium.
“Bang… ini
banyak sekali,” ujar Safa sambil tersenyum malu.
Aji hanya
menjawab, “Tamu kita harus merasakan yang terbaik. Rezeki itu harus dibagi,
sayang.”
Lalu mereka
beralih ke bagian roti dan kue. Aroma harum roti baru matang memenuhi udara.
Aji membeli berbagai jenis roti manis, croissant, dan kue lapis legit. Safa
hanya bisa menggeleng, takjub melihat troli yang hampir penuh. Setelah itu,
mereka menuju rak minuman. Air mineral botol, jus buah segar, hingga minuman
herbal tradisional masuk ke troli tanpa banyak pikir.
Safa
terkekeh, “Bang, ini troli kita sudah seperti belanja untuk acara besar di
hotel.”
Aji tertawa, “Ya memang besar, kan? Rumah kita nanti kayak hotel sehari.”
Sementara untuk makanan utama, Aji sudah memesan
secara terpisah. Satu ekor sapi dari
pengusaha akikah terkenal di Banda Aceh akan dimasak menjadi kuah
belangong, masakan khas Aceh yang kaya rempah, dimasak perlahan dalam belanga
tanah liat. “Ini masakan khas yang harus ada. Tamu dari luar Aceh pun akan
suka,” kata Aji penuh semangat. Setelah hampir empat jam berbelanja, mereka
keluar dari mall dengan beberapa troli penuh belanjaan yang dibawa oleh
petugas. Sedan mewah Aji pun nyaris penuh di bagasi dan kursi belakang, bahkan
sisanya diantar oleh Mall ke alamat rumahnya sebab begitu banyak yang dibeli.
Di
perjalanan pulang, Safa bersandar di bahu Aji.
“Bang, aku
masih nggak nyangka semua ini. Dulu abang cuma aku kenal sebagai penjual
gorengan… sekarang abang bawa aku belanja untuk pesta besar kita.”
Aji menoleh
sebentar, menatap mata istrinya, lalu tersenyum hangat.
“Semua ini
bukan untuk pamer, sayang… tapi untuk berbagi kebahagiaan. Kita sudah diberi
begitu banyak karunia, masa kita nggak mau berbagi?”
Safa hanya mengangguk, menahan haru. Mobil mereka
melaju menuju rumah, sementara di dalam hati Safa, rasa syukur semakin memenuhi
ruang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, Hari syukuran pun tiba. suasana di komplek perumahan mewah itu berbeda dari biasanya. Jalanan di depan rumah Aji ramai dengan mobil-mobil yang terparkir rapi. Pintu gerbang besar terbuka lebar, menampakkan halaman luas yang sudah dipenuhi dekorasi bunga segar, kursi tamu berderet, dan panggung musik akustik di sudut taman. halaman rumah Aji yang luas berubah menjadi lautan tenda putih berornamen emas. Puluhan meja bundar tertata rapi, setiap meja dihiasi vas bunga segar dan piring-piring penuh makanan lezat—mulai dari masakan Aceh, hidangan Timur Tengah, hingga kue-kue modern. Aroma kuah beulangong dari empat ekor kambing memenuhi udara, bercampur wangi sate, roti bakar, dan kopi Gayo yang baru diseduh. Hari itu, Aji dan Safa mengadakan perhelatan mewah dan elegan—resepsi yang memang sengaja ia tunda agar bisa dilakukan di rumahnya sendiri. Bedanya, kali ini semua tamu dari pihak keluarga Safa hadir, termasuk para tetangga yang dulu sempat berbisik-bisik soal mahar sepuluh mayam. Sejak pagi, rumah Aji sudah sibuk., sementara dua asisten rumah tangga memandu petugas katering menata hidangan. Aroma kuah belangong menyeruak dari belakang rumah. Satu ekor sapi dan Empat ekor kambing yang dimasak dengan rempah khas Aceh membuat siapa pun yang lewat langsung menoleh. Safa berdiri di dekat pintu, mengenakan kebaya hijau zamrud dengan jilbab satin yang menambah anggun penampilannya. Banyak tamu wanita yang datang langsung memuji,
“Subhanallah,
cantik kali pengantin barunya Aji.”
Safa hanya
tersenyum, masih agak malu menjadi pusat perhatian.
Aji, dengan setelan jas hitam dan dasi perak,
menyambut para tamu pria. Wajahnya terlihat bangga namun tetap sederhana. Tak
ada kesan sombong, meski hari itu ia adalah tuan rumah di acara yang sangat meriah
Di meja hidangan, selain kuah belangong, terhidang berbagai menu lain: ayam
tangkap, sate matang, gulai ikan, aneka sambal, buah segar, roti, kue, dan
minuman yang mereka beli di Suzuya Mall. Tamu mulai berdatangan—tetangga, teman
kuliah Aji dari Fakultas Kedokteran, para dosen, bahkan beberapa pedagang
gorengan yang dulu pernah bersama Aji berjualan.
Salah satu temannya berseloroh,“Bang Aji, dulu kita
jualan gorengan di pinggir jalan, sekarang abang sudah dokter, rumah pun
istana. Mantap kali!” Aji hanya tertawa sambil menepuk bahu temannya, “Rezeki
sudah diatur Allah, yang penting kita tetap ingat asal.” Mertuanya, abu dan umi
Safa, terlihat haru. Mereka tak menyangka menantu yang mereka kira hanya
pedagang sederhana ternyata menyimpan perjalanan panjang penuh kerja keras yang
kini membuahkan hasil luar biasa. Ketika acara doa bersama dimulai, suasana
hening. Ustaz yang memimpin berdoa panjang—mendoakan keberkahan rumah tangga
Aji dan Safa, keberhasilan karier Aji sebagai dokter, dan kesehatan keluarga
mereka. Safa menunduk, menahan air mata, sementara tangan Aji menggenggamnya
erat di bawah meja. Usai doa, musik Aceh yang lembut mengalun. Para tamu makan
dengan riang, anak-anak berlarian di taman, dan suara tawa bercampur aroma
rempah memenuhi udara. Safa menyambut para tamu dengan kebaya putih yang
anggun, sementara Aji memakai jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Senyum mereka
tak pernah lepas sejak pagi. Ketika tamu memasuki rumah, banyak yang saling
pandang tak percaya. Mereka melihat dapur estetik, ruang tamu yang tertata
rapi, taman belakang dengan kolam renang, dan meja buffet penuh makanan premium.
Beberapa ibu-ibu yang dulu paling nyinyir langsung terdiam, hanya bisa
tersenyum kaku sambil memuji.
Di tengah
acara, seorang tamu dari pihak keluarga Safa—pamannya—mendekat ke Aji sambil
menepuk bahunya.
“Bang Aji…
ini rumah abang?” tanyanya setengah berbisik, seolah masih tak percaya.
Aji
tersenyum tenang. “Iya, Paman. Rumah kecil-kecilan saja. Semoga nyaman.”
Tamu yang datang bukan hanya tetangga dan sahabat,
tapi juga keluarga besar Safa: saudara, sepupu, paman, bibi, pakcik, makcik—semuanya
hadir. Sebagian dari mereka dulu pernah berbisik-bisik meremehkan Aji saat
melamar Safa dengan “hanya” sepuluh mayam emas. Awalnya mereka duduk dengan
wajah biasa saja, mengira acara ini hanyalah syukuran pernikahan dan wisuda.
Namun suasana berubah ketika pembawa acara memperkenalkan Aji di depan
panggung:
"Hadirin
yang kami hormati, mari kita sambut, Dokter Aji, putra terbaik daerah ini, yang
baru saja menyelesaikan pendidikan profesi kedokterannya di Fakultas Kedokteran
Unsyiah."
Tepuk tangan bergemuruh. Safa duduk di kursinya,
tersenyum bangga melihat suaminya berdiri gagah di panggung dengan jas dokter
putih. Beberapa sepupu saling berpandangan, terdiam. Namun kejutan belum
berhenti. Setelah sesi sambutan, panitia menayangkan video singkat di layar
besar. Terlihat deretan sepuluh ruko megah di pinggiran barat Banda Aceh, salah
satu kawasan yang kini berkembang pesat pasca-tsunami. Kamera menyorot satu per
satu: restoran, kafe, laundry, tempat cuci helm dan sepatu, dorsmeer mobil dan
motor, hingga klinik modern yang berada di ujung deretan ruko tersebut.
Narator
video menjelaskan, "Kesemua usaha ini dimiliki dan dikelola oleh Dokter
Aji."
Mulut beberapa tamu terbuka lebar, sebagian lagi
menelan ludah. Pakcik yang dulu paling nyaring mencemooh Aji, kini hanya
menunduk sambil memainkan cincin di jarinya. Makcik yang pernah berkata Safa
“terlalu cantik untuk pedagang gorengan” kini sibuk mengaduk minumannya tanpa
menatap siapa pun. Sepupu-sepupu yang dulu ikut-ikutan mengejek, kini duduk
kaku di kursinya.Safa memperhatikan semua itu dengan hati yang campur aduk.
Bukan untuk membalas dendam, tapi ia merasa Tuhan sedang menunjukkan
kuasa-Nya—bahwa kejujuran dan kerja keras lebih berharga dari penampilan luar.
Aji turun dari panggung dan menghampiri Safa. Ia hanya
berbisik, “Hari ini bukan untuk membuat mereka malu, Sayang. Tapi untuk
menunjukkan bahwa kita harus menghargai orang, apa pun keadaannya.”
Safa mengangguk. Matanya berkilat, bukan karena amarah, tapi karena rasa bangga dan syukur yang tak terhingga. Hari itu, di bawah tenda mewah, keluarga besar yang dulu meremehkan Aji harus menerima kenyataan: menantu yang dulu mereka pandang sebelah mata, kini adalah seorang dokter sukses, pengusaha, sekaligus pemilik klinik.Dan Safa? Ia adalah perempuan yang beruntung, bukan karena harta itu, tapi karena mendapatkan cinta yang tulus dari lelaki yang membuktikan segalanya dengan kerja nyata. lalu tepuk tangan meriah terdengar. Safa yang berdiri di sampingnya menatap suaminya dengan mata berbinar. Sore itu, tak ada lagi bisik-bisik merendahkan. Justru, nama Aji mulai dihormati, bukan karena kekayaannya, tapi karena kerendahan hati dan caranya melindungi harga diri istrinya. Di ujung acara, saat para tamu mulai pamit, Abu dan Umi Safa menghampiri menantu mereka itu.
“Anak kami
beruntung mendapat suami seperti kamu,” kata Umi sambil menepuk tangan Safa.
Aji
tersenyum. “Saya yang lebih beruntung, Umi. Karena saya dapat istri yang selalu
mengingatkan saya agar tetap sederhana.”
Di sudut
halaman, Safa berbisik pada suaminya,
“Bang, ini
hari paling bahagia dalam hidupku.”
Aji
tersenyum, memandang langit sore yang mulai berwarna jingga,
“Sayang, ini
baru awal. Kita masih punya banyak hari bahagia ke depan, insya Allah.”
Dan sore itu, di rumah megah yang kini menjadi saksi, tiga kebahagiaan dirayakan sekaligus—cinta yang halal, keberhasilan pendidikan, dan rezeki yang dibagikan tanpa ragu.
=====
"Hadiah
Tak Terduga"
Pagi itu, udara Banda Aceh terasa sejuk. Aji mengajak
Safa keluar rumah dengan sedan mewah mereka. Safa yang duduk di kursi penumpang
hanya bertanya santai, “Kita mau kemana, Bang?” Aji tersenyum samar. “Ada
urusan sedikit. Sekalian jalan-jalan.” Mereka berhenti di sebuah gedung Bank
Aceh Syariah yang megah di pusat kota. Aji menggandeng tangan Safa masuk, lalu
langsung menuju meja layanan prioritas. Petugas bank berdiri menyambut,
“Selamat pagi, Dokter Aji. Silakan duduk.”
Safa melirik
heran. “Bang, ngapain ke bank?”
Aji menjawab
singkat, “Buka rekening.”
Tak butuh
waktu lama, semua dokumen selesai, dan petugas menyerahkan buku tabungan serta
kartu ATM dengan nama Safanah binti Tengku
Haji Hasan Leumik tercetak di atasnya. Safa masih belum mengerti, sampai Aji
tersenyum dan berkata,
“Lihat
saldonya, Sayang.”
Safa membuka
buku tabungan itu, dan matanya langsung membesar. Di situ tertulis angka Rp5.000.000.000,-.
“Bang… ini…
lima miliar?!” suaranya bergetar.
Aji mengangguk tenang. “Iya. Ini untuk kamu. Tabungan
kita bersama, tapi atas nama kamu. Aku mau kamu merasa aman, apapun yang
terjadi nanti.” Air mata Safa langsung menitik, namun Aji belum selesai memberi
kejutan. Mereka kembali ke mobil, lalu meluncur ke sebuah toko emas terkenal di
Banda Aceh. Pemilik toko langsung menyambut akrab, “Wah, Dokter Aji, mau
belanja apa hari ini?”
Aji menjawab
santai, “Seratus mayam emas untuk istri saya.”, Bang, tolong uruskan...
Safa sampai
terdiam. Ia bahkan sempat menahan tangan Aji. “Bang, untuk apa sebanyak itu?”
Aji menatapnya penuh arti. “Untuk masa depanmu. Untuk keamanan, untuk kenangan. Aku mau kamu tahu, kamu berharga, dan aku serius menjagamu.” Tidak lama kemudian, sebuah kotak besar berisi perhiasan emas murni—kalung, gelang, cincin, anting—terbungkus rapi. Safa memegangnya dengan tangan bergetar, hatinya campur aduk antara syukur, haru, dan cinta yang begitu dalam pada suaminya. Di perjalanan pulang, ia hanya bisa memeluk lengan Aji erat-erat. “Bang… aku nggak minta semua ini. Yang aku mau cuma kita selalu bersama.” Aji tersenyum, menatap jalan di depannya. “Itu juga yang aku mau, Sayang. Semuanya untuk kita berdua.”
Hari-hari pertama toko Saf & Ji dibuka, suasananya sudah jauh dari sepi.Orang-orang mulai berdatangan, penasaran dengan ruko baru itu. Bahkan beberapa tetangga yang dulu mencibir, kini terdiam melihat keberanian mereka memulai sesuatu yang besar. Aroma kopi Aceh gayo yang diseduh langsung memenuhi udara, menarik pejalan kaki untuk mampir. Rak oleh-oleh dipenuhi kue boh rom-rom, dodol khas, dan kain songket Aceh yang rapi tersusun. Aji dan Safa bergantian melayani pembeli. Kadang Aji yang di meja kasir, Safa yang membuat minuman. Kadang terbalik. Keduanya terlihat kompak, bekerja seperti sudah puluhan tahun bersama, meski baru beberapa hari resmi jadi suami-istri. Kabar tentang toko itu cepat menyebar. Tak lama, muncullah beberapa sepupu Safa yang dulu paling vokal mengomentari "murahnya" mahar sepuluh mayam. Mereka datang berkelompok, awalnya hanya untuk "melihat-lihat".
Safa yang
sedang menata rak menyambut mereka dengan senyum tulus.
"Eh,
masuklah… mau kopi? Gratis untuk keluarga."
Salah satu sepupu yang biasanya nyinyir, hanya
mengangguk singkat. Pandangannya menyapu ruko yang kini penuh pelanggan,
beberapa bahkan turis asing. Mereka duduk di sudut, memesan kopi, tapi diam.
Tak ada lagi sindiran di bibir, hanya sesekali saling pandang. Dalam hati,
mereka tahu — anak rantau Jawa yang mereka sebut tak jelas asal-usulnya ini,
ternyata lebih pandai memanfaatkan rezeki daripada banyak orang di keluarga
besar mereka yang bergaji ASN tapi masih mengeluh soal hutang. Sore harinya,
Abu dan Umi Safa datang ke toko. Melihat para sepupu itu duduk diam, Abu hanya
tersenyum tipis dan berkata:
"Drone
mandum… sampai matipun hana buet seumantap loen jih."
(Semua
orang… sampai mati pun tak akan mendapat menantu seperti menantu saya.)
Safa menunduk, menahan senyum. Aji yang sedang di
kasir berpura-pura sibuk menghitung uang kembalian. Mereka berdua tahu, balas
dendam terbaik bukan dengan kata-kata — tapi dengan membiarkan hasil kerja
keras berbicara sendiri. Dan hari itu, suara mesin penggiling kopi dan tawa
pelanggan jauh lebih nyaring daripada bisik-bisik yang dulu pernah menyakitkan.
Hari itu semua autlet dan toko toko saf & ji dibuka scara bersamaan dari
ujung ke ujung secara serempak, kecuali apotik yang belum dibuka karena menanti
apoteker yang merupakan sahabat aji belum tiba di hari itu, sementara dorsmeer
dan laundr sudah dibuka beberapa hari lebih awal. Beberapa bulan setelah toko Saf & Ji berjalan, hasilnya sudah jauh melampaui dugaan. Foto-foto kopi
gayo seduh manual mereka ramai diunggah oleh turis di Instagram. Bahkan, sebuah
akun kuliner nasional menulis review:
“Rasa
kopi yang jujur, kue yang penuh cerita, dan senyum yang bikin rindu Banda
Aceh.”
Tak lama,
sebuah undangan resmi datang dari Dinas Pariwisata Aceh:
Toko Saf &
Ji diminta ikut pameran kuliner dan UMKM di Jakarta. Semua biaya ditanggung
pemerintah daerah.Malam itu di ruang tamu, Aji menunjukkan surat undangan itu
kepada Abu dan Umi Safa. Abu menatapnya lama, lalu tersenyum bangga.
"Itulah…
kalau rezeki memang tak bisa dihalangi orang. Allah buktikan sendiri."
Kabar keberangkatan mereka cepat menyebar di keluarga
besar. Sepupu-sepupu yang dulu lantang menyepelekan kini berlomba memberi
“saran”, bahkan menawarkan diri untuk ikut “membantu”. Safa hanya tersenyum
sopan, menjawab seperlunya.
Di Jakarta, stand mereka jadi salah satu yang paling ramai. Kopi gayo seduh manual disajikan langsung oleh Aji, sementara Safa menjelaskan tentang kue tradisional Aceh dengan fasih. Banyak pembeli memuji keramahan mereka. Wartawan lokal mewawancarai, dan fotonya masuk di dua media nasional.
Setibanya di
Banda Aceh, poster besar acara itu terpampang di banyak tempat, termasuk foto
Aji & Safa. Beberapa kerabat yang dulu mengejek kini tak lagi berani bicara
lantang. Bahkan ada yang menulis status WhatsApp memuji keberanian anak muda
merantau.
Suatu sore,
Abu duduk di teras sambil menyeruput kopi buatan Aji. Ia berkata pelan:
"Lihat,
Ji… kalau waktu itu Abu minta tambah mahar, mungkin kamu tak jadi menikah
dengan Safa. Dan semua ini tak akan ada. Kadang, yang terlihat kecil di mata
manusia, justru besar di mata Allah."Aji terdiam. Safa yang duduk di
sampingnya menggenggam tangan suaminya erat. Mereka tahu, perjalanan ini baru
awal. Tapi satu hal sudah pasti — cerita sepuluh mayam itu kini jadi legenda,
bukan bahan ejekan.
Beberapa
minggu setelah pameran di Jakarta, Aji dan Safa mendapat undangan istimewa.
Bukan dari pemerintah, bukan pula dari media, tapi dari istana gubernur
Aceh.
Acara itu
bertajuk "Malam Apresiasi UMKM Unggulan Aceh" dan mereka diminta
hadir sebagai salah satu penerima penghargaan langsung dari Gubernur. Undangan
itu tercetak rapi, dengan lambang provinsi berwarna emas di bagian atasnya. Ketika
kabar ini sampai ke telinga keluarga besar, suasana mendadak berubah.
Sepupu-sepupu yang dulu paling nyinyir kini sibuk bertanya:
“Baju
apa yang kalian pakai nanti?”
“Butuh
diantar ke acara?”
“Kalau
mau, aku bisa bantu fotoin…”
Safa hanya
tersenyum sopan, mengucapkan terima kasih tanpa janji. Dalam hatinya, ia tahu
siapa yang benar-benar ada di pihak mereka sejak awal.
Malam itu, di gedung megah dengan lampu kristal yang
berkilau, Aji dan Safa duduk di barisan depan. Safa mengenakan kebaya Aceh
modern berwarna marun, sementara Aji tampil gagah dengan jas hitam dan peci. Saat
nama mereka dipanggil, tepuk tangan bergemuruh. Sang Gubernur memuji usaha
mereka yang memadukan cita rasa lokal dengan semangat inovasi anak muda. Media
memotret, kamera televisi menyorot. Foto-foto itu keesokan harinya beredar di
mana-mana — media online, koran cetak, bahkan baliho di beberapa titik kota.
Safa tak pernah mengunggah satu pun, tapi ia tahu semua kerabat sudah
melihatnya.
Puncak
penyesalan para sepupu datang saat lebaran Idul Fitri. Saat berkunjung ke rumah
Abu, beberapa di antara mereka berusaha mencairkan suasana:
“Eh Ji,
kemarin aku lihat fotomu sama gubernur… Hebat kali kau sekarang.”
“Saf,
kamu cocok betul jadi nyonya pengusaha.”
Aji hanya
tersenyum dan menjawab pendek,
"Alhamdulillah,
semua karena doa orang tua."
Abu yang duduk di kursi rotan sambil mengaduk kopi berkata pelan namun tajam:
"Makanya…
jangan cepat menilai orang dari mahar atau asal usul. Dunia ini berputar.
Kadang yang kita remehkan, malah jadi kebanggaan kita semua."
Hening
menyelimuti ruang tamu. Tak ada lagi yang berani membalas.
Dan untuk
pertama kalinya, cerita sepuluh mayam itu diceritakan dengan nada hormat —
bukan cemoohan.
Rahasia yang Tersimpan Bertahun-tahun
Hari kedua lebaran, suasana rumah Abu masih ramai.
Kerabat jauh dan dekat datang silih berganti. Di tengah hiruk-pikuk itu, salah
satu paman yang terkenal suka berkomentar pedas kembali menyinggung soal mahar.
“Kalau
kemarin Aji bisa bawa dua puluh atau tiga puluh mayam, tentu akan lebih
membanggakan. Apalagi Safa kan anak bangsawan…”
Kalimat itu terdengar di ruang tamu. Beberapa sepupu
tersenyum sinis. Safa yang duduk di samping Aji menggenggam tangan suaminya,
tapi kali ini ia melihat Abu perlahan meletakkan cangkir kopinya. Abu menatap
semua yang hadir. Nadanya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berat.
"Kalian
ingin tahu kenapa saya tidak menuntut mahar lebih dari sepuluh mayam?
Ruangan
hening. Semua pandangan tertuju padanya.
Abu mulai
bercerita.
Beberapa
tahun lalu, ketika ia dalam perjalanan pulang dari Pidie, mobil yang ia
kendarai mengalami kecelakaan parah. Barang bawaan yang ia bawa — tas berisi
uang ratusan juta untuk pembelian tanah — terlempar ke semak-semak.
Banyak orang
menolong, tapi tak seorang pun yang tahu keberadaan tas itu. Abu sudah pasrah,
menganggap uang itu hilang.
Dua hari
kemudian, seorang pemuda datang ke rumahsakit. Bajunya lusuh, wajahnya
sederhana. Ia menyerahkan tas itu utuh, tanpa mengambil sepeser pun. Pemuda itu
adalah… Aji.
“Abu, Umi, saya menemukan ini di pinggir jalan
waktu lewat. Saya kira penting. Saya cuma ingin mengembalikannya,” kata Aji
waktu itu.
Sejak hari
itu, Abu menaruh hormat yang luar biasa pada kejujuran Aji. Ia berkata kepada
Umi,
"Anak
ini benar benar luarbiasa, Abu berdo’a semoga anak kita berjodoh dengannya, Kalau
suatu hari anak ini melamar putri kita, berapa pun maharnya, akan saya terima.
Karena harga dirinya lebih mahal dari emas yang bisa kita hitung." Cerita
itu membuat ruangan terdiam. Beberapa bibi menunduk, para sepupu saling
pandang. Rasa malu menyusup ke wajah mereka.
Aji hanya
tersenyum kecil, Safa menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Abu menutup
dengan kalimat tegas,
"Jadi
jangan pernah bandingkan dia dengan menantu lain. Kalau kalian tahu nilainya,
sepuluh mayam itu tak ada artinya dibanding kejujuran."
Sejak hari
itu, tak ada lagi yang berani membicarakan mahar itu dengan nada merendahkan.
Cerita ini justru menjadi kebanggaan baru keluarga besar.
Siapa
sangka, menantu sederhana yang selama ini terlihat hanya menjual gorengan di
kedai tepi jalan, ternyata adalah seorang dokter lulusan dengan pujian. Lebih
dari itu, ia seorang pengusaha yang memiliki banyak toko, mengelola lini usaha
mulai dari kuliner, jasa, klinik kesehatan, hingga mini market modern.
Dialah anak
rantau yang dulu sering dihina karena hanya membawa mahar sedikit ketika
melamar gadis bangsawan Aceh. Namun, di atas semua prestasi dan
keberhasilannya, kisah kejujuran yang pernah dirasakan langsung oleh seorang
tua—yang kini menjadi mertuanya—adalah catatan paling membanggakan dalam
hidupnya.
Gadis cantik
berkulit putih kuning, berhidung mancung, dengan garis keturunan Eropa-Arab,
kini menjadi pendamping setia dalam mengayuh biduk rumah tangga yang mereka
bangun di atas pondasi yang paling kokoh—kejujuran. Sebuah pondasi yang membuat
setiap badai terasa lebih ringan, dan setiap langkah terasa lebih pasti.
Sejak itu,
kisah tentang mahar sepuluh mayam bukan lagi bahan olok-olok. Ia berubah
menjadi legenda kecil di keluarga itu—sebuah cerita yang akan diceritakan ulang
pada setiap pertemuan keluarga, bukan sebagai aib, tapi sebagai pelajaran.
Karena orang
akhirnya mengerti, bahwa harta bisa habis, jabatan bisa hilang, dan kemewahan
bisa pudar. Tapi kejujuran? Ia akan bertahan seumur hidup, dan nilainya melampaui
emas yang ditimbang atau mayam yang dihitung.
Di teras rumah Teungku Hasan, suatu sore, beliau
tersenyum melihat menantunya pulang bersama putrinya. Di mata sang mertua, ia
bukan lagi “anak rantau dari Jawa yang hanya bawa sepuluh mayam.” Ia adalah
lelaki yang mengembalikan ratusan juta tanpa diminta, lelaki yang memegang
janji seteguh genggaman tangan di hari ijab kabul, lelaki yang membawa putrinya
bukan hanya ke rumah baru, tapi ke hidup yang aman dan terhormat. Dan di balik
segala cemooh yang dulu pernah menimpa, kini tersisa satu kalimat yang selalu
diulang Teungku Hasan pada setiap yang berani membanding-bandingkan:
“Sepuluh
mayam itu tak seberapa. Kejujuran itu tak ternilai.”
Banda Aceh 10 September 2025
Saleh sibujangjauh



.png)










.png)

.png)









